Jumat, 21 April 2017

CERPEN LINGKUNGAN - PROTES MATAHARI

 Protes Matahari
Oleh : Fathur Rahman


Sumber : www.bintang.com

Penyebab dan akibat kebakaran hutan
Negeri nan elok dulu indah di pandang mata. Alamnya membentang nun di tengah-tengah pulau Sumatra. Negeri nan elok itu banyak menyumbang devisa Negara. Hasil alamnya melimpah ruah, mulai dari minyak bumi sampai suburnya hutan tropika dan kelapa. Kini negeri nan elok itu sedang merana. Menyesali perbuatan yang sirna. Kalau sudah begini ingin menyalahkan siapa?.

*******

Cahaya dibalik kegelapan itu datang lagi. Menyapa dengan senyum tipis namun tak seperti orang ramah yang baru kenal. Mencoba menyusup namun  sama sekali tak mirip tentara di medan perang. Melainkan lebih mirip seekor anjing pemburu yang letih, lidahnya menjulur, nafasnya terengah-engah dalam menerebos hutan rimba. Cahaya itu sepertinya merasa bosan menyinari alam ini dengan perlakuan yang ia dapatkan.
“Anggi ayo bangun! Sudah adzan subuh, ayo sholat dek!” Teriak Kakak dari ambang pintu kamar.
“Hhuaaahh, iya kak sebentar lagi.” Jawabku meminta tambahan waktu.
Kakakku, yang menjunjung tinggi nilai kedisiplinan itu berkata lagi. “Ayolah, itu Mas mu sudah menunggu untuk sholat berjamaah.”
Aku yang tadinya tidak menyadari kalau Kakak sudah di dekatku, akhirnya menurut. “Iyaa kak, iya”. Lalu Aku mencoba bangun.
Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari kamar Rafif. Dalam benakku, ngapain sih subuh-subuh begini anak ini batuk. Setelah sempat menggerutu, Aku bergegas berwudhu lalu sholat berjamaah.
Setelah sholat subuh, sesuai rencana, Aku lari pagi di sekitar gang rumah sebelum berangkat ke sekolah. Kebiasaan ini sudah ku lakukan kelas 2 SMP.

*******

Menanti sang fajar memang hal yang membahagiakan bagi penikmat lari pagi sepertiku. Mulai dari menikmati udara yang bersih, semilir angin nan sejuk, sampai cahaya mentari yang baik bagi kesehatan. Tapi yang paling mengesankan bagiku adalah saat-saat menikmati indahnya kemerahan cahaya sang fajar yang mengintip dari ufuk timur dengan tebaran senyumnya. Namun entah mengapa, pagi ini terasa amat berbeda. Peristiwa ini seperti yang pernah terjadi sekitar setahun yang lalu.
“Aduh, kabut lagi kabut lagi. Sampai kapan sih harus begini, seperti ujian semester aja yang sudah terjadwal heh.” Guman ku.
Sambil berlari kecil, Aku menghampiri Kak Iyun yang sedang menyapu teras depan rumah. Saat ini Aku tinggal bersama Kak Iyun kakak sepupuku, untuk melanjutkan sekolah SMA.
“Kak, kabut asap lagi, kak?”
“Iya Nggi, kalau musim kemarau ya sudah biasa seperti ini. Itu saja Rafif sudah batuk-batuk. Sudah. sarapan dulu sana! Mandi! Terus berangkat sekolah!”
“Iya kak.” Jawabku.

*******

Kabut asap memang menjadi langganan daerah ini, datangnya bagaikan sudah terjadwal di kalender-kalender. Aku tahu karena keserakahan manusialah hal ini terjadi. Keserakahan tanpa didasari dengan hati nurani. Keserakahan untuk memperkaya diri sendiri, bagaikan seekor babi yang memakan kotorannya kembali.
Pernah suatu ketika aku bertanya-tanya apa sebenarnya motif pembakaran hutan ini? Apa keuntungannya? Namun teka-teki itu baru terjawab setelah sekian lama terbenam dalam benakku. Jawaban itu ku temukan secara tak sengaja ketika aku pulang ke kampung untuk liburan akhir semester.
Di dalam perjalanan pulang di tengah-tengah kabut asap Aku melihat gumpalan asap tebal mengiringi perjalananku dari arah barat. Tak lama kemudian Aku singgah di sebuah warung kecil di tepi jalan untuk mengisi bensin motorku. Karena SPBU sangat jauh dari tempat ini, maka pedagang eceran bensin banyak bertabur. Secara bersamaan seorang pria juga mengisi bensin bersama anak laki-laki yang masih remaja mengendarai motor dengan pakaian yang kotor,  sepertinya  oleh arang pembakaran.
“Dari mana pak?” sapaku sambil melirik sepatu ladangnya yang kotor.
“Dari ladang, dek.” Jawab pria itu.
“Bapak berladang dimana?”
“Tidak  jauh dari sini, dek.” Jawabnya lagi sambil menunjuk ke arah timur. Di sana terlihat masih banyak hutan yang di kepuli asap tipis yang sepertinya habis terbakar.
“Bapak yang punya lahan terbakar itu?” Tanya ku lagi.
“Iya, tadi saya coba bakar untuk membersihkannya, tapi apinya malah makin membesar. Makanya saya coba untuk memadamkannya, kalau kena lahan tetangga kan repot.”
“Kenapa mesti di bakar pak...?”
“Biar cepat aja membersihkan lahannya, lagian ini sudah masuk musim berladang, Cuma kemarau tahun ini panjang.”
“Ooo” jawabku, “oh iyalah pak, semangat aja.....”
Sejak saat itu perbincangan kami berhenti. Dalam benakku Aku berpikir, oo pantas saja kabut asap setiap tahunnya selalu ada, karena motif inilah yang menjadi penyebabnya. Bayangkan saja perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di bidang perkebunan yang membakar hutan dengan cara yang singkat di musim kemarau. Berapa banyak luasan hutan yang habis terbakar?

