Minggu, 16 April 2017

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PENGANTAR ILMU TANAH


1.1              Latar Belakang

a.    Faktor-faktor Pembentukan Tanah
Tanah merupakan benda alam yang tersusun dari padatan (mineral dan bahan organik), cairan dan gas yang menempati permukaan daratan dan ruang oleh adanya horizon atau lapisan yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sehingga tanah menyediakan unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhannya. Tanah yang terbentuk dari bahan-bahan berupa bahan mineral dan organik, air serta udara tersusun didalam ruangan yang membentuk tubuh tanah. Akibat berlangsungnya proses pembentukan tanah, maka terjadilah perbedaan morfologi, kimia, fisis dan biologi dari tanah yang berbeda-beda pula (Hakim, dkk, 1986).
Proses pembentukan tanah pada tiap wilayah berbeda-beda walaupun memiliki bahan induk yang sama. Hal ini tidak terlepas dari faktor pembentuk lain seperti : iklim, topografi, organisme dan waktu. Hasil proses yang berbeda ini akan menimbulkan keragaman ciri atau sifat tanah (Foth, 1995). Faktor-faktor yang berinteraksi dalam pembentukan tanah adalah bahan induk, relief (topografi), iklim, organsime, dan waktu. Kelima faktor ini sangat berpengaruh satu sama lain walaupun beberapa tempat sering dijumpai hanya satu faktor saja yang jelas pengaruhnya (Hardjowigeno, 1986).

b.        Tekstur, warna, dan konsistensi tanah
Didunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting, tanah  sangat dibutuhkan tanaman. Dengan bertambah majunya peradaban manusia yang sejalan dengan perkembangan pertanian dan disertai perkembangan penduduk yang begitu pesat, memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian pokok pada waktu itu. Mengetahui masalah tersebut maka diperlukan pembelajaran lebih dalam mengenai tanah, yaitu mempelajari tekstur, warna dan konsitensi tanah.
Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu, pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara.
Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan(Tan 1995).
Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel – parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah (Kohnke 1968). 
Pengambilan sampel tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah secara utuh/tak terusik dan pengambilan contoh tanah tak utuh atau terusik (Agus et.al,2008). Contoh tanah tak terusik diperlukan untuk analisis penetapan berat jenis atau berat volum,agihan ukuran pori dan permeabilitas (Agus et,al,2008). Contoh tanah terusik diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks patahan, konduktifitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan (Agus et.al,2008). Selain itu pada contoh tanah terusik juga dapat diamati warna tanah.

c.         Pengamatan sifat-sifat morfologi  tanah latosol dan pedsolik
Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Sifat fisik dan morfologi tanah tersebut meliputi batas-batas horison, warna tanah, tekstur dan struktur tanah, konsistensi, drainase tanah, kerapatan lindak (bulk density), pori-pori tanah, potensi mengembang dan mengerut (nilai COLE), kematangan tanah (nilai-N), dan sifat-sifat lain seperti keadaan batuan, padas (Pan), kedalaman efektif dan lereng.
Penyebaran jenis-jenis tanah di Indonesia yang termasuk subur adalah adalah tanah-tanah Inceptisol, Entisol, Vertsol, Alfisol. Tanah-tanah ini sebagian besar sudah diusahakan manusia. Walaupun termasuk tanah yang cukup subur, tetapi untuk peningkatan produksi masih diperlukan saha-usaha intensifikasi antara lain dengan pemupukan dan pemeliharaan tanah dan tanaman yang sebaik-baiknya. Tanah-tanah yang belum diusahakan di Indonesia umumnya tinggal tanah-tanah yang kurang baik yang disebut tanah marginal. Walaupun demikian dengan kemajuan-kemajuan tekologi, tanah-tanah ini pun di masa mendatang akan dapat diusahakan dengan baik. Tanah- tanah marginal ini sekarang merupakan sasaran pemerintah untuk melakukan perluasan areal pertanian (ekstensifikasi). Melalui kegiatan pengamatan morfologi tanah, akan dilakukan pendeskripsian informasi dari dalam profil dan kondisi lingkungan sekitarnya. Dari situ akan diketahui kemampuan atau kesesuaian tanah dari masing-masing jenis tanah untuk penggunaan-pengunaan tanah tertentu.

d.        Pengenalan pupuk
Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggu­naan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia.
Pupuk merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja dan modal. Pemumupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian. Anjuran pemupukan terus ditingkatkan melalui program pemupukan berimbang, namun sejak sekitar tahun 1986 terjadi gejala pelandaian produktivitas ( leveling off ), suatu petunjuk terjadi penurunan efesiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati.
Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil oleh tanaman dari dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah berlangsung secara pararel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi tanaman. Sehingga untuk tahun-tahun pertanaman berikutnya unsure hara yang berada didalam tanah lambat laun akan terus berkurang.

e.         Pengenalan data sifat kimia dan fisika tanah
Tanah seperti kita telah ketahui tesusun dari bahan anorganik (mineral) dan bahan organik. Selain kedua bahan tersebut di dalam massa tanah terdapat dua bahan lainya yaitu air dan udara. Dengan demikian dapat pla kita katakana bahwa tanah terdiri dari 3 fase yaitu fase padat, cair dan gas. Fase padat yaitu bahan mineral dan bahan organik menempati 50% volume tanah, sedangkan sisanya yang berupa rang pori-pori tanah ditempati oleh fase cair dan gas yang perbandinganya selalu beubah- ubah tergantung pada musim dan cara pengelolaan tanah. Adapn perandingan bahan mineral dan bahan organik juga bervariasi. Pada tanah mineral jumlah bahan mineral lebih besar daripada bahan organik, tetapi pada tanah organik terjadadi sebaliknya.
Sifat-sifat fisika tanah adalah sifat-sifat tanah yang ditentukan oleh bahan penyusunya. Sifat-sifat fiska tanah ini sangat penting untuk anada ketahui, karena memiliki pengarh yang besar terhadap pertumbuhan dan prodksi tanaman yang tumbuh di ats tanah tersebut. Sifat-sifat fisika tanah mempengaruhi ketersediaan air di daam tanah, menentukan penetrasi (penembusan) akar di dalam tanah, sifat drainase dan aerasi tanah, serta ketersediaan nsur-nsur hara tanaman. Sifat-sifat fisika tanah juga mempengaruhi sifat-sifat kimia dan biologi tanah.
Selain sifat fisika tanah juga memiliki sifat kimia diman didalamnya terdapat kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh : reaksi tanah, tekstur atau jumlah liat, jenis mineral liat, bahan organik dan, pengapuran serta pemupukan. Soepardi (1983) mengemukakan kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.

