Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 April 2017

CERPEN LINGKUNGAN - PROTES MATAHARI

 Protes Matahari
Oleh : Fathur Rahman


Sumber : www.bintang.com

Penyebab dan akibat kebakaran hutan
Negeri nan elok dulu indah di pandang mata. Alamnya membentang nun di tengah-tengah pulau Sumatra. Negeri nan elok itu banyak menyumbang devisa Negara. Hasil alamnya melimpah ruah, mulai dari minyak bumi sampai suburnya hutan tropika dan kelapa. Kini negeri nan elok itu sedang merana. Menyesali perbuatan yang sirna. Kalau sudah begini ingin menyalahkan siapa?.

*******

Cahaya dibalik kegelapan itu datang lagi. Menyapa dengan senyum tipis namun tak seperti orang ramah yang baru kenal. Mencoba menyusup namun  sama sekali tak mirip tentara di medan perang. Melainkan lebih mirip seekor anjing pemburu yang letih, lidahnya menjulur, nafasnya terengah-engah dalam menerebos hutan rimba. Cahaya itu sepertinya merasa bosan menyinari alam ini dengan perlakuan yang ia dapatkan.
“Anggi ayo bangun! Sudah adzan subuh, ayo sholat dek!” Teriak Kakak dari ambang pintu kamar.
“Hhuaaahh, iya kak sebentar lagi.” Jawabku meminta tambahan waktu.
Kakakku, yang menjunjung tinggi nilai kedisiplinan itu berkata lagi. “Ayolah, itu Mas mu sudah menunggu untuk sholat berjamaah.”
Aku yang tadinya tidak menyadari kalau Kakak sudah di dekatku, akhirnya menurut. “Iyaa kak, iya”. Lalu Aku mencoba bangun.
Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari kamar Rafif. Dalam benakku, ngapain sih subuh-subuh begini anak ini batuk. Setelah sempat menggerutu, Aku bergegas berwudhu lalu sholat berjamaah.
Setelah sholat subuh, sesuai rencana, Aku lari pagi di sekitar gang rumah sebelum berangkat ke sekolah. Kebiasaan ini sudah ku lakukan kelas 2 SMP.

*******

Menanti sang fajar memang hal yang membahagiakan bagi penikmat lari pagi sepertiku. Mulai dari menikmati udara yang bersih, semilir angin nan sejuk, sampai cahaya mentari yang baik bagi kesehatan. Tapi yang paling mengesankan bagiku adalah saat-saat menikmati indahnya kemerahan cahaya sang fajar yang mengintip dari ufuk timur dengan tebaran senyumnya. Namun entah mengapa, pagi ini terasa amat berbeda. Peristiwa ini seperti yang pernah terjadi sekitar setahun yang lalu.
“Aduh, kabut lagi kabut lagi. Sampai kapan sih harus begini, seperti ujian semester aja yang sudah terjadwal heh.” Guman ku.
Sambil berlari kecil, Aku menghampiri Kak Iyun yang sedang menyapu teras depan rumah. Saat ini Aku tinggal bersama Kak Iyun kakak sepupuku, untuk melanjutkan sekolah SMA.
“Kak, kabut asap lagi, kak?”
“Iya Nggi, kalau musim kemarau ya sudah biasa seperti ini. Itu saja Rafif sudah batuk-batuk. Sudah. sarapan dulu sana! Mandi! Terus berangkat sekolah!”
“Iya kak.” Jawabku.