*******

Besarnya potensi bumi melayu itu sebagai lahan yang cocok untuk di tanami sawit membuat banyak perusahaan mulai mengembangkan sayapnya di tanah itu. Perusahaan itu  datang bagaikan singa kelaparan yang memakan habis hasil buruannya lalu membiarkan tulang belulang buruannya itu tercecer di jalan yang sempit diantara celah pohon yang berduri sehingga membuat petani kecil kesulitan untuk melewatinya.
Tanpa adanya rasa tanggung jawab, perusahaan-perusahaan itu dengan kecam membakar hutan itu lalu menyisakan penderitaan bagi masyarakat setempat. Bahkan ironinya akibat ulah mereka hubungan negara kita dengan negara tetangga jadi terganggu. Cuaca di musim kemarau menyebabkan proses El nino dan membuat siklus angin membawa produksi asap dari daerah ini ke negara tetangga sehingga terjadi pencemaran udara.

*******

 “Hai Gung apa kabar?” Sapaku saat bertemu Agung di gerbang sekolah. “Sudah lama tidak ketemu semenjak liburan.”
“Haha, kamu kangen sama aku, ya?”
“Iihh siapa juga yang kangen. Ayo ke kantin serapan dulu”
“Ayo-ayo”
“Eh, kira-kira Buk Afrida masuk ngak hari ini ya?” tanya Agung membuka percakapan setelah sejak dari pintu gerbang kami saling diam.
“Memangnya kenapa Gung?”
“Malas ih, sekolah. Kabut asap begini, enaknya libur.”
“Eeehhh, percuma aja kamu libur, memangnya kamu mau kemana? Kita ini sudah di kepung kabut asap. Dimana-mana kan kabut asap. Mendingan kita belajar bareng, sebentar lagi kan Ujian Nasional.”
“Ya di rumah lah, main game kan seru. Ngecas semangat dulu, hehe”

*******

Banyak kerugian akibat kabut asap ini. Sulitnya mencari udara bersih, proses pendidikan terganggu. Banyak warga yang berobat ke rumah sakit karena mengidap ISPA. Paling menyedihkannya lagi kabut asap ini memberikan kejutan di tengah kami melaksanakan Try out untuk persiapan Ujian Nasional.
“Eh Nggi,” sapa Fiqron di hari pertama Try Out. “Gimana persiapan Try Outnya? udah belajar belum?”
“Belum fiq” jawab ku. “Baru sedikit persipannya. Tadi malam Aku menemani Rafif di rumah sakit. Dia demam, batuk-batuk. Kamu gimana persipannya?”
“Sama, Nggi. Belum banyak juga persiapannya. Eeehh, kamu tau ngak tadi malam Agung kalah main PS sama aku. Hahaha akhirnya aku bisa mengalahkannya sesuai janjiku.”
“Walah, kok kalian main gak ngajak?”
“Kan kamu menemani adik kakakmu katanya di rumah sakit. Ya udah deh nanti pulang Try Out kita main lagi ok. Ayo-ayo masuk ke kelas ibuknya sudah datang.
Aku, Agung, Fiqron memang teman akrab dari kelas 1 SMA,  selalu main bersama, belajar bersama. Rasanya di akhir masa sekolah ini, Aku semakin tidak merelakan perpisahan ini terjadi.
“Anak-anak pagi ini kita akan melaksanakan Try Out untuk persiapan Ujian Nasional kalian. Ibuk harap kalian serius mengerjakannya, anggap ini Ujian Nasional benaran.” Kata Buk Afrida sambil membagikan soal.
Aku melihat teman-temanku rata-rata memakai masker. Tebalnya kabut asap membuat mata perih. Asap yang terhirup rasanya tidak sedap dan berbau. Pakaian juga berbau. Dalam benakku aku berfikir ya mana bisa fokus mengerjakannya, ditambah lagi pencahayaan lampu di ruang kelas tidak ada. Nafas semakin sesak mata pun semakin perih.
Secara tiba-tiba, terdengar teriakan Buk Afrida dari ambang pintu, “anak-anak kita cukupkan saja ujiannya sampai di sini, sekarang kalian pulang, jangan berkaktivitas di luar rumah dan jaga kesehatan kalian. Ibuk dapat pesan dari kepala sekolah kita diliburkan sementara selama 3 hari kedepan.”