f.          Pengenalan eveluasi kesuburan tanah, menghitung kebutuhan pupuk dan kapur
 Tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman (plantnutrient) untuk memenuhi siklus hudupnya. Apabila suatu tanaman kekurangansuatu unsur hara, maka akan menampakkan gejala pada suatu organ tertentu yangspesifik yang biasa disebut gejala kekahatan. Unsur hara yang diperlukan tanamantidak   seluruhnya   dapat   dipenuhi   dari   dalam   tanah.   Oleh   karena   itu   perlupenambahan dari luar  biasanya  dalam bentuk pupuk. Pupuk adalah bahan yangdiberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur harabagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia danbiologi tanah.Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah.Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembabandan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK,kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara danketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lainmeliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi danpengikatan nitrogen udara. Evaluasi kesuburan tanah dapat dilakukan melaluibeberapa cara, yaitu melalui pengamatan gejala defisiensi pada tanaman secaravisual,   analisa   tanaman   dan   analisa   tanah.   Analisa   tanaman   meliputi   analisa1
serapan hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihatpertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan haramakro primer (N, P dan K) dalam tanah.  Pembuatan makalah ini dimaksudkanuntuk   membahas   beberapa   hal   terkait   dengan   kesuburan   tanah,   sehinggapemakalah mampu  memahami  dan  menjelaskan  dasar-dasar kesuburan  tanah,indikator kesuburan tanah, evaluasi kebutuhan pupuk dan perbaikan kesuburantanah.

g.        Pengenalan peta geologi, peta topografi dan peta satauan lahan
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa batuan di bumi terdiri dari batuan yang terbentuk di dalam permukaan bumi (Plutonik) dan batuan yang terbentuk di permukaan bumi (Vulkanik). Selain itu terdiri dari berbagai macam jenis yang mana memiliki ciri tersendiri dalam mengidentifikasikannya. Beberapa jenis di antaranya yaitu Batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiganya memiliki struktur permukaan yang berbeda-beda utamanya dalam gambaran pada peta geologi. Perbedaan ini di tandai dengan pemberian warna yang berbeda-beda dan memiliki ciri warna yang telah di sepakati dan sudah di tetapkan. Dalam menggambarkan bentuk sebaran batuan salah satu jenis batuan yang membutuhkan pengukuran yang teliti dan di perlukan kedisiplinan dalam melakukannya adalah dalam mengukur strike dan dip dari suatu batuan. Hasil dari pengukuran akan menjadi data dan di tuangkan dalam bentuk symbol strike dan dip. Pemberian symbol ini di maksudkan agar menjadi pelengkap dalam menentukan struktur batuan yang ada baik yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam permukaan.
Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi.
Satuan lahan adalah bagian dari  lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan karakteristik lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam membuat batas-batasnya, dapat dipandang sebagai satuan lahan untuk evaluasi lahan. Namun demikian evaluasi lahan akan lebih mudah dilakukan apabila satuan lahan didefinisikan atas  kriteria0kriteria karakteristik lahan yang digunakan dalam evaluasi lahan. (FAO 1990).

h.        Pengenalan peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
Dalam menganalisis kegunaan tanah untuk dimanfaatkan maka perlu untuk menegenal karakteristik dari tanah tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui peta, diantaranya ada peta tanah, peta kemampuan lahan, dan peta kesesuaian lahan. Peta tanah adalah sebuah peta yang menggambarkan variasi dan persebaran berbagai jenis tanah atau sifat-sifat tanah (seperti pH, tekstur, kadar organik, kedalaman, dan sebagainya) di suatu area. Peta tanah merupakan hasil dari survey tanah dan digunakan untuk evaluasi sumber daya lahan, pemetaan ruang, perluasan lahan pertanian, konservasi, dan sebagainya. Satuan peta tanah disebut satuan peta tanah (SPT). Dalam peta tanah, terdapat data primer yang merupakan hasil dari pengukuran langsung di lapangan dan data sekunder merupakan hasil dari perhitungan dan/atau perkiraan berdasarkan data yang didapatkan di lapangan. Contoh data sekunder yaitu kapasitas produksi tanah, laju degradasi, dan sebagainya.
Peta kemampuan lahan adalah peta yang menyajikan hasil evaluasi kemapuan lahan pada suatu wilayah. Klasifikasi kemampuan lahan merupakan penilaian kemampuan lahan untuk penggunaan pertanian secara  umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang, sementara peta kesesuain lahan adalah peta yang menggambarkan tingkat kecocokan dari sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. Kelas kesesuaian lahan suatu wilayah dapat berbeda tergantung tipe penggunaan lahan yang diinginkan. Evaluasi kesesuaian lahan dengan cara membandingkan kecocokan antara kualitas dan karakteristik lahan sebagai parameter dengan kriteria kelas kelsesuaian lahan yang disusun berdasarkan persyaratan tumbuh tanaman atau penggunaan lahan yang dievaluasi.