*******

Kabut asap memang menjadi langganan daerah ini, datangnya bagaikan sudah terjadwal di kalender-kalender. Aku tahu karena keserakahan manusialah hal ini terjadi. Keserakahan tanpa didasari dengan hati nurani. Keserakahan untuk memperkaya diri sendiri, bagaikan seekor babi yang memakan kotorannya kembali.
Pernah suatu ketika aku bertanya-tanya apa sebenarnya motif pembakaran hutan ini? Apa keuntungannya? Namun teka-teki itu baru terjawab setelah sekian lama terbenam dalam benakku. Jawaban itu ku temukan secara tak sengaja ketika aku pulang ke kampung untuk liburan akhir semester.
Di dalam perjalanan pulang di tengah-tengah kabut asap Aku melihat gumpalan asap tebal mengiringi perjalananku dari arah barat. Tak lama kemudian Aku singgah di sebuah warung kecil di tepi jalan untuk mengisi bensin motorku. Karena SPBU sangat jauh dari tempat ini, maka pedagang eceran bensin banyak bertabur. Secara bersamaan seorang pria juga mengisi bensin bersama anak laki-laki yang masih remaja mengendarai motor dengan pakaian yang kotor,  sepertinya  oleh arang pembakaran.
“Dari mana pak?” sapaku sambil melirik sepatu ladangnya yang kotor.
“Dari ladang, dek.” Jawab pria itu.
“Bapak berladang dimana?”
“Tidak  jauh dari sini, dek.” Jawabnya lagi sambil menunjuk ke arah timur. Di sana terlihat masih banyak hutan yang di kepuli asap tipis yang sepertinya habis terbakar.
“Bapak yang punya lahan terbakar itu?” Tanya ku lagi.
“Iya, tadi saya coba bakar untuk membersihkannya, tapi apinya malah makin membesar. Makanya saya coba untuk memadamkannya, kalau kena lahan tetangga kan repot.”
“Kenapa mesti di bakar pak...?”
“Biar cepat aja membersihkan lahannya, lagian ini sudah masuk musim berladang, Cuma kemarau tahun ini panjang.”
“Ooo” jawabku, “oh iyalah pak, semangat aja.....”
Sejak saat itu perbincangan kami berhenti. Dalam benakku Aku berpikir, oo pantas saja kabut asap setiap tahunnya selalu ada, karena motif inilah yang menjadi penyebabnya. Bayangkan saja perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di bidang perkebunan yang membakar hutan dengan cara yang singkat di musim kemarau. Berapa banyak luasan hutan yang habis terbakar?

*******

Besarnya potensi bumi melayu itu sebagai lahan yang cocok untuk di tanami sawit membuat banyak perusahaan mulai mengembangkan sayapnya di tanah itu. Perusahaan itu  datang bagaikan singa kelaparan yang memakan habis hasil buruannya lalu membiarkan tulang belulang buruannya itu tercecer di jalan yang sempit diantara celah pohon yang berduri sehingga membuat petani kecil kesulitan untuk melewatinya.
Tanpa adanya rasa tanggung jawab, perusahaan-perusahaan itu dengan kecam membakar hutan itu lalu menyisakan penderitaan bagi masyarakat setempat. Bahkan ironinya akibat ulah mereka hubungan negara kita dengan negara tetangga jadi terganggu. Cuaca di musim kemarau menyebabkan proses El nino dan membuat siklus angin membawa produksi asap dari daerah ini ke negara tetangga sehingga terjadi pencemaran udara.

*******

 “Hai Gung apa kabar?” Sapaku saat bertemu Agung di gerbang sekolah. “Sudah lama tidak ketemu semenjak liburan.”
“Haha, kamu kangen sama aku, ya?”
“Iihh siapa juga yang kangen. Ayo ke kantin serapan dulu”
“Ayo-ayo”
“Eh, kira-kira Buk Afrida masuk ngak hari ini ya?” tanya Agung membuka percakapan setelah sejak dari pintu gerbang kami saling diam.
“Memangnya kenapa Gung?”
“Malas ih, sekolah. Kabut asap begini, enaknya libur.”
“Eeehhh, percuma aja kamu libur, memangnya kamu mau kemana? Kita ini sudah di kepung kabut asap. Dimana-mana kan kabut asap. Mendingan kita belajar bareng, sebentar lagi kan Ujian Nasional.”
“Ya di rumah lah, main game kan seru. Ngecas semangat dulu, hehe”

