Minggu, 16 April 2017

PERLINHUT - PENGARUH TOPOGRAFI PADA KECEPATAN PENJALARAN API KEBAKARAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kebakaran dalam hutan dapat terjadi bila sedikitnya tersedia tiga komponen yaitu bahan bakar, oksigen atau udara, dan penyalaan api. Seluruh komponen tersebut sebagi bahan bakar, baik sendiri maupun secara komulaif, ditentukan oleh jumlah, kondisi terutama kadar airnya dan penyebaran dalam hutan. Kebakaran terjadi apabila ada setidaknya tiga faktor penentu, yaitu bahan yang dapat terbakar (materials), sumber api (ignition), dan zat asam (oksigen) yang bertemu atau berinteraksi dalam proses pembakaran. Bagaimanapun keringnya kayu dan bahan organis lainnya bila tidak ada sumber api, tentunya kebakaran hutan masih dapat dihindari (Ahmad 2008).
Bahan Bakar (Pohon, rumput, dan semak) dapat terbakar bila tersedia udara dan panas yang cukup. Tiga unsur tersebut biasa disebut “segitiga api”. Bila tiga unsur segi tiga api tersebut tidak tersedia secara lengkap, api tidak dapat membakar. Harus ada panas yang cukup untuk menyulut bahan bakar misalnya: panas dari korek api, batubara, api bekas memasak, dari kendaraan,dari chainsaw, dari puntung rokok dan lain-lain. Dan harus ada udara (oksigen) untuk dapat terbakar, tanpa ada udara sedikitpun api tidak akan hidup (Young and Giese 1991).
Pohan (1984) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa semakin curam lereng tidaklah menunjukkan semakin cepat api menjalar, akan tetapi pada kondisi kemiringan yang sedang (25%) api menjalar paling cepat. Untuk kemiringan 0% dan 15 % masih terlalu sedikit angin yang mempengaruhi kebakaran atau hanya bagian bawah angin saja yang berpengaruh permukaan kebakaran dan untuk kemiringan yang terlalu curam (45%) permukaan lereng dapat menghambat angin. Oleh karena itu, pada kemiringa 25% merupakan kondisi yang baik bagi angin untuk memindahkan panas dan mensuplai oksigen.


Faktor – faktor topografi yang penting meliputi: aspek, elevasi, daerah curam, tebing dan jeram. Kelerengan mempengaruhi penjalaran api, sifat – sifat dari nyala api dan perilaku api lainnya. Dalam hal ini kelerengan berpengaruh terhadap sudut nyala api (Weise and Biging 1996). Hasil penelitian Weise and Biging (1996) menunjukkan rata – rata sudut nyala api berkisar antara -39,5° untuk kelerengan 30%  kearah bawah hingga 13,5° untuk kelerengan 30%  kearah bawah tanpa adanya pengaruh angin.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh berbagai kemiringan lereng pada laju penjalaran api kebakaran.


BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
·      Lidi
·      Penggaris
·      Korek api
·      Alat pengukur waktu
·      Penyangga berupa kincir

2.2  Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum kali ini yaitu :
·         Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan.
·         Mengukur panjang lidi awal.
·         Mengatur posisi bahan bakar ( lidi ) di penyangga pada berbagai kemiringan. Posisi kemiringannya yaitu pada 0º, 45º, 90º, 135º, dan 180º.
·         Menyulut lidi dengan korek apai dan mencatat waktu penjalaran api hingga apinya padam.
·         Mengukur kembali panjang lidi setelah proses pembakaran atau penjalaran api.
·         Mengulangi langkah yang sama pada setiap posisi kemiringan hingga tiga kali pengulangan.
·         Mencatat hasil praktikum pada tabel yang telah ada.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel 1 Hasil Pengamatan Laju Penjalaran Api Pada Posisi Lidi yang Berbeda
Posis Lidi
( 0 )
Lama Api Padam
(Detik)
Panjang Lidi Terbakar (cm)
Laju penjalaran (cm/detik)
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
0
30,51
20,64
24,99
25,38
0,6
0,6
0,5
0,56
0,022
45
28,32
44,61
34,81
35,91
0,3
0,7
0,3
0,43
0,012
90
28,90
44,11
37,80
36,93
0,6
0,7
1
0,76
0,020
135
22,68
31,52
24,15
26,11
0,2
1,5
1,1
0,93
0,035
180
42,14
117,60
57,04
72,26
11,4
11,2
11,1
11,23
0,155