1.2              Tujuan
a.       Faktor-faktor pembentukan tanah
-          Mengenal faktor-faktor pembentuk tanah
-          Mengenal ciri-ciri tanah dari faktor pembentukan tanah
-          Menduga tingkat kesuburan tanah yang terbentuk dari bahan induk
b.      Tekstur, warna, dan konsistensi tanah
-          Mengetahui perbedaan tekstur, warna dan konsistensi tanah
-          Menetapkan tekstur tanah dengan metode perasaan
-          Mengidentifikasi warna tanah dalam kondisi kering dan lembab
-          Menetapkan konsistensi tanah dalam kondisi basah (kelekatan dan plastis tanah)
c.      Pengamatan sifat-sifat morfologi  tanah Latosol dan Pedsolik
-          Mengamati sifat-sifat morfologi tanah melalui profil tanah
-          Mengetahui jenis-jenis Latosol dan Pedsolik beserta sifat umumnya
d.      Pengenalan pupuk
-          Mengetahui jenis-jenis pupuk
-          Mengetahui zat yang terkandung didalam pupuk
-          Mengetahui kegunaan pupuk
e.      Pengenalan data sifat kimia tanah dan sifat fisika tanah
-          Mengetahui sifat kimia dan fisika yang terkandung didalam tanah
-           Menginterpretasi data sifat fisika tanah hasil analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB
-          Mengenalkan data sifat kimia tanah hasil analisis laboratorium
f.       Pengenalan evaluasi kesuburan tanah, menghitung kebutuhan pupuk dan kapur
-          Dapat menentukan status unsur hara di dalam tanah
-          Dapat menghitung kebutuhan pupuk dan kebutuhan kapur
g.      Pengenalan peta geologi, peta topografi, dan peta satuan lahan
-          Mengenalkan informasi yang disajikan di dalam peta geologi, peta topografi, dan peta satuan lahan
-          Dapat membaca peta  geologi, peta topografi, dan peta satuan lahan
-          Dapat menentukan posisi di dalam peta
h.      Pengenalan peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
-          Mengenalkan informasi yang disajikan di dalam peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
-          Dapat membaca peta  tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
-          Dapat menentukan posisi di dalam peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan



BAB II
METODELOGI

2.1              Alat, Bahan, dan Prosedur
a.    Faktor-faktor Pembentukan Tanah
Presedur
-          Menceritakan keadaan tanah masing-masing dari anggota kelompok dan menganalisis sesuai dengan tugas yang telah diberikan
b.    Tekstutur, Warna, dan Konsistensi Tanah
Alat           
-          Piring plastik, ember, dan gayung
Bahan
-          Tanah latosol Dramaga, tanah podsolik Jasinga, tanah andosol Sukamantri, tanah regosol Ciomas, dan air
Prosedur
-          Praktikan menganalisis tanah yan g telah tersedia (empat ember tanah dengan jenis yang berbeda) dalam menganalisis dan memperhatikan tekstur, warna, dan konsistensinya. Dalam menentukan tekstur, warna dan konsistensi  terlebih dahulu praktikan menjadikan tanah dalam bentuk pasta Menentukan tekstur dengan memirit tanah dengan memperhatikan kehalusan,kelicinan, kekasaran, dan daya tahan dari semua tanah. Selanjutnya tanah tersebut akan dilihat konsistensinya mulai dari konsistensi keringnya, konsistensi lembab , dan konsistensi basahnya dari kelekatan tanah tersebut. Kemudian praktikan mencocokan warna tanah baik dalam keadaan lembab ataupun kering dengan menggunakan Buku Munsell Soil Color Chart.

c.    Morfologi Tanah Latosol dan Pedsolik
Alat
-          Bor belgi, cangkul, skop, ember, air, meteran, pisau lapang, soil munsell color chart, pH meter, abney level, GPS
Prosedur
-          Cara pembuatan profil tanah : ukuran lubang profil tanah umumnya sekitar 1,5 m x 1 m dengan kedalaman 1,5 m sampai 2 m. Jika sebelum mencapai kedalaman 1,5 meter telah ditemukan bahan induk, maka penggalian profil dihentikan. Penempang profil yang akan diamati sebaiknya menghadap datangnya sinar matahari agar pengamatan profil tanah menjadi terang. Cara penarikan batas horison : perhatikan warna pada penampang tanah, tempat terjadi perubahan warna ditarik sebagai batas hirison. Pada umumnya profil tanah mem[unyai horison tipis pada bagian atas yang berwarna gelap. Pada bagian yang tidak dapat dibedakan warna, tusuk-tusuk dengan pisau lapang sambil meremas bekas tusukan tanah. Dengan tusukan tersebut dapat dibedakan lapisan yang gembur, agak keras,dll. Jika cara itu  tidak bisa membedakan maka penarikan batas horison dapat didasarkan pada perbedaan struktur, tekstur, dan konsistensi. Cara pengamatan sifat morfologi tanah : dilakukan lebih detail daripada hanya sekedar pengamatan profil tanah untuk mengetahui pelapisan tanah. Hasilnya dicatat dalam kartu deskripsi, yang diamati dalam pendeskripsian itu adalah lapisan horison, ketebalan horison, topografi batas horison, sifat dan ciri tanah pada setiap horison, sifat yang diamati meliputi warna, tekstur, struktur, konsistensi, karatan, bahan kasar, perakaran , dan kedalaman efektif tanah.

d.    Pengeanalan pupuk
Alat
-          Alat tulis
Bahan
-          Berbagai macam pupuk dengan bentuk kristal, serbuk , granula, dan cair
Prosedur
-          Mengamati satu per satu dari 25 jenis pupuk. Mengklasifikasikan setiap jenis pupuk tersebut berdasarkan nama pupuk, rumus kimia, bentuk, warna, unsur utama, dan unsur ikutan. Menggolongkan masing-masing jenis pupuk berdasarkan kandungannya, termasuk tunggal atau majemuk.

e.         Pengenalan data Sifat Kimia dan Fisika Tanah
Bahan
-          Data sifat fisika tanah hasil analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu Tanah Faperta  IPB
-          Data sifat kimia tanah hasil analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu Tanah Faperta  IPB
Prosedur
-          Menghitung dan mencocokkan ulang data sifat fisika dan kimia tanah hasil analisis laborarium fisika Departemen Ilmu Tanah Faperta  IPB

f.          Evaluasi Status Unsur Hara Tanah, Menghitung Kebutuhan Pupuk Dan Kapur
Prosedur
-          Menghitung status unsur hara latosol dan pedsolik data sifat kimia tanah yang digunakan dalam praktikum pengenalan sifat kimia tanah.

g.    Pengenalan Peta Topografi, Peta Geologi, dan Peta Satuan Lahan
Bahan
-          Peta geologi lembar Bogor skala 1 : 100.000, peta topografi skala 1 : 25.000, peta land sistem skala 1 : 250.000
Prosedur
-          Menyediakan ketas jilid bening ukuran 20 cm x 20 cm dan dijiplak di peta topografi  dengan menetukan koordinatnya lalu mencocokkan dengan peta geologi dan peta satuan lahan dengan koordinat yang diketahui dari peta topografi.

h.    Pengenalan Peta Tanah, Peta Kemampuan Lahan, dan Peta Kesesuaian Lahan
Bahan
-          Peta tanah skala 1 : 50.000 dan skala 1 : 250.000, peta kemampuan lahan skal 1 : 100.000, dan peta kesesuaian lahan skal 1 : 50.000
Prosdeur
-          Menentukan lokasi lahan dengan koordinat peta dan mencatat informasi yang terkandung didalam peta tanah, peta kemempuan lahan, dan peta kesesuaian lahan.





 BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
            Mempelajari mata kuliah pengantar ilmu tanah  sangat  berguna sekali dalam  menunjang ilmu yang berkaitan dengan pertanian dalam arti luas khususnya di bidang pertanian dan kehutanan. Dalam bidang kehutanan khususnya mempelajari ilmu tanah sangat membantu dalam memperbaiki hutan untuk kedepannya. Mengetahaui unsur-unsur pembentuk  tanah yang terdiri dari 5 faktor yaitu, bahan induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu dapat membantu dalam penentuan tingkat kesuburan tanah di suatu lahan yang akan dijadikan lahan penanaman hutan baru. Mengetahui tekstur, warna, dan konsistensi tanah dapat berguna untuk melihat  kecocokan jenis-jenis tanah dalam penanaman kembali hutan baru. mengetahui sifat-sifat morfologi  tanah latosol dan pedsolik berguna untuk melihat profil tanah dan mengetahui sifat-sifat tanah  yang akan digunakan untuk penanaman hutan baru. Mengetahui Pengenalan pupuk sangat berguna sekali dalam penanaman hutan terutama dengan mengetahui jenis-jenis pupuk dan kegunaannya serta cara pemakaiannya dapat membantu dalam laju pertumbuhan pohon-pohon yang bermasalah secara cepat dan tepat sasaran. Mengetahui Pengenalan data sifat kimia dan fisika tanah juga sangat berguna dalam pengenalan sifat-sifat tanah, khususnya untuk pemupukan dan aerasi tanah, dengan mengetahui sifa kimia tanah  sangat membantu dalam pengkajian kebutuhan pupuk, dengan menegetahu sifat fisika tanah dapat membantu dalam penghitungan laju aerasi tanah. Mengetahui Pengenalan evaluasi kesuburan tanah, menghitung kebutuhan pupuk dan kapur sangat membantu  dalam menghitung jumlah kebutuhan pupuk dan kapur dan dapat mengetahui unsur hara di dalam tanah, sehingga mempermudah dalam proses pemupukan dan pengapuran. Mengetahui Pengenalan peta geologi, peta topografi, dan peta satuan lahan dapat membantu  dalam membaca dan mengetahui informasi  yang ada di peta tersebut sehingga dapat memudahkan dalam mengidentifikasi tanah, begitu juga dalam mengetahui Pengenalan peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan itu juga sangat penting dan dapat membantu dalam penentuan posisi tanah, kesesuaian tanah dengan tanaman apa yang ingin kita tanam  dan mengetahui kemampuan tanah tersebut dengan tanaman yang kita tanam. Segala yang dipraktikumkan dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Tanah sangat bermanfaat khususnya bagi praktikan dalam menunjang ilmu yang berkaitan dengan itu.


DAFTAR PUSTAKA
Agus, Cahyono, Dewi Wulan Sari, Daryono Prehaten.2008.Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah.Laboratorium Tanah Hutan. Yogyakarta(ID): Jurusan Budidaya Hutan Fakultas Kehutanan UGM.
Foth.1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Hakim N, Nyakpa M, Y.Nugroho S, G.B.Barley H.H. 1986. Dasar dasar Ilmu Tanah. Lampung (ID): Universitas Lampung.
Hardjowinego S.1992. Ilmu Tanah. Jakarta (ID): PT. Mediyataina Sarana Perkasa.
Kohnke,H. 1968. Soil Physic. New York (US): Mc Graw Hill Book Company.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor (ID): Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Tan, K. H. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Yogyakarta (ID): UGM Press. Terjemahan: D. H. Goenadi.



LAPORAN PRAKTIKUM SEGITIGA API DAN PEMINDAHAN PANAS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Api merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan. Api terbentuk karena adanya interaksi antara sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketiga unsur bahan baku proses pembakaran tersebut dikenal denga segitiga api. Apabila ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi, maka tidak dapat terjadi pembakaran. Selama ini hal yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi hutan diantaranya adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh api (Purbowaseso 2004). Maka dari itu perlunya mempelajari komponen pembentukan api untuk mencegah kebakaran hutan.
Api menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari. Panas tersebut dapat dimanfaatkan karena memiliki sifat berpindah dari tempat bersuhu tinggi ke tempat yang bersuhu lebih rendah. Panas berpindah dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas sering juga dijumpai dalam kegiatan sehari-hari antara lain: api unggun, memasak air, menjemur pakaian, dan lain-lain. Praktikum pemindahan panas ini juga dimaksudkan untuk mengetahui macam-macam pemindahan panas.

1.2  Tujuan praktikum
1.      Konsep Segitiga api
Untuk membuktikan bahwa untuk terjadinya proses pembakaran harus tersedia ketiga unsur bahan baku proses pembakaran yaitu bahan bakar, sumber panas, dan oksigen.
2.      Pemindahan panas
Untuk menentukan macam-macam cara pemindahan panas pada suatu proses pembakaran.


BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1  Bahan dan alat
1.      Konsep segitiga api
a.       Lilin
b.      Gelas ukur 200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml
c.       Korek api
d.      Alat pengukur waktu


2.      Pemindahan panas
a.       Lampu teplok
b.      Korek api
c.       Alat pengukur waktu

2.2  Metode Praktikum
1.      Konsep Segitiga api
a.       Menyiapkan alat dan bahan.
b.      Mengukur sumbu pada lilin sepanjang 0,5 cm- 1cm.
c.       Menyalakan lilin dengan menggunakan korek api (diamkan sampai nyala api stabil).
d.      Menutup lilin dengan gelas ukur dalam berbagai ukuran yang telah disediakan, secara bergantian.
d.      Menghitung lamanya waktu penyalaan lilin dari lilin ditutup sampai nyala apinya padam.
e.       Melakukan percobaan sebanyak tiga kali pengulangan untuk masing-masing ukuran gelas.
f.        Sebelum di lakukan pengulangan, kondisi gelas harus dalam keadaan dingin.