*******

Banyak kerugian akibat kabut asap ini. Sulitnya mencari udara bersih, proses pendidikan terganggu. Banyak warga yang berobat ke rumah sakit karena mengidap ISPA. Paling menyedihkannya lagi kabut asap ini memberikan kejutan di tengah kami melaksanakan Try out untuk persiapan Ujian Nasional.
“Eh Nggi,” sapa Fiqron di hari pertama Try Out. “Gimana persiapan Try Outnya? udah belajar belum?”
“Belum fiq” jawab ku. “Baru sedikit persipannya. Tadi malam Aku menemani Rafif di rumah sakit. Dia demam, batuk-batuk. Kamu gimana persipannya?”
“Sama, Nggi. Belum banyak juga persiapannya. Eeehh, kamu tau ngak tadi malam Agung kalah main PS sama aku. Hahaha akhirnya aku bisa mengalahkannya sesuai janjiku.”
“Walah, kok kalian main gak ngajak?”
“Kan kamu menemani adik kakakmu katanya di rumah sakit. Ya udah deh nanti pulang Try Out kita main lagi ok. Ayo-ayo masuk ke kelas ibuknya sudah datang.
Aku, Agung, Fiqron memang teman akrab dari kelas 1 SMA,  selalu main bersama, belajar bersama. Rasanya di akhir masa sekolah ini, Aku semakin tidak merelakan perpisahan ini terjadi.
“Anak-anak pagi ini kita akan melaksanakan Try Out untuk persiapan Ujian Nasional kalian. Ibuk harap kalian serius mengerjakannya, anggap ini Ujian Nasional benaran.” Kata Buk Afrida sambil membagikan soal.
Aku melihat teman-temanku rata-rata memakai masker. Tebalnya kabut asap membuat mata perih. Asap yang terhirup rasanya tidak sedap dan berbau. Pakaian juga berbau. Dalam benakku aku berfikir ya mana bisa fokus mengerjakannya, ditambah lagi pencahayaan lampu di ruang kelas tidak ada. Nafas semakin sesak mata pun semakin perih.
Secara tiba-tiba, terdengar teriakan Buk Afrida dari ambang pintu, “anak-anak kita cukupkan saja ujiannya sampai di sini, sekarang kalian pulang, jangan berkaktivitas di luar rumah dan jaga kesehatan kalian. Ibuk dapat pesan dari kepala sekolah kita diliburkan sementara selama 3 hari kedepan.”

******

Asiik liburrrr, terdengar suara bisikan teman-teman sekelas, ayo pulang yuk!
Kebahagian mendengar berita libur itu rupanya sangat di nanti-nantikan oleh teman-teman sejak awal kabut asap ini. Maklum masih dalam masa pancaroba.
Dalam perjalanan pulang menuju ke gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar terikan memanggil namaku. “Anggi, Anggi. Tunggu..!!”
Rupanya  itu suara Agung dan Fiqron sambil berlari mengejarku dari belakang.
“Eh Nggi, pulang bareng yuk!” Ajak Fiqron.
“Eh kalian,ayuk-ayuk mari” jawabku.
Di dalam perjalanan sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat Agung memulai percakapan.
“Kalian memangnya gak terganggu dengan kabut asap ini yang datang setiap tahun? Banyak lo yang di rugikan akibat kabut asap ini, kita sering di liburkan sekolah, mata kita perih jika melihat, nafas sesak akibat menghirup udara yang kotor, banyak teman-teman kita yang sakit, sementara ini mau Ujian Nasional lagi.”
“Jujur Gung aku sangat merasa tersiksa, karena perbuatan orang lain kita yang menanggung akibat ini.” Jawabku mengungkapkan kekecewaan.
“Ia Gung, aku juga merasa tergangu. Padahal pemerintah kita dan berbagai LSM sudah memasang spanduk larangan membakar hutan di pinggir jalan, bahkan beberapa waktu yang lalu aku melihat ada sosialisasi tentang larangan membakar hutan kepada masyarakat di Balai Desa, tetapi tetap aja kebakaran hutan sering terjadi”. Jawab Fiqron.
“Terus gimana dong solusinya??” tanyaku kepada Agung dan Fiqron secara spontan.
“kalian tau kan kalau hutan di daerah kita ini tumbuh di lahan gambut? kalau musim kemarau seperti ini, lahan gambut hutan kita itu kering. Kalau terbakar susah memadamkan apinya. Apinya itu menjalar dari bawah tanah gambut itu, kan tanah gambut itu terbentuk dari serasahan dedaunan yang gugur, jadi secara tiba-tiba sudah banyak lahan yang terbakar. Ini nih ya, dari internet dan koran-koran yang aku baca katanya sih suruh buat sekat kanal di hutan yang rawan terbakar, sehingga keberadaan air bisa terjaga keberadaannya.” Jawab Agung dengan mantap.
“waahh!!!” sahut Fiqron
“oh iya, aku dengar-dengar katanya lahan gambut itu di lindungi dalam undang-undang oleh pemerintah. Menurutku sih mau ngak mau pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku pembakaran hutan tanpa pandang bulu, dan memperketat izin pembukaan hutan, apalagi memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab.” Jawab Fiqron sambil menatap ke arah ku.
“mungkin peranan masyarakat juga di butuhkan dalam hal ini, misalnya ketika melihat kebakaran hutan langsung melapor kepada pihak yang berwajib.” jawab Agung tegas sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“tambahan aja ni, mungkin juga diperlukan kesadaran pada diri sendiri akan pentingnya menjaga lingkungan. Kalau semuanya sudah sadar, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.” Jawab Fiqron.
“oh ternyata,,pemikiran kalian bagus-bagus ya, walaupun sering bermain game tapi juga peduli tentang lingkungan di luar. Coba aja orang-orang di luar sana lebih peduli terhadap lingkungan dan tidak merusaknya, hahaha.” jawabku.