******

Asiik liburrrr, terdengar suara bisikan teman-teman sekelas, ayo pulang yuk!
Kebahagian mendengar berita libur itu rupanya sangat di nanti-nantikan oleh teman-teman sejak awal kabut asap ini. Maklum masih dalam masa pancaroba.
Dalam perjalanan pulang menuju ke gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar terikan memanggil namaku. “Anggi, Anggi. Tunggu..!!”
Rupanya  itu suara Agung dan Fiqron sambil berlari mengejarku dari belakang.
“Eh Nggi, pulang bareng yuk!” Ajak Fiqron.
“Eh kalian,ayuk-ayuk mari” jawabku.
Di dalam perjalanan sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat Agung memulai percakapan.
“Kalian memangnya gak terganggu dengan kabut asap ini yang datang setiap tahun? Banyak lo yang di rugikan akibat kabut asap ini, kita sering di liburkan sekolah, mata kita perih jika melihat, nafas sesak akibat menghirup udara yang kotor, banyak teman-teman kita yang sakit, sementara ini mau Ujian Nasional lagi.”
“Jujur Gung aku sangat merasa tersiksa, karena perbuatan orang lain kita yang menanggung akibat ini.” Jawabku mengungkapkan kekecewaan.
“Ia Gung, aku juga merasa tergangu. Padahal pemerintah kita dan berbagai LSM sudah memasang spanduk larangan membakar hutan di pinggir jalan, bahkan beberapa waktu yang lalu aku melihat ada sosialisasi tentang larangan membakar hutan kepada masyarakat di Balai Desa, tetapi tetap aja kebakaran hutan sering terjadi”. Jawab Fiqron.
“Terus gimana dong solusinya??” tanyaku kepada Agung dan Fiqron secara spontan.
“kalian tau kan kalau hutan di daerah kita ini tumbuh di lahan gambut? kalau musim kemarau seperti ini, lahan gambut hutan kita itu kering. Kalau terbakar susah memadamkan apinya. Apinya itu menjalar dari bawah tanah gambut itu, kan tanah gambut itu terbentuk dari serasahan dedaunan yang gugur, jadi secara tiba-tiba sudah banyak lahan yang terbakar. Ini nih ya, dari internet dan koran-koran yang aku baca katanya sih suruh buat sekat kanal di hutan yang rawan terbakar, sehingga keberadaan air bisa terjaga keberadaannya.” Jawab Agung dengan mantap.
“waahh!!!” sahut Fiqron
“oh iya, aku dengar-dengar katanya lahan gambut itu di lindungi dalam undang-undang oleh pemerintah. Menurutku sih mau ngak mau pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku pembakaran hutan tanpa pandang bulu, dan memperketat izin pembukaan hutan, apalagi memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab.” Jawab Fiqron sambil menatap ke arah ku.
“mungkin peranan masyarakat juga di butuhkan dalam hal ini, misalnya ketika melihat kebakaran hutan langsung melapor kepada pihak yang berwajib.” jawab Agung tegas sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“tambahan aja ni, mungkin juga diperlukan kesadaran pada diri sendiri akan pentingnya menjaga lingkungan. Kalau semuanya sudah sadar, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.” Jawab Fiqron.
“oh ternyata,,pemikiran kalian bagus-bagus ya, walaupun sering bermain game tapi juga peduli tentang lingkungan di luar. Coba aja orang-orang di luar sana lebih peduli terhadap lingkungan dan tidak merusaknya, hahaha.” jawabku.

*******

Cahaya itu kian hari kian memerah, mengungkapkan ketidaksukaannya atas ketidaknyamanan yang ia dapatkan. Partikel-partikel zat kimia bekas limbah industri berhamburan kegirangan terbang di udara akibat wilayahnya terbakar dan melaju kencang masuk ke dalam paru-paru anak-anak kecil di tengah sepoi-sepoi angin siang.
Pohon-pohon padi terlihat layu. Suasana pagi berasa sore, suasana siang berasa berada dalam rumah kaca, suasana malam berasa buta tak dapat melihat suasana pagi.

Seandainya mereka sadar bahwa keberadaan hutan sangat mempengaruhi kehidupan lainnya. Kesinambungan untuk menjaga keseimbangan siklus kehidupan. Bahkan pada zaman dahulu penasehat Raja Inggris pernah mengungkapkan kata “No wood, no Kingdom” tidak ada hutan maka tidak akan ada Inggris.
Pepatah lainnya juga mengatakan “forest is the sinew of civilation” hutan sebagai otot peradaban manusia, dalam naskah kesepahaman Kanada pun dalam “Canada Forest Accord” kalimat pertamanya menyebutkan “The forest symbolizes Canada”.  

Meskipun ada anekdot mengatakan “forest is the mother of agriculture” namun pengelolaan hutan harus tetap secara lestari. 

===BOGOR, 6 APRIL 2016===

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification
Downloaded from Free Templates