2.      Pemindahan panas
a.       Menyediakan lampu templok yang telah terisi minyak tanah.
b.      Menyalakan lampu templok tersebut dengan korek api (tunggu sampai nyalal api maksimal sebelum ditutup).
c.       Menempelkan tangan di sekitar lampu templok dengan 3 titik berbeda (bagian atas, bawah, tengah).
d.      Merasakan panas yang terjadi dan identifikasi termasuk  perpindahan jenis apa dari panas tersebut (konduksi, konveksi, radiasi).



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan volume gelas dan lama penyalaan
Volume gelas (ml)
Lama Api Menyala (detik)
Rata-rata detik
(detik)
Percobaan 1
Percobaan 2
Percobaan 3
200
5,86
4,82
3,83
4,83
300
7,53
7,39
6,81
7,24
500
10,76
9,68
8,87
9,77
1000
15,3
13,32
12,64
13,70

Grafik 1. Hubungan antara volume gelas dengan lamanya nyala api

Tabel 2. Hasil pengamatan pemindahan panas pada lampu teplok
Titik Pengamatan
Jenis Pemindahan Panas
Keterangan
A (Ujung Bawah)
Konduksi
Tidak panas
A-B (Antara Ujung Atas – Ujung Bawah)
Konduksi dan Konveksi
Sangat panas
C (Ujung atas)
Radiasi
Panas

3.2  Pembahasan
Dalam teori segitiga api, api terjadi karena akibat bergabungnya tiga unsur utama pembentuk api yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen yang apabila ketiga unsur tersebut bergabung akan menyebabkan terjadinya api. Pada saat terjadi pembakaran harus terdapat bahan bakar untuk di bakar, terdapat udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen, dan ada panas untuk memulai dan melanjutkan pembakaran. Namun, apabila salah satu dari ketiga unsur diatas ditiadakan maka api tidak akan timbul (Suratmo 1974).
Api berkaitan erat terhadap kebakaran hutan, apabila segitiga api tersedia dihutan maka akan tercipta kebakaran hutan yang dapat merusak hutan beserta isinya. Kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena global yang juga bahkan terjadi di hutan tropis lembab seperti di Indonesia (Solichin 2007).
Praktikum kali ini, dilakukan pengamatan terhadap lamanya nyala api yang dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang terdapat di dalam gelas ukur sebagai variabel bebasnya. Gelas ukur yang digunakan berukuran  200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml. Masing-masing gelas dilakukan percobaan dengan 3 kali pengulangan. Setelah melakukan percobaan, diketahui bahwa rata-rata lilin yang ditutup gelas berukuran 200mL nyala apinya bertahan selama 4,83 detik, gelas berukuran 300mL nyala apinya bertahan selama 7,24 detik, gelas berukuran 500mL nyala apinya bertahan selama 9,77 detik, dan gelas berukuran 1000mL nyala apinya bertahan selama 13,70 detik. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa api yang menyala paling lama adalah lilin yang ditutup dengan menggunakan gelas ukur 1000ml. Sedangkan nyala api paling sebentar adalah lilin yang ditutup dengan menggunakan gelas ukur 200ml. Hal ini diduga karena oksigen dalam  gelas yang bervolume besar lebih banyak di banding dengan volume gelas yang kecil. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suratmo (1974) tentang syarat terjadinya nyala api yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Jika salah satunya tidak ada maka api akan padam. Segitiga api sangat penting untuk diketahui karena dapat memberi tahu kita tentang bagaimana memadamkan api melalui ketiga unsur tersebut. Kita dapat meredam panas dengan menyemprotkan air ke atas api, memutuskan oksigen, atau dengan melemparkan lumpur atau tanah di atas api tersebut.
Menurut Giancoli (1998), perpindahan suatu kalor atau panas dari suatu tempat atau benda ke tempat atau benda lain dapat terjadi melalui tiga cara yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi yaitu hasil tumbukan molekul molekul dimana saat salah satu ujung benda dipanaskan, molekul molekul ditempat tersebut bergerak lebih cepat sehingga bertumbukan dengan molekul lain yang bergerak lebih lambat, terjadilah transfer energi antar molekul, yang pada akhirnya terjadi hantaran panas. Konveksi melibatkan zat cair dan gas dalam perpindahan panas, contohnya pada pemansan air dalam panci, terjadi sirkulasi panas didalam zat cair, udara panas naik ke atas. Radiasi melibatkan gelombang elektromagnetik dalam perpindahan panasnya, namun tidak memerlukan medium untu perpindahan panasnya.
Pada praktikum pemindahan panas, diamati setiap perpindahan panas yang terjadi pada semprong lampu teplok. Perpindahan panas diamati pada tiga titik di semprong tersebut, yaitu titik A (ujung bawah semprong), B (antara ujung atas – ujung bawah semprong) dan C (di atas bagian atas semprong). Pada pengamatan didapatkan hasil bahwa pada titik A terjadi proses konduksi, pada titik B terjadi proses konduksi dan konveksi, sedangkan pada titik C terjadi proses radiasi. Titik A mengalami proses konduksi karena perpindahan panas berpindah melalui permukaan kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain itu, berdasarkan Giancoli (1998), hal ini benar adanya karena disebabkan oleh perpindahan panas dari ujung kaca semprong yang merambat ke atas sebagai akibat terjadi perpindahan molekul pada kaca tersebut.
Pada titik B, terjadi proses konduksi dan konveksi. Titik B mengalami konduksi karena perpindahan panas terjadi dari titik A diteruskan sampai ke titik B melalui perpindahan molekul-molekul kaca semprong juga terjadi melalui perpindahan panas dari kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain itu titik ini mengalami konveksi, karena terjadi perpindahan panas yang terjadi melalui udara di dalam kaca semprong. Akibatnya udara panas itu bergerak ke atas dan dapat memanaskan bagian di sekitar titik B. Pada titik C terjadi radiasi, dimana panas dari sumber langsung dipancarkan sampai ke tangan tanpa melalui suatu perantara. Pada dasanya radiasi juga terjadi pada titik A dan B. Hal ini terjadi karena panas dari sumber langsung dipancarkan ke kaca tanpa melalui suatu perantara. Namun, karena yang paling dominan adalah proses yang terjadi seperti yang disajikan di data, maka pada titik A hanya disebutkan mengalami konduksi serta titik B mengalami konduksi dan konveksi.