*******

Cahaya itu kian hari kian memerah, mengungkapkan ketidaksukaannya atas ketidaknyamanan yang ia dapatkan. Partikel-partikel zat kimia bekas limbah industri berhamburan kegirangan terbang di udara akibat wilayahnya terbakar dan melaju kencang masuk ke dalam paru-paru anak-anak kecil di tengah sepoi-sepoi angin siang.
Pohon-pohon padi terlihat layu. Suasana pagi berasa sore, suasana siang berasa berada dalam rumah kaca, suasana malam berasa buta tak dapat melihat suasana pagi.

Seandainya mereka sadar bahwa keberadaan hutan sangat mempengaruhi kehidupan lainnya. Kesinambungan untuk menjaga keseimbangan siklus kehidupan. Bahkan pada zaman dahulu penasehat Raja Inggris pernah mengungkapkan kata “No wood, no Kingdom” tidak ada hutan maka tidak akan ada Inggris.
Pepatah lainnya juga mengatakan “forest is the sinew of civilation” hutan sebagai otot peradaban manusia, dalam naskah kesepahaman Kanada pun dalam “Canada Forest Accord” kalimat pertamanya menyebutkan “The forest symbolizes Canada”.  

Meskipun ada anekdot mengatakan “forest is the mother of agriculture” namun pengelolaan hutan harus tetap secara lestari. 

===BOGOR, 6 APRIL 2016===

Minggu, 16 April 2017

PEMETAAN WILAYAH HUTAN MENGGUNAKAN GIS

PEMETAAN
“Pemetaan Wilayah Hutan Menggunakan GIS”


Pemanfaatan dan Perkembangan data spasial belakangan ini meningkat sangat drastis. Data spasial merupakan salah satu item dari informasi, dimana didalamnya terdapat informasi mengenai bumi termasuk permukaan bumi, dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan bawah atmosfir (Rajabidfard dan Williamson 2000). Pemanfaatan dan Perkembangan data spasial ini berkaitan dengan meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geograpich Information System (GIS) dan perkembangan teknologi dalam memperoleh, merekam dan mengumpulan data yang bersifat keruangan (spasial).
Teknologi tinggi seperti Global Positioning System (GPS), remote sensing dan total station, telah membuat perekaman data spasial digital relatif lebih cepat dan mudah. Kemampuan penyimpanan yang semakin besar, kapasitas transfer data yang semakin meningkat, dan kecepatan proses data yang semakin cepat menjadikan data spasial merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari perkembangan teknologi informasi (sumber : mtnugraha.wordpress.com). Dalam pengelolaan hutan diperlukan pemetaan wilayah untuk mengetahui keadaan hutan, mulai dari keadaan vegetasi, batas wilayah, sungai, maupun keadaan hutan yang sudah rusak. Didukung oleh perkembangan dan kemajuan teknologi SIG sekarang ini, maka kegiatan pemetaan wilayah hutan menjadi mudah dilakukan.
Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan), atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berreferensi geografis. Misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya dalam sebuah database. Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi (sumber : mtnugraha.wordpress.com).

