Tim Peneliti EHHBK FMSC 2017
Eksplorasi Hasil Hutan Bukan Kayu adalah kegiatan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan Forest Management Student's Club (FMSC), pada tahun 2016 dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi untuk menelaah potensi Cabe Jawa
Inventarisasi Hutan Mangrove Pangandaran
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan Praktik Umum Kehutanan (PUK) Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB angkatan 51 tahun 2016
Para Praktikan Praktik Umum Kehutanan 2016
Mencoba sesuatu yang berbeda, walaupun dikenal dengan Mahasiswa Kehutanan, tapi coba main ke laut, ASIK juga hehe. Dalam Rangka menjalankan Praktik Umum Kehutanan 2016
Minggu, 16 April 2017
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PENGANTAR ILMU TANAH
1.1
Latar Belakang
a. Faktor-faktor
Pembentukan Tanah
Tanah
merupakan benda alam yang tersusun dari padatan (mineral dan bahan organik),
cairan dan gas yang menempati permukaan daratan dan ruang oleh adanya horizon
atau lapisan yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sehingga tanah menyediakan
unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhannya. Tanah yang
terbentuk dari bahan-bahan berupa bahan mineral dan organik, air serta udara
tersusun didalam ruangan yang membentuk tubuh tanah. Akibat berlangsungnya
proses pembentukan tanah, maka terjadilah perbedaan morfologi, kimia, fisis dan
biologi dari tanah yang berbeda-beda pula (Hakim, dkk, 1986).
Proses
pembentukan tanah pada tiap wilayah berbeda-beda walaupun memiliki bahan induk
yang sama. Hal ini tidak terlepas dari faktor pembentuk lain seperti : iklim,
topografi, organisme dan waktu. Hasil proses yang berbeda ini akan menimbulkan
keragaman ciri atau sifat tanah (Foth, 1995). Faktor-faktor yang berinteraksi
dalam pembentukan tanah adalah bahan induk, relief (topografi), iklim,
organsime, dan waktu. Kelima faktor ini sangat berpengaruh satu sama lain
walaupun beberapa tempat sering dijumpai hanya satu faktor saja yang jelas pengaruhnya
(Hardjowigeno, 1986).
b.
Tekstur, warna,
dan konsistensi tanah
Didunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting,
tanah sangat dibutuhkan tanaman. Dengan bertambah majunya peradaban
manusia yang sejalan dengan perkembangan pertanian dan disertai perkembangan
penduduk yang begitu pesat, memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah
tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian pokok pada
waktu itu. Mengetahui masalah tersebut maka diperlukan pembelajaran lebih dalam
mengenai tanah, yaitu mempelajari tekstur, warna dan konsitensi tanah.
Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir
yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu, pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri
dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir,
debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung.
Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin
kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya
terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi
lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar
akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah
dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur
hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami
kekeringan dan kekurangan hara.
Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih
banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai
efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat
dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi
putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan
atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi
campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk
spot-spot, disebut karatan(Tan 1995).
Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya
kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda
lain. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan
ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang
menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi
(tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah.
Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan
adhesi diantara partikel – parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap
perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang
mempengarui bentuk tanah (Kohnke 1968).
Pengambilan sampel
tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah
secara utuh/tak terusik dan pengambilan contoh tanah tak utuh atau terusik (Agus
et.al,2008). Contoh tanah tak terusik diperlukan untuk analisis penetapan berat
jenis atau berat volum,agihan ukuran pori dan permeabilitas (Agus et,al,2008).
Contoh tanah terusik diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan
Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks
patahan, konduktifitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah
menggunakan hujan tiruan (Agus et.al,2008). Selain itu pada contoh tanah
terusik juga dapat diamati warna tanah.
c.
Pengamatan sifat-sifat morfologi tanah latosol dan pedsolik
Sifat morfologi
tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang.
Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari
tanah tersebut. Sifat fisik dan morfologi tanah tersebut meliputi batas-batas
horison, warna tanah, tekstur dan struktur tanah, konsistensi, drainase tanah,
kerapatan lindak (bulk density), pori-pori tanah, potensi mengembang dan
mengerut (nilai COLE), kematangan tanah (nilai-N), dan sifat-sifat lain seperti
keadaan batuan, padas (Pan), kedalaman efektif dan lereng.
Penyebaran
jenis-jenis tanah di Indonesia yang termasuk subur adalah adalah tanah-tanah
Inceptisol, Entisol, Vertsol, Alfisol. Tanah-tanah ini sebagian besar sudah
diusahakan manusia. Walaupun termasuk tanah yang cukup subur, tetapi untuk
peningkatan produksi masih diperlukan saha-usaha intensifikasi antara lain
dengan pemupukan dan pemeliharaan tanah dan tanaman yang sebaik-baiknya. Tanah-tanah
yang belum diusahakan di Indonesia umumnya tinggal tanah-tanah yang kurang baik
yang disebut tanah marginal. Walaupun demikian dengan kemajuan-kemajuan
tekologi, tanah-tanah ini pun di masa mendatang akan dapat diusahakan dengan
baik. Tanah- tanah marginal ini sekarang merupakan sasaran pemerintah untuk
melakukan perluasan areal pertanian (ekstensifikasi). Melalui kegiatan
pengamatan morfologi tanah, akan dilakukan pendeskripsian informasi dari dalam
profil dan kondisi lingkungan sekitarnya. Dari situ akan diketahui kemampuan
atau kesesuaian tanah dari masing-masing jenis tanah untuk penggunaan-pengunaan
tanah tertentu.
d.
Pengenalan pupuk
Penggunaan pupuk di
dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian,
pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya
penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli
lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari
pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga
terhadap kesehatan manusia.
Pupuk merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja
dan modal. Pemumupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil
pertanian. Anjuran pemupukan terus ditingkatkan melalui program pemupukan
berimbang, namun sejak sekitar tahun 1986 terjadi gejala pelandaian
produktivitas ( leveling off ), suatu petunjuk terjadi penurunan efesiensi
pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati.
Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda
untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis
tanah, memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa
hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan
antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu
pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan
tingginya hasil tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil
oleh tanaman dari dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara
dari dalam tanah berlangsung secara pararel terhadap pembentukan bahan kering
atau produksi tanaman. Sehingga untuk tahun-tahun pertanaman berikutnya unsure
hara yang berada didalam tanah lambat laun akan terus berkurang.
e.
Pengenalan data sifat kimia dan fisika
tanah
Tanah seperti kita telah ketahui
tesusun dari bahan anorganik (mineral) dan bahan organik. Selain kedua bahan
tersebut di dalam massa tanah terdapat dua bahan lainya yaitu air dan udara.