BAB IV
KESIMPULAN
Hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa nyala api pada lilin yang ditutup gelas kaca yang lebih besar memiliki waktu meyala lebih lama dikarenakan pasokan Oksigen yang lebih banyak. Hubungan antara volume gelas dan lama penyalaan adalah berbanding lurus. Semakin besar volume gelas, maka lama penyalaan api akan semakin lama. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan syarat-syarat terjadinya nyala yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Jika salah satu unsur tidak ada maka api akan padam. Pada suatu proses pembakaran terjadi proses pemindahan panas. Panas berpindah dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas yang terjadi pada semprong lampu teplok pada titik A (ujung bawah semprong) adalah konduksi, titik B (antara ujung atas – ujung bawah semprong) adalah konduksi dan konveksi, serta titik C (di atas bagian atas semprong) adalah radiasi.


DAFTAR PUSTAKA
Giancoli D C. 1998. Fisika edisi kelima.  Jakarta (ID) : Erlangga.
Purbawaseso B.2004.Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
Suratmo F G.1974. Perlindungan Hutan. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Solichin. 2007. Ringkasan Laporan Hasil Pencapaian Kegiatan Sistem Informasi Kebakaran. Jakarta (ID): Departemen Kehutanan RI.





PKM-M Butternut Squash

“PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT”

PRESS RELEASE FOCCUS GROUP DISCUSSION DAN PELATIHAN PENANAMAN BUDIDAYA BUTTERNUT SQUASH

 
Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam mefasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya diperkuliahan kepada masyarakat luas. PKM memiliki tujuh sub program, yaitu Program PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Karsa Cipta (PKM-KC), PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT), dan PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI). Finalis dari masing-masing PKM akan dilombakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Mahasiswa yang memiliki ide dan gagasan terhadap jenis PKM tersebut difasilitasi untuk mengirimkan proposal kegiatannya untuk mendapatkan pendanaan pelaksanaan program ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Proposal yang dinilai layak untuk dilaksanakan akan mendapat pendanaan.

Salah satu PKM yang didanai pada tahun 2017 Institut Pertanian Bogor adalah PKM-Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul “Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga dengan Budidaya Butternut Squash di Lahan Pekarangan” kerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) “SALUYU” Kelurahan Mulyaharja Kecamatan Bogor Selatan, yang diketuai oleh Fathur Rahman (MNH angkatan 51 IPB), dengan 4 orang anggotanya yaitu, Dedi Saputra Jaya (ITP angkatan 51 IPB), Adiwiguna Praktika (MNH 51 IPB), Anggit Babarrajab Cahyadi (MNH angkatan 51 IPB), dan Tanti Rahmayanti (DHH angkatan 53 IPB). Kelompok PKM ini didampingi oleh Dosen Pendamping Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si.

Penyerahan Butternut Squash Oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut.M.Si kepada PPL Kota Bogor
Butternut Squash merupakan tanaman sejenis labu dengan bentuk seperti kacang. Tanaman ini banyak dibudidayakan diluar negeri seperti Australia, Eropa, Afrika Selatan, dan Selandia Baru. Butternut Squash memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan, memiliki kadar vitamin A yang tinggi, kalsium, asam folat, dan rasa yang lebih manis dari labu lain, serta tekstur daging yang lebih pulen. Kini Butternut Squash mulai menjadi trend alternatif pangan dibeberapa kota besar di Indonesia, dan dijual di supermarket dengan harga yang cukup tinggi. Konsepan pelaksanaan PKM ini dengan mebudidayakan Butternut Squash dilahan pekarangan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga yang dapat dijadikan polybag untuk budidiya Butternut Squash. Tujuan dari program ini adalah menjadikan lahan pekarangan sebagai sarana meningkatan perekonomian rumah tangga, mensosialisasikan program pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan  produktif pertanian, menerapkan penggunaan limbah rumah tangga untuk mendukung penanaman Butternut Squash, dan mensosialisasikan manfaat dari tanaman Butternut Squash langkah diversifikasi pangan.



Suasana FGD di KWT SALUYU
Pada hari Senin, 3 April 2017 telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan penanaman budidaya Butternut Squash yang merupakan rangakain pelaksanaan kegiatan PKM kepada anggota KWT “SALUYU” di kediaman Ibu Imas Syarah selaku Ketua KWT “SALUYU”. Acara ini dihadiri oleh 13 orang anggota KWT “SALUYU”, dan tamu undangan yaitu Lurah Mulyaharja Bapak Suburudin, Sekretaris Lurah Mulyaharja, Penyuluh Pertanian Lapang Dinas Pertanian Kota Bogor Bapak Imam, dan Dosen pendamping PKM Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si. Acara ini menghadirkan pembicara Bapak Reza Ali Akbar yang merupakan Ketua Forum Petani Butternut Squash Indonesia (FPBSI) dengan materi pengenalan Butternut Squash dan teknik penanaman, dan Bapak Eka Supriatin dengan materi pengolahan tanah, pemupukan dan perawatan. Dalam sambutannya, Lurah Mulyaharja sangat mengapresiasi program ini, beliau mengatakan, “ini merupakan inovasi  yang betul-betul hebat karena potensi dari Butternut Squash ini sangat besar, dipasaran belum banyak ditemukan”. Harapannya program ini dapat berjalan sampai berhasil. 

Pelatihan Pengolahan Tanah
Pelatihan Penanaman Butternut Squash
PPL Kota Bogor Bapak Imam mengungkapkan dalam sambutannya ucapan terima kasih karena program ini dilaksanakan dengan kerjasama KWT “SALUYU”, harapannya program ini nantinya dapat menjadi contoh bagi KWT-KWT atau Kelompok Tani di Kota Bogor. Sambutan dari Dosen Pendamping oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si mengatakan bahwa budidaya Butternut Squash ini sangat sangat menjanjikan untuk meningkatkan ekonomi, pangsa pasar yang cukup tinggi dan permintaan yang sangat banyak. Khususnya diwilayah Jabodetabek membutuhkan kurang lebih 12 ton Butternut Squash perbulannya, sementara yang membudidayakan Butternut Squash ini baru sedikit.