 

Manfaat pemetaan menggunakan GIS yaitu dapat membantu kita memahami persoalan dengan lebih baik, dengan kemampuannya mengkombinasikan berbagai tipe informasi spasial. Selain itu, Pemetaan GIS memungkinkan penyebaran data yang lebih mudah, karena peta-peta digital sangatlah mudah untuk disebarkan secara online kepada media, pemerintah, dan masyarakat umum, ketika tata kelola data dan praktik penyebaran data yang baik dilakukan.  Contohnya ArcGIS Online memberikan cara yang mudah kepada para user untuk membuat dan menyebarkan peta interaktif secara online tanpa membutuhkan keahlian atau software GIS (sumber : www.wri.org).

 




Jumat, 13 Mei 2016

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia

Potensi Artikel Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia




Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan terluas di dunia. Data statistik tahun 1993 mencatat luas hutan Indonesia sekitar 141,8 juta hektar. Data lainnya menyebutkan luas hutan Indonesia menempati urutan ke – 9 terluas di dunia setelah Australia dan Argentina dengan luasan 884.950 Km2. Keanekaragaman hayati yang di kandung oleh hutan Indonesia sangatlah melimpah. Dari hasil survei IBSAP ( Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) pada tahun 2003 diketahui bahwa di Indonesia terdapat 515 jenis mamalia (36% endemik, peringkat pertama dunia), 35 jenis primate (25% endemik), 511 jenis reptil, 1.531 jenis burung (sebagian jenis endemik), 270 jenis amfibi, dan 212 jenis kupu-kupu (44% endemik). Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia juga memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, mulai dari potensi hutan yang bersifat kayu, maupun potensi hutan bukan kayu. Pada tahun 1997, sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar dolar untuk devisa negara. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total. Melihat potensi hasil hutan bukan kayu, potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan mengingat keanekaragaman jenis tanaman hutan Indonesia yang sangat banyak manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak langsung (intangible).
Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), hasil hutan bukan kayu adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Defenisi lainnya menyebutkan segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain.  Di Indonesia sampai saat ini budidaya tanaman HHBK belum banyak dilaksanakan, sebagian besar produk HHBK masih diambil dari dalam hutan sehingga produksi HHBK yang berkesinambungan tidak lagi terjamin. Akibatnya sumberdaya HHBK menjadi hancur bahkan beberapa jenis masuk kategori langka, seperti gaharu, damar rasak, jelutung, kapur barus, jermang, ketiau, balau dan lain-lain sudah masuk ke dalam daftar Appendix II CITES (Sumadiwangsa dan Mas’ud, 1999).
Sesuai dengan dengan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan No. P.21/Menhut-II, 2009. jenis komoditi HHBK digolongkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu HHBK Nabati dan HHBK Hewani. HHBK Nabati meliputi kelompok resin (damar, gaharu, kemenyan, getah tusam), kelompok minyak atsiri (cendana, kulit manis, kayu putih, kenanga), kelompok minyak lemak, pati, dan buah – buahan (buah merah, rebung bambu, durian, kemiri, pala, vanili), kelompok tannin, bahan pewarna, dan getah (kayu kuning, jelutung, perca, pinang, gambir), kelompok tumbuhan obat – obatan dan tanaman hias (akar wangi, brotowali, anggrek hutan), kelompok palma dan bambu (rotan manau, rotan tahiti), kelompok alkaloid (kina), dan kelompok (nipah, pandan, purun). HHBK Hewani meliputi kelompok kelas hewan buru (babi hutan, kelinci, kancil, rusa, buaya), kelompok hewan hasil penangkaran (arwana, kupu – kupu, rusa, buaya), kelompok hasil hewan (sarang burung walet, kutu lak, lilin lebah, ulat
sutera, lebah madu).

Hasil hutan bukan kayu sangat berpotensi sebagai komoditas kehutanan. Hasil hutan bukan kayu dapat menyelamatkan eksploitasi terhadap sektor kehutanan ketika potensi hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dengan baik. Hasil hutan non kayu ini bisa dibilang sangat menguntungkan, karena dari satu jenis saja kita bisa memanfaatkan bagian bagian dari suatu jenis tumbuhan tersebut. Apakah daunya, akarnya, maupun buahnya. Penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari pemenuhan kebutuhan, sebagai barang-barang penghias bahkan sebagai obat-obatan. Berikut adalah beberapa contoh hasil hutan non kayu beserta potensi yang dimilikinya.