Dengan demikian dapat pla kita katakana bahwa tanah terdiri dari 3 fase yaitu
fase padat, cair dan gas. Fase padat yaitu bahan mineral dan bahan organik
menempati 50% volume tanah, sedangkan sisanya yang berupa rang pori-pori tanah
ditempati oleh fase cair dan gas yang perbandinganya selalu beubah- ubah
tergantung pada musim dan cara pengelolaan tanah. Adapn perandingan bahan
mineral dan bahan organik juga bervariasi. Pada tanah mineral jumlah bahan
mineral lebih besar daripada bahan organik, tetapi pada tanah organik terjadadi
sebaliknya.
Sifat-sifat fisika tanah adalah
sifat-sifat tanah yang ditentukan oleh bahan penyusunya. Sifat-sifat fiska
tanah ini sangat penting untuk anada ketahui, karena memiliki pengarh yang
besar terhadap pertumbuhan dan prodksi tanaman yang tumbuh di ats tanah
tersebut. Sifat-sifat fisika tanah mempengaruhi ketersediaan air di daam tanah,
menentukan penetrasi (penembusan) akar di dalam tanah, sifat drainase dan
aerasi tanah, serta ketersediaan nsur-nsur hara tanaman. Sifat-sifat fisika tanah
juga mempengaruhi sifat-sifat kimia dan biologi tanah.
Selain sifat fisika tanah juga
memiliki sifat kimia diman didalamnya terdapat kapasitas tukar kation (KTK)
merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah.
Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK
lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau
tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan
tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah
dipengaruhi oleh : reaksi tanah, tekstur atau jumlah liat, jenis mineral liat,
bahan organik dan, pengapuran serta pemupukan. Soepardi (1983) mengemukakan
kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta
macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.
f.
Pengenalan eveluasi kesuburan tanah, menghitung
kebutuhan pupuk dan kapur
Tanaman memerlukan makanan yang sering disebut
hara tanaman (plantnutrient) untuk memenuhi siklus hudupnya. Apabila suatu
tanaman kekurangansuatu unsur hara, maka akan menampakkan gejala pada suatu
organ tertentu yangspesifik yang biasa disebut gejala kekahatan. Unsur hara
yang diperlukan tanamantidak
seluruhnya dapat dipenuhi
dari dalam tanah.
Oleh karena itu
perlupenambahan dari luar
biasanya dalam bentuk pupuk.
Pupuk adalah bahan yangdiberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi
kebutuhan unsur harabagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat
fisika, kimia danbiologi tanah.Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika,
kimia dan biologi tanah.Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif,
tekstur, struktur, kelembabandan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi
reaksi tanah (pH tanah), KTK,kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur
hara, cadangan unsur hara danketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman.
Sedangkan biologi tanah antara lainmeliputi aktivitas mikrobia perombak bahan
organik dalam proses humifikasi danpengikatan nitrogen udara. Evaluasi
kesuburan tanah dapat dilakukan melaluibeberapa cara, yaitu melalui pengamatan
gejala defisiensi pada tanaman secaravisual,
analisa tanaman dan
analisa tanah. Analisa
tanaman meliputi analisa1
serapan hara makro primer (N, P dan
K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihatpertumbuhan tanaman. Sedangkan
analisa tanah meliputi analisa ketersediaan haramakro primer (N, P dan K) dalam
tanah. Pembuatan makalah ini
dimaksudkanuntuk membahas beberapa
hal terkait dengan
kesuburan tanah, sehinggapemakalah mampu memahami
dan menjelaskan dasar-dasar kesuburan tanah,indikator kesuburan tanah, evaluasi
kebutuhan pupuk dan perbaikan kesuburantanah.
g.
Pengenalan peta geologi, peta topografi dan peta
satauan lahan
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa batuan di bumi
terdiri dari batuan yang terbentuk di dalam permukaan bumi (Plutonik) dan
batuan yang terbentuk di permukaan bumi (Vulkanik). Selain itu terdiri dari
berbagai macam jenis yang mana memiliki ciri tersendiri dalam mengidentifikasikannya.
Beberapa jenis di antaranya yaitu Batuan beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf. Ketiganya memiliki struktur permukaan yang berbeda-beda utamanya
dalam gambaran pada peta geologi. Perbedaan ini di tandai dengan pemberian
warna yang berbeda-beda dan memiliki ciri warna yang telah di sepakati dan
sudah di tetapkan. Dalam menggambarkan bentuk sebaran batuan salah satu jenis
batuan yang membutuhkan pengukuran yang teliti dan di perlukan kedisiplinan
dalam melakukannya adalah dalam mengukur strike dan dip dari suatu batuan.
Hasil dari pengukuran akan menjadi data dan di tuangkan dalam bentuk symbol
strike dan dip. Pemberian symbol ini di maksudkan agar menjadi pelengkap dalam
menentukan struktur batuan yang ada baik yang ada di permukaan maupun yang ada
di dalam permukaan.
Peta topografi adalah
jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur
dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau
lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur
merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak
berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi.
Satuan lahan
adalah bagian dari lahan yang mempunyai
karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan
karakteristik lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam
membuat batas-batasnya, dapat dipandang sebagai satuan lahan untuk evaluasi
lahan. Namun demikian evaluasi lahan akan lebih mudah dilakukan apabila satuan
lahan didefinisikan atas kriteria0kriteria
karakteristik lahan yang digunakan dalam evaluasi lahan. (FAO 1990).
h.
Pengenalan peta tanah, peta kemampuan
lahan, peta kesesuaian lahan
Dalam menganalisis
kegunaan tanah untuk dimanfaatkan maka perlu untuk menegenal karakteristik dari
tanah tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui peta, diantaranya ada peta
tanah, peta kemampuan lahan, dan peta kesesuaian lahan. Peta tanah adalah sebuah peta yang
menggambarkan variasi dan persebaran berbagai jenis tanah atau
sifat-sifat tanah (seperti pH, tekstur, kadar organik, kedalaman, dan
sebagainya) di suatu area. Peta tanah merupakan hasil dari survey tanah dan
digunakan untuk evaluasi sumber daya lahan, pemetaan ruang, perluasan lahan
pertanian, konservasi, dan sebagainya. Satuan peta
tanah disebut satuan peta tanah (SPT). Dalam peta tanah, terdapat data
primer yang merupakan hasil dari pengukuran langsung di lapangan dan data
sekunder merupakan hasil dari perhitungan dan/atau perkiraan berdasarkan data
yang didapatkan di lapangan. Contoh data sekunder yaitu kapasitas produksi
tanah, laju degradasi, dan sebagainya.