Hasil Pelatihan Penanaman Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga

Makan Bersama Ibu-Ibu KWT Saluyu

Foto Bersama Seluruh TIM PKM, Ibu-Ibu KWT Saluyu dan PPL KWT Saluyu

Kontak Fathur Rahman



Nama : Fathur Rahman
Alamat Asal : Sungai panji-Panji, Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir,                        Provinsi Riau Indonesia
Alamat Sekarang : Dramaga Regency, Blok D-20, Kelurahan Bogor Barat, Kota Bogor
Institusi : Mahasiswa Manajemen Hutan IPB angkatan 51 (2014)
Alamat Email : Fathur30rahman@yahoo.com / Fathur30rahman@gmail.com
Alamat Ig, Fb, dan Twitter : @acik_fathur, Acik_fathur, dan @fathur_30
Motto Hidup : "Mencari Sesuatu yang Bisa Bermanfaat Bagi Banyak Orang"
          DPM Fahutan IPB "Dewan Integrasi 2017"

Jumat, 13 Mei 2016

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia

Potensi Artikel Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia




Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan terluas di dunia. Data statistik tahun 1993 mencatat luas hutan Indonesia sekitar 141,8 juta hektar. Data lainnya menyebutkan luas hutan Indonesia menempati urutan ke – 9 terluas di dunia setelah Australia dan Argentina dengan luasan 884.950 Km2. Keanekaragaman hayati yang di kandung oleh hutan Indonesia sangatlah melimpah. Dari hasil survei IBSAP ( Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) pada tahun 2003 diketahui bahwa di Indonesia terdapat 515 jenis mamalia (36% endemik, peringkat pertama dunia), 35 jenis primate (25% endemik), 511 jenis reptil, 1.531 jenis burung (sebagian jenis endemik), 270 jenis amfibi, dan 212 jenis kupu-kupu (44% endemik). Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia juga memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, mulai dari potensi hutan yang bersifat kayu, maupun potensi hutan bukan kayu. Pada tahun 1997, sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar dolar untuk devisa negara. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total. Melihat potensi hasil hutan bukan kayu, potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan mengingat keanekaragaman jenis tanaman hutan Indonesia yang sangat banyak manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak langsung (intangible).
Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), hasil hutan bukan kayu adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Defenisi lainnya menyebutkan segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain.  Di Indonesia sampai saat ini budidaya tanaman HHBK belum banyak dilaksanakan, sebagian besar produk HHBK masih diambil dari dalam hutan sehingga produksi HHBK yang berkesinambungan tidak lagi terjamin. Akibatnya sumberdaya HHBK menjadi hancur bahkan beberapa jenis masuk kategori langka, seperti gaharu, damar rasak, jelutung, kapur barus, jermang, ketiau, balau dan lain-lain sudah masuk ke dalam daftar Appendix II CITES (Sumadiwangsa dan Mas’ud, 1999).
Sesuai dengan dengan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan No. P.21/Menhut-II, 2009. jenis komoditi HHBK digolongkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu HHBK Nabati dan HHBK Hewani. HHBK Nabati meliputi kelompok resin (damar, gaharu, kemenyan, getah tusam), kelompok minyak atsiri (cendana, kulit manis, kayu putih, kenanga), kelompok minyak lemak, pati, dan buah – buahan (buah merah, rebung bambu, durian, kemiri, pala, vanili), kelompok tannin, bahan pewarna, dan getah (kayu kuning, jelutung, perca, pinang, gambir), kelompok tumbuhan obat – obatan dan tanaman hias (akar wangi, brotowali, anggrek hutan), kelompok palma dan bambu (rotan manau, rotan tahiti), kelompok alkaloid (kina), dan kelompok (nipah, pandan, purun). HHBK Hewani meliputi kelompok kelas hewan buru (babi hutan, kelinci, kancil, rusa, buaya), kelompok hewan hasil penangkaran (arwana, kupu – kupu, rusa, buaya), kelompok hasil hewan (sarang burung walet, kutu lak, lilin lebah, ulat
sutera, lebah madu).

Hasil hutan bukan kayu sangat berpotensi sebagai komoditas kehutanan. Hasil hutan bukan kayu dapat menyelamatkan eksploitasi terhadap sektor kehutanan ketika potensi hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dengan baik. Hasil hutan non kayu ini bisa dibilang sangat menguntungkan, karena dari satu jenis saja kita bisa memanfaatkan bagian bagian dari suatu jenis tumbuhan tersebut. Apakah daunya, akarnya, maupun buahnya. Penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari pemenuhan kebutuhan, sebagai barang-barang penghias bahkan sebagai obat-obatan. Berikut adalah beberapa contoh hasil hutan non kayu beserta potensi yang dimilikinya.

1.      Potensi rotan
Luas kawasan hutan yang merupakan habitat alam rotan seluas 2.215.625 ha.  Di Indonesia terdapat kurang lebih 306 spesies rotan telah teridentifikasi dan menyebar di semua pulau di Indonesia. Dari keseluruhan yang teridentifikasi, rotan yang sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 128 jenis. Sementara itu rotan yang sudah umum diusahakan/ diperdagangkan dengan harga tinggi untuk berbagai keperluan baru mencapai 28 jenis saja (Baharuddin dan Taskirawati, 2009). Rotan dapat digunakan untuk membuat keranjang, tikar, mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, penangkap ikan, perangkap binatang, tirai, kurungan burung, ikatan pada rumah, pagar, jembatan, perahu dan untuk hampir semua tujuan lain apapun yang menuntut kekuatan dan kelenturan yang digabungkan dengan keringanan.

2.      Sagu
Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha (diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional 14.000 ha). Menurut Prof. Bintoro, untuk menghasilkan 30 juta ton beras per tahun diperlukan lahan seluas 12 juta hektare, sedangkan untuk menghasilkan 30 juta ton sagu hanya diperlukan lahan seluas satu juta hektar. Sebagaimana kita ketahui bahwa sagu dapat menggantikan peran beras untuk kebutuhan pokok manusia.