1.      Potensi rotan
Luas kawasan hutan yang merupakan habitat alam rotan seluas 2.215.625 ha.  Di Indonesia terdapat kurang lebih 306 spesies rotan telah teridentifikasi dan menyebar di semua pulau di Indonesia. Dari keseluruhan yang teridentifikasi, rotan yang sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 128 jenis. Sementara itu rotan yang sudah umum diusahakan/ diperdagangkan dengan harga tinggi untuk berbagai keperluan baru mencapai 28 jenis saja (Baharuddin dan Taskirawati, 2009). Rotan dapat digunakan untuk membuat keranjang, tikar, mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, penangkap ikan, perangkap binatang, tirai, kurungan burung, ikatan pada rumah, pagar, jembatan, perahu dan untuk hampir semua tujuan lain apapun yang menuntut kekuatan dan kelenturan yang digabungkan dengan keringanan.

2.      Sagu
Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha (diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional 14.000 ha). Menurut Prof. Bintoro, untuk menghasilkan 30 juta ton beras per tahun diperlukan lahan seluas 12 juta hektare, sedangkan untuk menghasilkan 30 juta ton sagu hanya diperlukan lahan seluas satu juta hektar. Sebagaimana kita ketahui bahwa sagu dapat menggantikan peran beras untuk kebutuhan pokok manusia.

3.      Nipah
Indonesai memiliki daerah tanaman nipah seluas 10% atau 700.000 ha dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha. Penyebarannya meliputi wilayah kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Populasi tanaman nipah diperkirakan sekitar 8.000 pohon/ha, sehingga dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5,6 miliar pohon. Dari jumlah tanaman yang ada per hektar, jumlah malai (tangai bunga) yang dapat dihasilkan sekitar 10% atau sekitar 800 tangkai bunga. Jika pemeliharaan dan perawatannya intensif, persentase jumlah malai meningkat sekitar 40% atau sebanyak 3.200 tangkai bunga. Tanaman nipah menghasilkan nira yang diperoleh dari hasil sadapan tangkai bunga (malai). Komposisi nira nipah menagndung kadar gula (Brix) 15-17%, sukrosa 13-15%, gule pereduksi 0,2-0,5%, dan abu 0,3-0,7%.  Nira tersebut dapat diolah emnajdi gula, baik  dinuat sebagai gual merah, gual semut, gula pasir, maupun sirup. Di Malaysia dan Filipina nira nipah selain diolah  menjadi gula juga diolah menjadi vinegar, cuka dan alkohol.

4.    Biji Kepuh (Sterculia foetida)
Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan sebagai bahan konsumsi  seperti halnya minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga mampu tumbuh dengan mudah  di lahan kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di seluruh Nusantara (Heyne, 1987).

5.    Biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour)
Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.







   