Peta kemampuan
lahan adalah peta yang menyajikan hasil evaluasi kemapuan lahan pada suatu
wilayah. Klasifikasi kemampuan lahan merupakan penilaian kemampuan lahan untuk
penggunaan pertanian secara umum tanpa
menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang, sementara peta kesesuain lahan
adalah peta yang menggambarkan tingkat kecocokan dari sebidang lahan untuk
penggunaan tertentu. Kelas kesesuaian lahan suatu wilayah dapat berbeda
tergantung tipe penggunaan lahan yang diinginkan. Evaluasi kesesuaian lahan
dengan cara membandingkan kecocokan antara kualitas dan karakteristik lahan
sebagai parameter dengan kriteria kelas kelsesuaian lahan yang disusun
berdasarkan persyaratan tumbuh tanaman atau penggunaan lahan yang dievaluasi.
1.2
Tujuan
a.
Faktor-faktor pembentukan tanah
-
Mengenal faktor-faktor pembentuk tanah
-
Mengenal ciri-ciri tanah dari faktor
pembentukan tanah
-
Menduga tingkat kesuburan tanah yang
terbentuk dari bahan induk
b.
Tekstur, warna, dan konsistensi tanah
-
Mengetahui perbedaan tekstur, warna dan
konsistensi tanah
-
Menetapkan tekstur tanah dengan metode
perasaan
-
Mengidentifikasi warna tanah dalam kondisi
kering dan lembab
-
Menetapkan konsistensi tanah dalam kondisi
basah (kelekatan dan plastis tanah)
c.
Pengamatan sifat-sifat morfologi tanah Latosol dan Pedsolik
-
Mengamati sifat-sifat morfologi tanah
melalui profil tanah
-
Mengetahui jenis-jenis Latosol dan
Pedsolik beserta sifat umumnya
d.
Pengenalan pupuk
-
Mengetahui jenis-jenis pupuk
-
Mengetahui zat yang terkandung didalam
pupuk
-
Mengetahui kegunaan pupuk
e.
Pengenalan data sifat kimia tanah dan
sifat fisika tanah
-
Mengetahui sifat kimia dan fisika yang
terkandung didalam tanah
-
Menginterpretasi data sifat fisika tanah hasil
analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan
IPB
-
Mengenalkan data sifat kimia tanah hasil
analisis laboratorium
f.
Pengenalan evaluasi kesuburan tanah,
menghitung kebutuhan pupuk dan kapur
-
Dapat menentukan status unsur hara di
dalam tanah
-
Dapat menghitung kebutuhan pupuk dan
kebutuhan kapur
g.
Pengenalan peta geologi, peta topografi,
dan peta satuan lahan
-
Mengenalkan informasi yang disajikan di
dalam peta geologi, peta topografi, dan peta satuan lahan
-
Dapat membaca peta geologi, peta topografi, dan peta satuan
lahan
-
Dapat menentukan posisi di dalam peta
h.
Pengenalan peta tanah, peta kemampuan
lahan, peta kesesuaian lahan
-
Mengenalkan informasi yang disajikan di
dalam peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
-
Dapat membaca peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian
lahan
-
Dapat menentukan posisi di dalam peta
tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
BAB II
METODELOGI
2.1
Alat, Bahan, dan
Prosedur
a.
Faktor-faktor
Pembentukan Tanah
Presedur
-
Menceritakan
keadaan tanah masing-masing dari anggota kelompok dan menganalisis sesuai
dengan tugas yang telah diberikan
b. Tekstutur,
Warna, dan Konsistensi Tanah
Alat
-
Piring plastik, ember, dan gayung
Bahan
-
Tanah latosol Dramaga, tanah podsolik Jasinga, tanah andosol
Sukamantri, tanah regosol Ciomas, dan air
Prosedur
-
Praktikan menganalisis tanah yan g telah tersedia (empat
ember tanah dengan jenis yang berbeda) dalam menganalisis dan memperhatikan
tekstur, warna, dan konsistensinya. Dalam
menentukan tekstur, warna dan konsistensi terlebih dahulu praktikan
menjadikan tanah dalam bentuk pasta Menentukan tekstur dengan memirit tanah dengan memperhatikan
kehalusan,kelicinan, kekasaran, dan daya tahan dari semua tanah. Selanjutnya tanah tersebut akan dilihat konsistensinya
mulai dari konsistensi keringnya, konsistensi lembab , dan konsistensi basahnya
dari kelekatan tanah tersebut. Kemudian praktikan
mencocokan warna tanah baik dalam keadaan lembab ataupun kering dengan
menggunakan Buku Munsell Soil Color Chart.
c. Morfologi Tanah Latosol dan Pedsolik
Alat
-
Bor belgi, cangkul, skop, ember, air, meteran, pisau lapang,
soil munsell color chart, pH meter, abney level, GPS
Prosedur
-
Cara pembuatan profil tanah : ukuran lubang profil tanah umumnya sekitar 1,5
m x 1 m dengan kedalaman 1,5 m sampai 2 m. Jika sebelum mencapai kedalaman 1,5
meter telah ditemukan bahan induk, maka penggalian profil dihentikan. Penempang
profil yang akan diamati sebaiknya menghadap datangnya sinar matahari agar
pengamatan profil tanah menjadi terang. Cara
penarikan batas horison : perhatikan warna pada penampang tanah, tempat
terjadi perubahan warna ditarik sebagai batas hirison. Pada umumnya profil
tanah mem[unyai horison tipis pada bagian atas yang berwarna gelap. Pada bagian
yang tidak dapat dibedakan warna, tusuk-tusuk dengan pisau lapang sambil
meremas bekas tusukan tanah. Dengan tusukan tersebut dapat dibedakan lapisan
yang gembur, agak keras,dll. Jika cara itu
tidak bisa membedakan maka penarikan batas horison dapat didasarkan pada
perbedaan struktur, tekstur, dan konsistensi. Cara pengamatan sifat morfologi tanah : dilakukan lebih detail
daripada hanya sekedar pengamatan profil tanah untuk mengetahui pelapisan
tanah. Hasilnya dicatat dalam kartu deskripsi, yang diamati dalam
pendeskripsian itu adalah lapisan horison, ketebalan horison, topografi batas
horison, sifat dan ciri tanah pada setiap horison, sifat yang diamati meliputi
warna, tekstur, struktur, konsistensi, karatan, bahan kasar, perakaran , dan
kedalaman efektif tanah.
d. Pengeanalan pupuk
Alat
-
Alat tulis
Bahan
-
Berbagai macam pupuk dengan bentuk kristal, serbuk , granula,
dan cair
Prosedur
-
Mengamati satu per satu dari 25 jenis pupuk. Mengklasifikasikan setiap jenis
pupuk tersebut berdasarkan nama pupuk, rumus kimia, bentuk, warna, unsur utama,
dan unsur ikutan. Menggolongkan
masing-masing jenis pupuk berdasarkan kandungannya, termasuk tunggal atau
majemuk.
e.