3.      Nipah
Indonesai memiliki daerah tanaman nipah seluas 10% atau 700.000 ha dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha. Penyebarannya meliputi wilayah kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Populasi tanaman nipah diperkirakan sekitar 8.000 pohon/ha, sehingga dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5,6 miliar pohon. Dari jumlah tanaman yang ada per hektar, jumlah malai (tangai bunga) yang dapat dihasilkan sekitar 10% atau sekitar 800 tangkai bunga. Jika pemeliharaan dan perawatannya intensif, persentase jumlah malai meningkat sekitar 40% atau sebanyak 3.200 tangkai bunga. Tanaman nipah menghasilkan nira yang diperoleh dari hasil sadapan tangkai bunga (malai). Komposisi nira nipah menagndung kadar gula (Brix) 15-17%, sukrosa 13-15%, gule pereduksi 0,2-0,5%, dan abu 0,3-0,7%.  Nira tersebut dapat diolah emnajdi gula, baik  dinuat sebagai gual merah, gual semut, gula pasir, maupun sirup. Di Malaysia dan Filipina nira nipah selain diolah  menjadi gula juga diolah menjadi vinegar, cuka dan alkohol.

4.    Biji Kepuh (Sterculia foetida)
Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan sebagai bahan konsumsi  seperti halnya minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga mampu tumbuh dengan mudah  di lahan kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di seluruh Nusantara (Heyne, 1987).

5.    Biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour)
Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.







   

Minggu, 27 Maret 2016

Dampak Alih Fungsi Lahan

Dampak Alih Fungsi Lahan Hutan 

Indonesia dikenal dengan julukan negara agraris. Berbagai macam jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat ditemukan di Indonesia.  Luas lahan pertanian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2014 adalah 41,5 juta hektar. Terdiri dari 567 ribu hektar tanaman hortikultura, 19 juta hektar tanaman pangan, dan 22 juta hektar tanaman perkebunan. Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan penduduk terpadat ke empat di dunia. Berdasarkan data CIA World Factbook tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia 225.993.674 jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan jumlah penduduk Dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Mulai dari minyak bumi, batu bara, emas, timah dan lain sebagainya yang berada di bawah bumi, sampai spesies-spesies yang langka dan tanaman perkebunan yang dapat ditemukan di permukaan buminya. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 47% mengungguli Malaysia di tempat ke 2 dengan 39%. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
Fakta diatas menunjukkan betapa kayanya Indonesia. Kalau melihat lebih dekat lagi dari mana kebutuhan lahan yang dapat menampung itu semua? Dengan desakan kepadatan penduduk yang kian tahun kian meningkat untuk areal pemukiman, dengan kebutuhan perekonomian yang menghidupi ratusan juta rakyat Indonesia, dengan tuntutan pembangunan infrastruktur yang menjadi ikon kemajuan suatu daerah, dengan berbagai alasan mengundang investor untuk berinvestasi demi kemajuan daerah. Sementara kita ketahui bahwa seiring meningkatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diiringi dengan pertambahan lahan untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Lantas bagaimana cara pemenuhan kebutuhan tersebut? Ya, cara yang paling ampuh adalah cara mengalihfungsikan lahan. Baik mengalihkanfungsikan lahan hutan menjadi areal pertanian, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal pertambangan, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal perkebunan, dan mengalihfungsikan lahan hutan atau lahan pertanian menjadi areal pemukiman. Dari kasus ini yang paling banyak dialihfungsikan adalah areal hutan.
Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia. Menurut buku tersebut, Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola setiap jamnya. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun. Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar (Sumber : Kompas.com).
  Deforestasi (penebangan hutan) menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal, 80 persen keanekaragaman hayati terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman pemanasan global. Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia menyangkut berbagai permasalahan yang saling terkait, termasuk perampasan dan penguasaan hutan, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan hasil hutan ilegal, dan kemiskinan. Pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen secara mandiri dan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2020. Pemerintah Indonesia menegaskan kembali janji tersebut minggu ini dalam sebuah pertemuan antara pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta perwakilan dari lembaga internasional.
Sebagaimana kita ketahui bahwa hutan berfungsi sebagai penyeimbang fungsi ekosistem. Peranan hutan sangat penting dalam sistem penyangga kehidupan. Hutan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air yang baik, sebagai habitat bagi flora dan fauna, mengurangi polusi pencemaran udara, sebagai penyubur tanah, sebagai paru-paru dunia dengan menyuplai oksigen untuk kehidupan, sebagai penahan erosi dan lain sebagainya. Ada anekdot mengatakan bahwa forest is the mother of agriculture, artinya hutan sebagai penyeimbang fungsi pertanian dengan menyuplai air untuk pertanian tersebut. Namun bisa dibayangkan dengan kondisi hutan kita sekarang yang maraknya dialihfungsikan ke bentuk lain akan menyebabkan fungsi hutan terganggu. Boleh kita lihat bencana alam dimana-mana, seperti banjir, erosi, tanah longsor, pemanasan global yang banyak diisukan oleh dunia internasional. Berapa banyak kerugian negara akan kasus ini?. Itu baru kasus yang berkaitan dengan alam, belum lagi akhir-akhir ini banyak terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan terkait alih fungsi lahan hutan ini. Konflik yang terjadi kebanyakan mengorbankan masyarakat kecil, bukan hanya harta bahkan nyawa pun terkorbankan.
Alih fungsi kawasan hutan memang diperbolehkan Undang-Undang. Hanya ada aturannya. Pasal 19 ayat (1), UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyatakan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. Namun, alih fungsi hutan tentu tidak boleh dilakukan secara sembarang. Jika alih fungsi hutan ini berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, maka harus ditetapkan oleh pemerintah dan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Yang dimaksud dengan berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis ini adalah adanya perubahan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan gangguan tata air serta adanya dampak sosial masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang. 

Hingga saat ini pemerintah telah memberikan solusi akan masalah alih fungsi lahan ini, seperti menerapkan denda untuk penebangan hutan dan hukum pidana. Ketentuan pidana yang di atur dalam Pasal 50 dan sanksi pidananya dalam Pasal 78 UU No. 41 / 1999, merupakan salah satu dari upaya perlindungan hutan dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari. Maksud dan tujuan dari pemberian sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang yang melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar hukum di bidang kehutanan (penjelasan umum paragraph ke 18 UU No. 41 / 1999). Efek jera yang dimaksud bukan hanya kepada pelaku yang telah melakukan tindak pidana kehutanan, akan tetapi kepada orang lain yang mempunyai kegiatan dalam  bidang kehutanan menjadi berpikir kembali untuk melakukan perbuatan melanggar hukum karena sanksi pidananya berat. (Fathur Rahman).

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification
Downloaded from Free Templates