Minggu, 27 Maret 2016

Dampak Alih Fungsi Lahan

Dampak Alih Fungsi Lahan Hutan 

Indonesia dikenal dengan julukan negara agraris. Berbagai macam jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat ditemukan di Indonesia.  Luas lahan pertanian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2014 adalah 41,5 juta hektar. Terdiri dari 567 ribu hektar tanaman hortikultura, 19 juta hektar tanaman pangan, dan 22 juta hektar tanaman perkebunan. Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan penduduk terpadat ke empat di dunia. Berdasarkan data CIA World Factbook tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia 225.993.674 jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan jumlah penduduk Dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Mulai dari minyak bumi, batu bara, emas, timah dan lain sebagainya yang berada di bawah bumi, sampai spesies-spesies yang langka dan tanaman perkebunan yang dapat ditemukan di permukaan buminya. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 47% mengungguli Malaysia di tempat ke 2 dengan 39%. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
Fakta diatas menunjukkan betapa kayanya Indonesia. Kalau melihat lebih dekat lagi dari mana kebutuhan lahan yang dapat menampung itu semua? Dengan desakan kepadatan penduduk yang kian tahun kian meningkat untuk areal pemukiman, dengan kebutuhan perekonomian yang menghidupi ratusan juta rakyat Indonesia, dengan tuntutan pembangunan infrastruktur yang menjadi ikon kemajuan suatu daerah, dengan berbagai alasan mengundang investor untuk berinvestasi demi kemajuan daerah. Sementara kita ketahui bahwa seiring meningkatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diiringi dengan pertambahan lahan untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Lantas bagaimana cara pemenuhan kebutuhan tersebut? Ya, cara yang paling ampuh adalah cara mengalihfungsikan lahan. Baik mengalihkanfungsikan lahan hutan menjadi areal pertanian, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal pertambangan, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal perkebunan, dan mengalihfungsikan lahan hutan atau lahan pertanian menjadi areal pemukiman. Dari kasus ini yang paling banyak dialihfungsikan adalah areal hutan.
Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia. Menurut buku tersebut, Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola setiap jamnya. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun. Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar (Sumber : Kompas.com).
  Deforestasi (penebangan hutan) menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal, 80 persen keanekaragaman hayati terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman pemanasan global. Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia menyangkut berbagai permasalahan yang saling terkait, termasuk perampasan dan penguasaan hutan, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan hasil hutan ilegal, dan kemiskinan. Pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen secara mandiri dan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2020. Pemerintah Indonesia menegaskan kembali janji tersebut minggu ini dalam sebuah pertemuan antara pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta perwakilan dari lembaga internasional.
Sebagaimana kita ketahui bahwa hutan berfungsi sebagai penyeimbang fungsi ekosistem. Peranan hutan sangat penting dalam sistem penyangga kehidupan. Hutan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air yang baik, sebagai habitat bagi flora dan fauna, mengurangi polusi pencemaran udara, sebagai penyubur tanah, sebagai paru-paru dunia dengan menyuplai oksigen untuk kehidupan, sebagai penahan erosi dan lain sebagainya. Ada anekdot mengatakan bahwa forest is the mother of agriculture, artinya hutan sebagai penyeimbang fungsi pertanian dengan menyuplai air untuk pertanian tersebut. Namun bisa dibayangkan dengan kondisi hutan kita sekarang yang maraknya dialihfungsikan ke bentuk lain akan menyebabkan fungsi hutan terganggu. Boleh kita lihat bencana alam dimana-mana, seperti banjir, erosi, tanah longsor, pemanasan global yang banyak diisukan oleh dunia internasional. Berapa banyak kerugian negara akan kasus ini?. Itu baru kasus yang berkaitan dengan alam, belum lagi akhir-akhir ini banyak terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan terkait alih fungsi lahan hutan ini. Konflik yang terjadi kebanyakan mengorbankan masyarakat kecil, bukan hanya harta bahkan nyawa pun terkorbankan.
Alih fungsi kawasan hutan memang diperbolehkan Undang-Undang. Hanya ada aturannya. Pasal 19 ayat (1), UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyatakan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. Namun, alih fungsi hutan tentu tidak boleh dilakukan secara sembarang. Jika alih fungsi hutan ini berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, maka harus ditetapkan oleh pemerintah dan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Yang dimaksud dengan berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis ini adalah adanya perubahan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan gangguan tata air serta adanya dampak sosial masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang. 

Hingga saat ini pemerintah telah memberikan solusi akan masalah alih fungsi lahan ini, seperti menerapkan denda untuk penebangan hutan dan hukum pidana. Ketentuan pidana yang di atur dalam Pasal 50 dan sanksi pidananya dalam Pasal 78 UU No. 41 / 1999, merupakan salah satu dari upaya perlindungan hutan dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari. Maksud dan tujuan dari pemberian sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang yang melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar hukum di bidang kehutanan (penjelasan umum paragraph ke 18 UU No. 41 / 1999). Efek jera yang dimaksud bukan hanya kepada pelaku yang telah melakukan tindak pidana kehutanan, akan tetapi kepada orang lain yang mempunyai kegiatan dalam  bidang kehutanan menjadi berpikir kembali untuk melakukan perbuatan melanggar hukum karena sanksi pidananya berat. (Fathur Rahman).

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification
Downloaded from Free Templates