Grafik 1 Laju penjalaran api terhadap posisi batang lidi

 
3.2 Pembahasan
Praktikum ini dilakukan pengujian tentang pengaruh topografi pada kecepatan penjalaran api kebakaran. Prinsipnya yaitu untuk mengetahui pengaruh berbagai kemiringan lereng pada laju penjalaran api kebakaran. Bahan yang digunakan adalah batang lidi yang ditopang oleh besi penyangga yang dapat membentuk sudut lingkaran 3600. Sudut yang digunakan adalah sudut 00, 450, 900, 1350, dan 1800. Masing-masing sudut diberi perlakuan tiga kali percobaan dan diambil nilai rata-ratanya untuk keakuratan data. Aspek yang diukur dalam percobaan ini adalah lamanya api padam(detik) dan panjang lidi terbakar (cm) dengan hasil akhir adalah laju penjalaran api (cm/detik). Percobaan-percobaan  yang dilakukan tersebut menghasilkan laju penjalaran api yang diberi perlakuan topografi 1800 lebih laju penjalaran apinya dari pada perlakuan topografi yang lainnya. Laju penjalaran api pada sudut 1800 dengan tiga kali percobaan yaitu 0,155 cm/detik, disusul oleh sudut 1350 dengan laju penjalaran apinya yaitu 0,035 cm/detik, selanjutnya disusul oleh sudut 00 dengan laju penjalaran 0,022 cm/detik dan sudut 900 dengan laju penjalaran 0,020 cm/detik, dan yang terakhir adalah sudut topografi 450 dengan laju penjalaran 0,012 cm/detik. Hasil ini menunjukkan bahwa pada sudut 1800 laju penjalaran api sangat cepat karena faktor angin. Pada kondisi ini angin sangat leluasa mempengaruhi api, suplai oksigen sangat mendukung terjadinya proses pembakaran yang sempurna. Kondisi ini memudahkan api menghantarkan panas kebahan bakar, terlebih lagi arah peregerakan api yang di pengaruhi oleh angin mengarah keatas atau melawan arah gravitasi bumi, sehingga bahan bakarnya mudah terbakar dengan cepat. Begitu juga dengan kondisi sudut topografi 1350 faktor angin juga sangat berpengaruh pada kondisi ini dengan kepala api mengarah keatas, sehingga mempercepat laju pembakaran. Laju penjalaran terendah berada pada  posisi 450. Hal ini disebabkan karena faktor angin kurang mendukung. Penjalaran api lebih dominan kearah atas, sehingga memperlambat penghantaran panas ke bahan bakarnya dan penghambat laju penjalaran apinya. Faktor lain yang mempengaruhinya yaitu waktu penyuluran api, api belum menyala secara normal sehingga api mudah padam.
Pohan (1984) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa semakin curam lereng tidaklah menunjukkan semakin cepat api menjalar, akan tetapi pada kondisi kemiringan yang sedang (25%) api menjalar paling cepat. Untuk kemiringan 0% dan 15 % masih terlalu sedikit angin yang mempengaruhi kebakaran atau hanya bagian bawah angin saja yang berpengaruh permukaan kebakaran dan untuk kemiringan yang terlalu curam (45%) permukaan lereng dapat menghambat angin. Oleh karena itu, pada kemiringa 25% merupakan kondisi yang baik bagi angin untuk memindahkan panas dan mensuplai oksigen. Hasil penelitian Pohan tersebut tidak sesuai dengan hasil praktikum yang dilakukan, pada hasil praktikum yang dilakukan laju penjalaran api yang paling cepat adalah pada sudut topografi 1800. Hal ini diduga karena metode yang dilakukan berbeda.