Pengenalan
data Sifat Kimia dan Fisika Tanah
Bahan
-
Data
sifat fisika tanah hasil analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu
Tanah Faperta IPB
-
Data
sifat kimia tanah hasil analisis laboratorium fisika tanah Departemen Ilmu
Tanah Faperta IPB
Prosedur
-
Menghitung dan mencocokkan ulang data sifat fisika dan kimia
tanah hasil analisis laborarium fisika Departemen Ilmu Tanah Faperta
IPB
f.
Evaluasi Status Unsur Hara Tanah, Menghitung Kebutuhan Pupuk
Dan Kapur
Prosedur
-
Menghitung status unsur hara latosol dan pedsolik data sifat
kimia tanah yang digunakan dalam praktikum pengenalan sifat kimia tanah.
g. Pengenalan Peta Topografi, Peta Geologi, dan Peta
Satuan Lahan
Bahan
-
Peta geologi lembar Bogor skala 1 : 100.000, peta topografi
skala 1 : 25.000, peta land sistem skala 1 : 250.000
Prosedur
-
Menyediakan ketas jilid bening ukuran 20 cm x 20 cm dan
dijiplak di peta topografi dengan
menetukan koordinatnya lalu mencocokkan dengan peta geologi dan peta satuan
lahan dengan koordinat yang diketahui dari peta topografi.
h. Pengenalan Peta Tanah, Peta Kemampuan Lahan, dan
Peta Kesesuaian Lahan
Bahan
-
Peta tanah skala 1 : 50.000 dan skala 1 : 250.000, peta
kemampuan lahan skal 1 : 100.000, dan peta kesesuaian lahan skal 1 : 50.000
Prosdeur
-
Menentukan lokasi lahan dengan koordinat peta dan mencatat
informasi yang terkandung didalam peta tanah, peta kemempuan lahan, dan peta
kesesuaian lahan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Mempelajari mata kuliah pengantar
ilmu tanah sangat berguna sekali dalam menunjang ilmu yang berkaitan dengan
pertanian dalam arti luas khususnya di bidang pertanian dan kehutanan. Dalam
bidang kehutanan khususnya mempelajari ilmu tanah sangat membantu dalam
memperbaiki hutan untuk kedepannya. Mengetahaui unsur-unsur pembentuk tanah yang terdiri dari 5 faktor yaitu, bahan
induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu dapat membantu dalam penentuan
tingkat kesuburan tanah di suatu lahan yang akan dijadikan lahan penanaman
hutan baru. Mengetahui tekstur, warna, dan konsistensi tanah dapat berguna
untuk melihat kecocokan jenis-jenis
tanah dalam penanaman kembali hutan baru. mengetahui sifat-sifat
morfologi tanah latosol dan pedsolik
berguna untuk melihat profil tanah dan mengetahui sifat-sifat tanah yang akan digunakan untuk penanaman hutan
baru. Mengetahui Pengenalan pupuk sangat berguna sekali dalam penanaman hutan
terutama dengan mengetahui jenis-jenis pupuk dan kegunaannya serta cara
pemakaiannya dapat membantu dalam laju pertumbuhan pohon-pohon yang bermasalah
secara cepat dan tepat sasaran. Mengetahui Pengenalan data sifat kimia dan
fisika tanah juga sangat berguna dalam pengenalan sifat-sifat tanah, khususnya
untuk pemupukan dan aerasi tanah, dengan mengetahui sifa kimia tanah sangat membantu dalam pengkajian kebutuhan
pupuk, dengan menegetahu sifat fisika tanah dapat membantu dalam penghitungan
laju aerasi tanah. Mengetahui Pengenalan evaluasi kesuburan tanah, menghitung
kebutuhan pupuk dan kapur sangat membantu
dalam menghitung jumlah kebutuhan pupuk dan kapur dan dapat mengetahui
unsur hara di dalam tanah, sehingga mempermudah dalam proses pemupukan dan
pengapuran. Mengetahui Pengenalan peta geologi, peta topografi, dan peta satuan
lahan dapat membantu dalam membaca dan mengetahui
informasi yang ada di peta tersebut
sehingga dapat memudahkan dalam mengidentifikasi tanah, begitu juga dalam
mengetahui Pengenalan peta tanah, peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan
itu juga sangat penting dan dapat membantu dalam penentuan posisi tanah,
kesesuaian tanah dengan tanaman apa yang ingin kita tanam dan mengetahui kemampuan tanah tersebut
dengan tanaman yang kita tanam. Segala yang dipraktikumkan dalam mata kuliah
Pengantar Ilmu Tanah sangat bermanfaat khususnya bagi praktikan dalam menunjang
ilmu yang berkaitan dengan itu.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Cahyono, Dewi Wulan Sari, Daryono
Prehaten.2008.Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah.Laboratorium Tanah Hutan. Yogyakarta(ID):
Jurusan Budidaya Hutan Fakultas Kehutanan UGM.
Foth.1998.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta (ID):
Gadjah Mada University Press.
Hakim
N, Nyakpa M, Y.Nugroho S, G.B.Barley H.H. 1986. Dasar dasar Ilmu Tanah. Lampung (ID): Universitas Lampung.
Hardjowinego S.1992.
Ilmu Tanah. Jakarta (ID): PT.
Mediyataina Sarana Perkasa.
Kohnke,H. 1968. Soil Physic. New York (US): Mc Graw
Hill Book Company.
Soepardi, G. 1983.
Sifat dan Ciri Tanah. Bogor (ID):
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Tan, K. H. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Yogyakarta
(ID): UGM Press. Terjemahan: D. H. Goenadi.
LAPORAN PRAKTIKUM SEGITIGA API DAN PEMINDAHAN PANAS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Api
merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan. Api terbentuk karena
adanya interaksi antara sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketiga unsur
bahan baku proses pembakaran tersebut dikenal denga segitiga api. Apabila ada
salah satu unsur yang tidak terpenuhi, maka tidak dapat terjadi pembakaran.
Selama ini hal yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi hutan diantaranya
adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh api (Purbowaseso 2004). Maka dari
itu perlunya mempelajari komponen pembentukan api untuk mencegah kebakaran
hutan.
Api menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk
kegiatan sehari-hari. Panas tersebut dapat dimanfaatkan karena memiliki sifat berpindah
dari tempat bersuhu tinggi ke tempat yang bersuhu lebih rendah. Panas berpindah
dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas sering juga
dijumpai dalam kegiatan sehari-hari antara lain: api unggun, memasak air,
menjemur pakaian, dan lain-lain. Praktikum pemindahan panas ini juga
dimaksudkan untuk mengetahui macam-macam pemindahan panas.