BAB IV
KESIMPULAN
 4.1 Kesimpulan
            Laju penjalaran api sangat ditentukan oleh faktor lingkungan, salah satunya adalah faktor topografi. Dalam prakteknya laju penjalaran api pada sudut 1800 sangat cepat dibandingkan dengan sudut yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh angin terhadap penjalaran api dan kepala api menjalar ke atas.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad ST.2008. Pengaruh Data Hotspot untuk Minotoring Kebakaran Hutan. Medan (ID) : USU Repasitory.
Pohan ZR. 1984. Pengaruh Berbagai Kecepatan Angin dan Kemiringan Lereng Terhadap Kecepatan Menjalarnya Api [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Young RA, Giese RL. 1991. Introduction to Forest Fire. Toronto Canada (CA) : John Wiley and Sons Inc.



TUGAS PENGANTAR MANAJEMEN - MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga tugas ini dapat diselesaikan oleh penulis. Tugas ini telah kami susun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Manajemen. Penulis mengucapkan kepada Ibu Dedeh yang telah bersedia menjadi narasumber tugas Pengantar Manajemen “Manajemen Sumberdaya Manusia di Cappucino Cincau Starbooth, Babakan Tengah”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wonny Ahmad Ridwan selaku dosen mata kuliah Pengantar Manajemen. Kami menyadari dalam penyusunan tugas masih ada kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu mohon kritik dan saran yang membangun.


Bogor, 20 April 2016
Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Salah satu sumber daya yang penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia atau human resources. Pentingnya sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi. Menurut Buchari Zainun (2001) manajemen sumber daya manusia merupakan bagian yang penting, bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia atau manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri. Dalam suatu organisasi bisnis, diperlukan manajemen pengelolaan bisnis yang dapat menunjang operasional organisasi dalam menghadapi tantangan-tantangan dan dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Salah satunya melalui peningkatan kompetensi dan peran dari fungsi Sumber Daya Manusia (SDM) yang merupakan “jiwa” (soul) dari organisasi. Banyak perusahaan memberi porsi tugas, tanggung jawab, dan kewenangan fungsi SDM belum sampai pada tahapan menjadi mitra strategis bagi perusahaan (Majalah Swa Sembada 2008). Salah satu faktor dominan penyebabnya adalah kurangnya pemahaman, baik manajemen perusahaan maupun manajer yang bertanggung jawab dalam fungsi SDM mengenai peran manajemen SDM (MSDM) di dalam organisasi. 
Dalam mempelajari lebih lanjut tentang manajemen sumberdaya manusia diperlukan survei lapang yang riil dalam dunia usaha. Sebagai contoh, kami mengunjungi usaha Capucino Cincau Starbooth yang berada di Babakan Tengah Kecamatan Dramaga Bogor dalam upaya mempelajari manajemen sumberdaya manusia.

1.2         Tujuan
Mempelajari manajemen sumberdaya manusia dalam kaitannya didunia usaha.


1.3          Ruang Lingkup
Waktu    : 20 April 2016
Tempat   : Cappucino Cincau Starbooth Babakan Tengah.
Bahasan : Mengetahui manajemen sumberdaya manusia di UMKM Capucino Cincau Starbooth Babakan Tengah.

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam mempelajari manajemen sumberdaya manusia kami mengambil contoh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu Cappucino Cincau Starbooth. Usaha ini bergerak dibidang minuman dalam kemasan. Cappucino Cincau Starbooth berlokasi di Babakan Tengah. Cappucino Cincau Starbooth menawarkan delapan variasi rasa, yaitu vanilla, cokelat, taro, capuucino, green tea, leci, strawberry, dan moka. Usaha ini dimiliki oleh Ibu Dedeh dan sudah memiliki empat orang karyawan. Segmen pasar dari Cappucino Cincau Starbooth adalah kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Akan tetapi segmen pasar lebih didominasi oleh kalangan mahasiswa.
Manajemen yang diterapkan oleh UMKM Cappucino Cincau Starbooth adalah dengan sistem kendali dipegang oleh pemilik usaha dan dibantu oleh karyawan. Sistem perekrutan karyawan yang dilakukan UMKM ini dengan cara melamar secara langsung ke UMKM tersebut. Kriteria karyawan yang akan diterima oleh pemilik harus memiliki sifat jujur, memiliki pengalaman kerja, dan bertanggung jawab. Setelah itu, pemilik usaha akan melakukan pelatihan langsung kepada karyawannya melalui praktek kerja di usaha ini. Dalam monitoring dan evaluasi kinerja para karyawannya, pemilik usaha mengawasi karyawan secara berkala terhadap kinerja karyawannya dan memberikan arahan apabila karyawan melakukan kesalahan.
           

Orientasi dan pemutusan kerja dalam usaha ini adalah secera kekeluargaan. Pemilik usaha akan mempertahankan karyawannya jika memiliki kinerja yang baik. Seperti mampu bekerja secara ulet, gigih, dan jujur. Tetapi apabila karyawannya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai budaya yang diterapkan dalam usaha ini yakni sikap jujur, gigih, dan bertanggung jawab, maka pemilik usaha akan mengambil langkah tegas dalam bentuk pemutusan hubungan kerja. Demi mencapai tujuan usaha yaitu mampu maju dalam persaingan dunia usaha, langkah perencanaan kedepan dan pengembangan karir yang dilakukan oleh usaha ini adalah dengan membuka cabang di berbagai daerah, berinovasi terhadap produk yang ditawarkan, dan melakukan pelatihan soft skill kepada karyawannya. Dalam hubungan sosialnya  kepada masyarakat (CSR), UMKM Cappucino Cincau Starbooth ini memberikan sumbangan melalui RW setempat untuk digunakan dalam membantu pembuatan rumah warga. Selain itu juga membuat pelebaran jalan umum disekitar tempat usahanya.

           
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Manajemen sumberdaya organisai dalam studi kasus UMKM Cappucino Cincau Starbooth Babakan Tengah sepenuhnya belum dapat dikatakan baik. Dalam pelaksanaan manajemen sumberdaya organisasinya UMKM Cappucino Cincau Starbooth ini belum menerapkan perkiraan resiko kedepan terhadap usaha yang dijalaninya. Hanya saat ini usaha Cappucino Cincau Starbooth telah menerapkan sistem perekrutan karyawan secara internal, memberikan pelatihan kepada karyawannya, mengadakan CSR kepada masyarakat setempat, dan perencanaan usaha jangka panjang.

3.2 SARAN
            Hendaknya pihak Departemen menginstruksikan tugas secara jelas dan diterangkan oleh Dosen pengajar, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penafsiran tugas yang akan dikerjakan.


DAFTAR PUSTAKA

Kuswanto S, Mangkuprawira S, Djohar S, Hermawan A. 2010. Peran MSDM strategik dalam pengembangan perusahaan : studi kasus pada perusahaan industri Petrokimia. Jurnal Manajemen dan Organisasi. Vol 1 (3). Hal 162-170.




LAPORAN PERLINDUNGAN HUTAN PENGUJIAN KEKOMPAKAN BAHAN BAKAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran yang terlanjur besar sangat sulit dipadamkan sekalipun menggunakan peralatan pemadam berteknologi tinggi. Api hanya padam setelah bahan bakar habis. Chandler (1983) mengatakan bahwa pengetahuan sumber api merupakan faktor kunci dalam meningkatkan keberhasilan pencegahan kebakaran. Bila sumber-sumber penyebab kebakaran diketahui maka akan mudah dilakukan kegiatan. Peristiwa kebakaran pada umumnya sangat sulit dibuktikan karena selalu dimulai dengan adanya api kecil yang berawal dari kelalaian pengguna api rutin saat pembakaran lahan, peristiwa yang bersifat insidentil seperti pembakaran akibat tujuan kriminal, puntung rokok, dan peristiwa alam. Data hotspot dari citra satelit NOAA-AVHR dapat menunjukkan kejadian kebakaran di suatu tempat, tetapi belum bisa menentukan profil manusia mana yang menjadi pemicu insiden kebakaran tersebut (Akbar 2011).
Masalah kebakaran hutan dan lahan sangat dipengaruhi oleh kondisi bahan bakarnya. Kondisi bahan bakar yang mempengaruhi kecepatan menjalarnya api yaitu kelembaban, ukuran dan kesinambungan bahan bakar. Ukuran bahan bakar ada kaitannya dengan kelakuan sifat kebakaran yang terjadi. Bahan bakar yang halus yaitu bentuk daun, rumput dan serasah akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, mudah mengering, namun mudah pula menyerap air. Karena cepat kering apabila terbakar cepat meluas, namun cepat pula padam. Api akan semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar semakin besar. Bahan bakar kasar, kadar air yang terkandung lebih stabil, tidak cepat mengering, sehingga sulit terbakar. Namun, apabila terbakar akan memberikan penyalaan api lebih lama (Purbowaseso, 2004).
Selain itu, ukuran bahan bakar juga dapat mempengaruhi kecepatan menjalarnya api. Bahan bakar yang ringan akan lebih cepat menjalarnya dibandingkan dengan yang berat. Contoh bahan bakar ringan seperti daun-daunan, rerumputan, semak-semak ringan, sedangkan contoh bahan bakar berat, seperti tonggak bekas penebangan batang-batang pohon yang tertinggal dihutan, serta cabang-cabang pohon. Bahan bakar yang besar akan lebih lambat menjalarnya (Purbowaseso 2004).