1.2
Tujuan
praktikum
1. Konsep
Segitiga api
Untuk membuktikan bahwa
untuk terjadinya proses pembakaran harus tersedia ketiga unsur bahan baku
proses pembakaran yaitu bahan bakar, sumber panas, dan oksigen.
2. Pemindahan
panas
Untuk menentukan
macam-macam cara pemindahan panas pada suatu proses pembakaran.
BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1
Bahan
dan alat
1. Konsep
segitiga api
a. Lilin
b. Gelas
ukur 200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml
c. Korek
api
d. Alat
pengukur waktu
2. Pemindahan
panas
a. Lampu
teplok
b. Korek
api
c. Alat
pengukur waktu
2.2
Metode
Praktikum
1. Konsep
Segitiga api
a. Menyiapkan
alat dan bahan.
b. Mengukur
sumbu pada lilin sepanjang 0,5 cm- 1cm.
c. Menyalakan
lilin dengan menggunakan korek api (diamkan sampai nyala api stabil).
d. Menutup
lilin dengan gelas ukur dalam berbagai ukuran yang telah disediakan, secara
bergantian.
d.
Menghitung lamanya waktu penyalaan
lilin dari lilin ditutup sampai nyala apinya padam.
e.
Melakukan percobaan sebanyak tiga
kali pengulangan untuk masing-masing ukuran gelas.
f.
Sebelum di lakukan pengulangan,
kondisi gelas harus dalam keadaan dingin.
2. Pemindahan
panas
a.
Menyediakan lampu templok yang telah
terisi minyak tanah.
b. Menyalakan
lampu templok tersebut dengan korek api (tunggu sampai nyalal api maksimal
sebelum ditutup).
c. Menempelkan
tangan di sekitar lampu templok
dengan 3 titik berbeda (bagian atas, bawah, tengah).
d. Merasakan
panas yang terjadi dan identifikasi termasuk
perpindahan jenis apa dari panas tersebut (konduksi, konveksi, radiasi).
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan volume gelas dan lama
penyalaan
Volume
gelas (ml)
|
Lama
Api Menyala (detik)
|
Rata-rata
detik
(detik)
|
||
Percobaan
1
|
Percobaan
2
|
Percobaan
3
|
||
200
|
5,86
|
4,82
|
3,83
|
4,83
|
300
|
7,53
|
7,39
|
6,81
|
7,24
|
500
|
10,76
|
9,68
|
8,87
|
9,77
|
1000
|
15,3
|
13,32
|
12,64
|
13,70
|
![]() |
| Grafik 1. Hubungan antara volume gelas dengan lamanya nyala api |
Tabel 2. Hasil pengamatan pemindahan panas pada lampu teplok
Titik Pengamatan
|
Jenis Pemindahan Panas
|
Keterangan
|
A (Ujung Bawah)
|
Konduksi
|
Tidak panas
|
A-B (Antara Ujung Atas – Ujung Bawah)
|
Konduksi dan Konveksi
|
Sangat panas
|
C (Ujung atas)
|
Radiasi
|
Panas
|
3.2
Pembahasan
Dalam teori
segitiga api, api terjadi karena akibat bergabungnya tiga unsur utama pembentuk
api yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen yang apabila ketiga unsur tersebut
bergabung akan menyebabkan terjadinya api. Pada saat terjadi pembakaran harus
terdapat bahan bakar untuk di bakar, terdapat udara untuk memenuhi kebutuhan
oksigen, dan ada panas untuk memulai dan melanjutkan pembakaran. Namun, apabila salah satu dari
ketiga unsur diatas ditiadakan maka api tidak akan timbul (Suratmo 1974).
Api berkaitan erat terhadap kebakaran hutan, apabila segitiga
api tersedia dihutan maka akan tercipta kebakaran hutan yang dapat merusak
hutan beserta isinya. Kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena global yang
juga bahkan terjadi di hutan tropis lembab seperti di Indonesia (Solichin
2007).
Praktikum kali
ini, dilakukan pengamatan terhadap lamanya nyala api yang dipengaruhi oleh
jumlah oksigen yang terdapat di dalam gelas ukur sebagai variabel bebasnya.
Gelas ukur yang digunakan berukuran
200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml. Masing-masing gelas dilakukan
percobaan dengan 3 kali pengulangan. Setelah melakukan percobaan, diketahui bahwa rata-rata lilin
yang ditutup gelas berukuran 200mL nyala apinya bertahan selama 4,83 detik,
gelas berukuran 300mL nyala apinya bertahan selama 7,24 detik, gelas berukuran
500mL nyala apinya bertahan selama 9,77 detik, dan gelas berukuran 1000mL nyala
apinya bertahan selama 13,70 detik. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa api
yang menyala paling lama adalah lilin yang ditutup dengan menggunakan gelas
ukur 1000ml. Sedangkan nyala api paling sebentar adalah lilin yang ditutup
dengan menggunakan gelas ukur 200ml. Hal ini diduga karena oksigen dalam gelas
yang bervolume besar lebih banyak di banding dengan volume gelas yang kecil. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi
dalam proses
pembakaran. Sesuai
dengan yang dikemukakan oleh Suratmo (1974) tentang syarat terjadinya nyala
api yaitu oksigen, bahan bakar,
dan panas. Jika salah satunya tidak ada maka api akan padam. Segitiga api
sangat penting untuk diketahui karena dapat memberi tahu kita tentang bagaimana
memadamkan api melalui ketiga unsur tersebut. Kita dapat meredam panas dengan
menyemprotkan air ke atas api, memutuskan oksigen, atau dengan melemparkan
lumpur atau tanah di atas api tersebut.
Menurut Giancoli
(1998), perpindahan
suatu kalor atau panas dari suatu tempat atau benda ke tempat atau benda lain
dapat terjadi melalui tiga cara yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Konduksi yaitu hasil tumbukan molekul molekul dimana saat salah satu
ujung benda dipanaskan, molekul molekul ditempat tersebut bergerak lebih cepat
sehingga bertumbukan dengan molekul lain yang bergerak lebih lambat, terjadilah
transfer energi antar molekul, yang pada akhirnya terjadi hantaran panas. Konveksi
melibatkan zat cair dan gas dalam perpindahan panas, contohnya pada pemansan
air dalam panci, terjadi sirkulasi panas didalam zat cair, udara panas naik ke
atas. Radiasi melibatkan gelombang elektromagnetik dalam perpindahan panasnya,
namun tidak memerlukan medium untu perpindahan panasnya.
Pada praktikum pemindahan panas, diamati setiap perpindahan
panas yang terjadi pada semprong lampu teplok. Perpindahan panas diamati pada
tiga titik di semprong tersebut, yaitu titik A (ujung bawah semprong), B (antara
ujung atas – ujung bawah semprong) dan C (di atas bagian atas semprong). Pada pengamatan
didapatkan hasil bahwa pada titik A terjadi proses konduksi, pada titik B
terjadi proses konduksi dan konveksi, sedangkan pada titik C terjadi proses
radiasi. Titik A mengalami proses konduksi karena perpindahan panas berpindah
melalui permukaan kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain itu, berdasarkan
Giancoli (1998), hal ini benar adanya karena disebabkan oleh perpindahan panas
dari ujung kaca semprong yang merambat ke atas sebagai akibat terjadi perpindahan
molekul pada kaca tersebut.
Pada titik B, terjadi proses konduksi dan konveksi. Titik B
mengalami konduksi karena perpindahan panas terjadi dari titik A diteruskan
sampai ke titik B melalui perpindahan molekul-molekul kaca semprong juga
terjadi melalui perpindahan panas dari kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain
itu titik ini mengalami konveksi, karena terjadi perpindahan panas yang terjadi
melalui udara di dalam kaca semprong. Akibatnya udara panas itu bergerak ke
atas dan dapat memanaskan bagian di sekitar titik B. Pada titik C terjadi
radiasi, dimana panas dari sumber langsung dipancarkan sampai ke tangan tanpa
melalui suatu perantara. Pada dasanya radiasi juga terjadi pada titik A dan B.
Hal ini terjadi karena panas dari sumber langsung dipancarkan ke kaca tanpa
melalui suatu perantara. Namun, karena yang paling dominan adalah proses yang
terjadi seperti yang disajikan di data, maka pada titik A hanya disebutkan
mengalami konduksi serta titik B mengalami konduksi dan konveksi.
BAB IV
KESIMPULAN
Hasil
praktikum ini dapat disimpulkan bahwa nyala api pada lilin yang ditutup gelas
kaca yang lebih besar memiliki waktu meyala lebih lama dikarenakan pasokan
Oksigen yang lebih banyak. Hubungan antara volume gelas dan lama penyalaan
adalah berbanding lurus. Semakin besar volume gelas, maka lama penyalaan api
akan semakin lama. Hal ini
membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan syarat-syarat terjadinya
nyala yaitu oksigen, bahan bakar,
dan panas. Jika salah satu unsur tidak ada maka api akan padam. Pada suatu
proses pembakaran terjadi proses pemindahan panas. Panas berpindah dengan cara
konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas yang terjadi pada semprong lampu teplok
pada titik A (ujung bawah semprong) adalah konduksi, titik B (antara
ujung atas – ujung bawah semprong) adalah konduksi dan konveksi, serta titik C (di atas bagian atas
semprong) adalah radiasi.
DAFTAR PUSTAKA
Giancoli D C. 1998. Fisika edisi kelima. Jakarta
(ID) : Erlangga.
Purbawaseso B.2004.Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
Suratmo F G.1974. Perlindungan
Hutan. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Solichin. 2007. Ringkasan Laporan
Hasil Pencapaian Kegiatan Sistem Informasi Kebakaran.
Jakarta (ID): Departemen Kehutanan RI.
Posted in: KuliahPKM-M Butternut Squash
“PROGRAM
KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT”
PRESS
RELEASE FOCCUS GROUP DISCUSSION DAN
PELATIHAN PENANAMAN BUDIDAYA BUTTERNUT SQUASH
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah
suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam
mefasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji,
mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya diperkuliahan
kepada masyarakat luas. PKM memiliki tujuh sub program, yaitu Program
PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan
(PKM-K), PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Karsa Cipta (PKM-KC),
PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT), dan PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI). Finalis dari
masing-masing PKM akan dilombakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional
(PIMNAS). Mahasiswa yang memiliki ide dan gagasan terhadap jenis PKM tersebut
difasilitasi untuk mengirimkan proposal kegiatannya untuk mendapatkan pendanaan
pelaksanaan program ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Proposal yang dinilai layak untuk dilaksanakan akan mendapat pendanaan.
Salah satu PKM yang didanai pada tahun
2017 Institut Pertanian Bogor adalah PKM-Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat
dengan judul “Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga dengan Budidaya Butternut Squash di Lahan Pekarangan” kerjasama
dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) “SALUYU” Kelurahan Mulyaharja Kecamatan Bogor
Selatan, yang diketuai oleh Fathur Rahman (MNH angkatan 51 IPB), dengan 4 orang
anggotanya yaitu, Dedi Saputra Jaya (ITP angkatan 51 IPB), Adiwiguna Praktika
(MNH 51 IPB), Anggit Babarrajab Cahyadi (MNH angkatan 51 IPB), dan Tanti
Rahmayanti (DHH angkatan 53 IPB). Kelompok PKM ini didampingi oleh Dosen
Pendamping Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si.
| Penyerahan Butternut Squash Oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut.M.Si kepada PPL Kota Bogor |
Butternut Squash merupakan tanaman sejenis labu dengan
bentuk seperti kacang. Tanaman ini banyak dibudidayakan diluar negeri seperti
Australia, Eropa, Afrika Selatan, dan Selandia Baru. Butternut Squash memiliki
kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan, memiliki kadar vitamin A yang
tinggi, kalsium, asam folat, dan rasa yang lebih manis dari labu lain, serta
tekstur daging yang lebih pulen. Kini Butternut
Squash mulai menjadi trend alternatif pangan dibeberapa kota besar di
Indonesia, dan dijual di supermarket dengan harga yang cukup tinggi. Konsepan
pelaksanaan PKM ini dengan mebudidayakan Butternut
Squash dilahan pekarangan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga yang
dapat dijadikan polybag untuk
budidiya Butternut Squash. Tujuan
dari program ini adalah menjadikan lahan
pekarangan sebagai sarana meningkatan perekonomian rumah tangga, mensosialisasikan program pemanfaatan
pekarangan rumah sebagai lahan produktif
pertanian, menerapkan penggunaan limbah rumah tangga
untuk mendukung penanaman Butternut
Squash, dan mensosialisasikan manfaat dari tanaman Butternut Squash langkah diversifikasi pangan.
| Suasana FGD di KWT SALUYU |
Pada hari Senin, 3 April 2017 telah
dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD)
dan pelatihan penanaman budidaya Butternut
Squash yang merupakan rangakain pelaksanaan kegiatan PKM kepada anggota KWT
“SALUYU” di kediaman Ibu Imas Syarah selaku Ketua KWT “SALUYU”. Acara ini
dihadiri oleh 13 orang anggota KWT “SALUYU”, dan tamu undangan yaitu Lurah
Mulyaharja Bapak Suburudin, Sekretaris Lurah Mulyaharja, Penyuluh Pertanian
Lapang Dinas Pertanian Kota Bogor Bapak Imam, dan Dosen pendamping PKM Bapak
Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si. Acara ini menghadirkan pembicara Bapak Reza Ali
Akbar yang merupakan Ketua Forum Petani Butternut Squash Indonesia (FPBSI)
dengan materi pengenalan Butternut Squash
dan teknik penanaman, dan Bapak Eka Supriatin dengan materi pengolahan tanah,
pemupukan dan perawatan. Dalam sambutannya, Lurah Mulyaharja sangat
mengapresiasi program ini, beliau mengatakan, “ini merupakan inovasi yang betul-betul hebat karena potensi dari
Butternut Squash ini sangat besar, dipasaran belum banyak ditemukan”.