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menguji pengaruh kekompakan dan ukuran bahan bakar terhadap proses pembakaran.


BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
·      Balok Kayu ( 3 kali ulangan )
·      Serutan Kayu 20 gram ( 3 kali ulangan )
·      Kaki Tiga
·      Kawat
·      Pinset
·      Korek Api
·      Alat Pengukur waktu ( stopwatch )
·      Bunsen
·      Timbangan Analitik

2.2 Prosedur Kerja
a.       Letakan satu balok kayu pada kawat kassa yang sudah dirangkai dengan kaki tiga. Kemudian nyalakan pembakar Bunsen hingga lidah api menyentuh balok tersebut. Hitung berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai balok tersebut terbakar. Setelah terbakar, pindah atau geser pembakar bunsen dari balok kayu. Hitung lama waktu nyala api yang membakar balok. Setelah api padam, amati sisa-sisa pembakaran (berapa % balok kayu habis terbakar oleh api). Langkah ini dilakukan sebanyak tiga kali ( sebanyak jumlah).
b.      Timbang serutan kayu dengan timbangan analitik sebanyak dua puluh gram. Letakan serutan pada kawat kassa yang sudah dirangkai dengan kaki tiga. Kemudian nyalakan pembakar Bunsen hingga lidah api menyentuh serutan tersebut. Hitung berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai serutan kayu tersebut terbakar. Setelah terbakar, pindah atau geser pembakar bunsen dari serutan . Hitung lama waktu nyala api yang membakar serutan. Setelah api padam, amati sisa-sisa pembakara. Langkah-langkah ini di ulangi sebanyak tiga kali sesuai jumlah.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel 1 Hasil Pengamatan Uji penyalaan pada balok dan serutan kayu
Jenis Ukuran Bahan Bakar
Ulangan
Lama waktu penyulutan hingga BB menyala
Lama Penyalaan
Persen terbakar
Tinggi api
Balok kayu
1
10,84 detik
45,24 detik
75 %
6,5 cm
2
14,95 menit
48,24 detik
65%
8,5 cm
3
12,88 menit
45,01 detik
50%
6,5 cm
Serutan kayu
1
5,05 detik
1,45 menit
100%
55 cm
2
6,03 detik
2,49 menit
100%
45 cm
3
5,81 detik
1,45 menit
100%
50 cm


3.2 Pembahasan

            Menurut Purbowaseso (2004) ukuran bahan bakar sangat mempengaruhi mudah tidaknya bahan bakar tersebut dapat terbakar. Adapun  karakteristik  dari  bahan  bakar  tersebut  yaitu, ukuran bahan bakar (bahan bakar ringan dan bahan bakar kering), penyusunan bahan bakar, jumlah bahan bakar, tipe bahan bakar, kekompakan bahan bakar, dan kondisi bahan bakar. Pada praktikum kali ini akan dibandingkan kekompakan bahan bakar berupa balok kayu dan serutan kayu. Setelah melakukan praktikum didapat data seperti pada table hasil praktikum, bahwa pada balok kayu semakin tebal balok kayu makan waktu yang dibutuhkan untuk membakarnya semakin lama. Hal tersebut sesuai yang dijelaskan Purbowaseso 2004.
Ukuran bahan bakar ada kaitannya dengan kelakuan sifat kebakaran yang terjadi. Bahan bakar yang halus yaitu bentuk daun, rumput dan serasah akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, mudah mengering, namun mudah pula menyerap air. Karena cepat kering apabila terbakar cepat meluas, namun cepat pula padam. Api akan semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar semakin besar. Pada bahan bakar kasar, kadar air yang terkandung lebih stabil, tidak cepat mengering, sehingga sulit terbakar. Namun, apabila terbakar akan memberikan penyalaan api lebih lama (Purbowaseso 2004).  Dalam praktikum ini balok kayu yang dibakar memiliki volume  ± 12 cm3, sementara serutan kayu beratnya ± 20 gr.  Dari ukuran ke dua jenis bahan bakar ini yang paling cepat menyala adalah serutan kayu. Dimana dalam 3 kali pengujian didapat data persenan terbakarnya berturut-turut adalah 100%. Sementara untuk balok kayu persenan terbakarnya dari 3 kali percobaan berturut-turut hanya 75%. 65%, dan 50%. Percobaan ini sesuai dengan teori Purbowaseso yang mengatakan ukuran bahan bakar sangat mempengaruhi proses pembakaran. Semakin halus bahan bakar api semakin mudah meluas dan cepat padam, semakin tebal bahan bakar maka semakin sulit terbakar, dan jika terbakar akan memberikan penyalaan api lebih lama. Tetapi pada teori Purbawaseso Semakin halus bahan bakar api semakin mudah meluas dan cepat padam, semakin tebal bahan bakar maka semakin sulit terbakar, dan jika terbakar akan memberikan penyalaan api lebih lama. Ini tidak terbukti di praktikum ini, rata-rata lama penyalaan serutan kayu mencapai 2 menit-an, sedangkan rata-rata lama penyalaan balok kayu hanya 45 detik. Hal ini diduga karena perbedaan jumlah massa balok kayu dan serutan kayu yang berbeda. Hal ini sesuai yang diungkapkan Purbawaseso (2004) tentang karekteristik bahan bakar yaitu salah satunya adalah jumlah bahan bakar.
Lama penyulutan api terhadap ke dua bahan bakar tersebut juga berbeda. Rata-rata lama penyulutan api pada balok kayu percobaan adalah 12,89 detik, sedangkan rata-rata lama penyulutan api  pada serbuk kayu adalah 5,63 detik. Hal ini sesuai dengan teori  Purbawaseso yang mengatakan semakin tebal bahan bakar semakin sulit untuk dibakar. Dilihat dari kekompokan bahan bakarnya balok kayu memiliki kekompakan yang paling tinggi karena api hanya dapat membakar sampai 63% saja. Kekompakan bahan bakar kayu akan mempengaruhi pasokan partikel udara ke bahan bakar yang menyebabkan mudah tidaknya udara menembus partikel bahan bakar sebagai faktor penyala api.



BAB IV
KESIMPULAN
 4.1 Kesimpulan
Dalam proses pembakaran, karekteristik bahan bakar sangat mempengaruhi terjadinya proses pembakaran. Karekteristik bahan bakar yang tebal memiliki kekompakan yang lebih besar jika dibandingkan dengan bahan bakar yang tipis dan kecil. Bahan bakar yang memiliki kekompakan yang tinggi akan sulit terbakar namun apabila terbakar akan memberikan penyalaan api yang lama, sedangkan bahan bakar yang tipis akan mudah terbakar dan memberikan nyala api yang sebentar.




DAFTAR PUSTAKA

Akbar C, Sumardi, Hadi R, Purwanto, Sabrudin SM. 2011. Studi sumber penyebab terjadinya kebakaran dan respon Masyarakat dalam rangka pengendalian kebakaran hutan gambut di areal Mawas Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol 8 (5). Hal 287-300.

Chandler, Cheney G P, Thomas L, Trabaud L, and Williams D. 1983. Forest Fire Management and Organisation. New York (US) : A Wiley-Intersciense Publicatgion  JohnWiley&Sons.

Purbowaseso B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification
Downloaded from Free Templates