Harapannya program ini dapat berjalan sampai berhasil.
| Pelatihan Pengolahan Tanah |
| Pelatihan Penanaman Butternut Squash |
PPL Kota Bogor Bapak
Imam mengungkapkan dalam sambutannya ucapan terima kasih karena program ini
dilaksanakan dengan kerjasama KWT “SALUYU”, harapannya program ini nantinya
dapat menjadi contoh bagi KWT-KWT atau Kelompok Tani di Kota Bogor. Sambutan
dari Dosen Pendamping oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si mengatakan
bahwa budidaya Butternut Squash ini
sangat sangat menjanjikan untuk meningkatkan ekonomi, pangsa pasar yang cukup
tinggi dan permintaan yang sangat banyak. Khususnya diwilayah Jabodetabek
membutuhkan kurang lebih 12 ton Butternut Squash perbulannya, sementara yang
membudidayakan Butternut Squash ini baru sedikit.
| Hasil Pelatihan Penanaman Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga |
| Makan Bersama Ibu-Ibu KWT Saluyu |
| Foto Bersama Seluruh TIM PKM, Ibu-Ibu KWT Saluyu dan PPL KWT Saluyu |
Posted in: Butternut SquashKontak Fathur Rahman
Nama : Fathur RahmanDPM Fahutan IPB "Dewan Integrasi 2017"
Alamat Asal : Sungai panji-Panji, Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau Indonesia
Alamat Sekarang : Dramaga Regency, Blok D-20, Kelurahan Bogor Barat, Kota Bogor
Institusi : Mahasiswa Manajemen Hutan IPB angkatan 51 (2014)
Alamat Email : Fathur30rahman@yahoo.com / Fathur30rahman@gmail.com
Alamat Ig, Fb, dan Twitter : @acik_fathur, Acik_fathur, dan @fathur_30
Motto Hidup : "Mencari Sesuatu yang Bisa Bermanfaat Bagi Banyak Orang"
Posted in: KontakJumat, 13 Mei 2016
Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia
Potensi Artikel Hasil Hutan Bukan
Kayu Indonesia
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan
terluas di dunia. Data statistik tahun 1993 mencatat luas hutan Indonesia
sekitar 141,8 juta hektar. Data lainnya menyebutkan luas hutan Indonesia
menempati urutan ke – 9 terluas di dunia setelah Australia dan Argentina dengan
luasan 884.950 Km2. Keanekaragaman hayati yang di kandung oleh hutan Indonesia
sangatlah melimpah. Dari hasil survei IBSAP ( Indonesian Biodiversity Strategy
and Action Plan) pada tahun 2003 diketahui bahwa di Indonesia terdapat 515
jenis mamalia (36% endemik, peringkat pertama dunia), 35 jenis primate (25%
endemik), 511 jenis reptil, 1.531 jenis burung (sebagian jenis endemik), 270
jenis amfibi, dan 212 jenis kupu-kupu (44% endemik). Jenis tumbuh-tumbuhan di
Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora
dunia. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia juga
memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, mulai dari potensi hutan yang
bersifat kayu, maupun potensi hutan bukan kayu. Pada tahun 1997, sektor
kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto
(PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar
dolar untuk devisa negara. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor
minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total.
Melihat potensi hasil hutan bukan kayu, potensi ini sangat menjanjikan untuk
dikembangkan mengingat keanekaragaman jenis tanaman hutan Indonesia yang sangat
banyak manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak
langsung (intangible).
Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), hasil hutan bukan
kayu adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Defenisi
lainnya menyebutkan segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang
diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil
sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa
tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Di Indonesia sampai saat ini budidaya tanaman
HHBK belum banyak dilaksanakan, sebagian besar produk HHBK masih diambil dari
dalam hutan sehingga produksi HHBK yang berkesinambungan tidak lagi terjamin.
Akibatnya sumberdaya HHBK menjadi hancur bahkan beberapa jenis masuk kategori
langka, seperti gaharu, damar rasak, jelutung, kapur barus, jermang, ketiau,
balau dan lain-lain sudah masuk ke dalam daftar Appendix II CITES (Sumadiwangsa
dan Mas’ud, 1999).
Sesuai dengan dengan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan
No. P.21/Menhut-II, 2009. jenis komoditi HHBK digolongkan ke dalam 2 (dua)
kelompok besar yaitu HHBK Nabati dan HHBK Hewani. HHBK Nabati meliputi kelompok
resin (damar, gaharu, kemenyan, getah tusam), kelompok minyak atsiri (cendana,
kulit manis, kayu putih, kenanga), kelompok minyak lemak, pati, dan buah –
buahan (buah merah, rebung bambu, durian, kemiri, pala, vanili), kelompok
tannin, bahan pewarna, dan getah (kayu kuning, jelutung, perca, pinang,
gambir), kelompok tumbuhan obat – obatan dan tanaman hias (akar wangi,
brotowali, anggrek hutan), kelompok palma dan bambu (rotan manau, rotan
tahiti), kelompok alkaloid (kina), dan kelompok (nipah, pandan, purun). HHBK
Hewani meliputi kelompok kelas hewan buru (babi hutan, kelinci, kancil, rusa,
buaya), kelompok hewan hasil penangkaran (arwana, kupu – kupu, rusa, buaya),
kelompok hasil hewan (sarang burung walet, kutu lak, lilin lebah, ulat
sutera, lebah madu).
Hasil hutan bukan kayu sangat berpotensi sebagai
komoditas kehutanan. Hasil hutan bukan kayu dapat menyelamatkan eksploitasi
terhadap sektor kehutanan ketika potensi hasil hutan bukan kayu dapat
dimanfaatkan dengan baik. Hasil hutan non kayu ini bisa dibilang sangat
menguntungkan, karena dari satu jenis saja kita bisa memanfaatkan bagian bagian
dari suatu jenis tumbuhan tersebut. Apakah daunya, akarnya, maupun buahnya.
Penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari pemenuhan kebutuhan, sebagai
barang-barang penghias bahkan sebagai obat-obatan. Berikut adalah beberapa
contoh hasil hutan non kayu beserta potensi yang dimilikinya.
1. Potensi
rotan
Luas kawasan hutan yang merupakan habitat alam rotan
seluas 2.215.625 ha. Di Indonesia
terdapat kurang lebih 306 spesies rotan telah teridentifikasi dan menyebar di
semua pulau di Indonesia. Dari keseluruhan yang teridentifikasi, rotan yang
sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 128
jenis. Sementara itu rotan yang sudah umum diusahakan/ diperdagangkan dengan
harga tinggi untuk berbagai keperluan baru mencapai 28 jenis saja (Baharuddin
dan Taskirawati, 2009). Rotan dapat digunakan untuk membuat keranjang, tikar,
mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, penangkap ikan, perangkap
binatang, tirai, kurungan burung, ikatan pada rumah, pagar, jembatan, perahu
dan untuk hampir semua tujuan lain apapun yang menuntut kekuatan dan kelenturan
yang digabungkan dengan keringanan.
2. Sagu
Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha
(diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional 14.000 ha). Menurut
Prof. Bintoro, untuk menghasilkan 30 juta ton beras per tahun diperlukan lahan
seluas 12 juta hektare, sedangkan untuk menghasilkan 30 juta ton sagu hanya
diperlukan lahan seluas satu juta hektar. Sebagaimana kita ketahui bahwa sagu
dapat menggantikan peran beras untuk kebutuhan pokok manusia.
3. Nipah
Indonesai memiliki daerah tanaman nipah seluas 10%
atau 700.000 ha dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha. Penyebarannya
meliputi wilayah kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan
Papua. Populasi tanaman nipah diperkirakan sekitar 8.000 pohon/ha, sehingga
dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5,6 miliar pohon. Dari jumlah
tanaman yang ada per hektar, jumlah malai (tangai bunga) yang dapat dihasilkan
sekitar 10% atau sekitar 800 tangkai bunga. Jika pemeliharaan dan perawatannya
intensif, persentase jumlah malai meningkat sekitar 40% atau sebanyak 3.200
tangkai bunga. Tanaman nipah menghasilkan nira yang diperoleh dari hasil
sadapan tangkai bunga (malai). Komposisi nira nipah menagndung kadar gula
(Brix) 15-17%, sukrosa 13-15%, gule pereduksi 0,2-0,5%, dan abu 0,3-0,7%. Nira tersebut dapat diolah emnajdi gula,
baik dinuat sebagai gual merah, gual
semut, gula pasir, maupun sirup. Di Malaysia dan Filipina nira nipah selain
diolah menjadi gula juga diolah menjadi
vinegar, cuka dan alkohol.
4. Biji Kepuh
(Sterculia foetida)
Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi
yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki
kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain
kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan
sebagai bahan konsumsi seperti halnya
minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga
mampu tumbuh dengan mudah di lahan
kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di
seluruh Nusantara (Heyne, 1987).
5. Biji
Kesambi (Schleichera oleosa Lour)
Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan
sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak
biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu
yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat
pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam
arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.
Posted in: KehutananMinggu, 27 Maret 2016
Dampak Alih Fungsi Lahan
Dampak Alih Fungsi Lahan Hutan
Fakta diatas menunjukkan betapa kayanya Indonesia.
Kalau melihat lebih dekat lagi dari mana kebutuhan lahan yang dapat menampung
itu semua? Dengan desakan kepadatan penduduk yang kian tahun kian meningkat
untuk areal pemukiman, dengan kebutuhan perekonomian yang menghidupi ratusan
juta rakyat Indonesia, dengan tuntutan pembangunan infrastruktur yang menjadi
ikon kemajuan suatu daerah, dengan berbagai alasan mengundang investor untuk
berinvestasi demi kemajuan daerah. Sementara kita ketahui bahwa seiring
meningkatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diiringi dengan pertambahan
lahan untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Lantas bagaimana cara pemenuhan
kebutuhan tersebut? Ya, cara yang paling ampuh adalah cara mengalihfungsikan
lahan. Baik mengalihkanfungsikan lahan hutan menjadi areal pertanian, mengalihfungsikan
lahan hutan menjadi areal pertambangan, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi
areal perkebunan, dan mengalihfungsikan lahan hutan atau lahan pertanian
menjadi areal pemukiman. Dari kasus ini yang paling banyak dialihfungsikan
adalah areal hutan.
Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar.
Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian
hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi
(8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta
hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Indonesia adalah
pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo.
Sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia adalah negara yang memiliki
tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90
persen dari sisa hutan di dunia. Menurut buku tersebut, Indonesia menghancurkan
luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola setiap jamnya. Forest
Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun
terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun.
Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas
hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar
menjadi 98 juta hektar (Sumber : Kompas.com).
Deforestasi
(penebangan hutan) menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk
spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal, 80 persen keanekaragaman hayati
terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan
menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman
pemanasan global. Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia menyangkut
berbagai permasalahan yang saling terkait, termasuk perampasan dan penguasaan
hutan, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan
hasil hutan ilegal, dan kemiskinan. Pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia
berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen secara mandiri
dan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2020. Pemerintah
Indonesia menegaskan kembali janji tersebut minggu ini dalam sebuah pertemuan
antara pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta perwakilan dari
lembaga internasional.
Sebagaimana kita ketahui bahwa hutan berfungsi sebagai
penyeimbang fungsi ekosistem. Peranan hutan sangat penting dalam sistem
penyangga kehidupan. Hutan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air yang
baik, sebagai habitat bagi flora dan fauna, mengurangi polusi pencemaran udara,
sebagai penyubur tanah, sebagai paru-paru dunia dengan menyuplai oksigen untuk
kehidupan, sebagai penahan erosi dan lain sebagainya. Ada anekdot mengatakan
bahwa forest is the mother of agriculture, artinya hutan sebagai penyeimbang
fungsi pertanian dengan menyuplai air untuk pertanian tersebut. Namun bisa
dibayangkan dengan kondisi hutan kita sekarang yang maraknya dialihfungsikan ke
bentuk lain akan menyebabkan fungsi hutan terganggu. Boleh kita lihat bencana
alam dimana-mana, seperti banjir, erosi, tanah longsor, pemanasan global yang
banyak diisukan oleh dunia internasional. Berapa banyak kerugian negara akan
kasus ini?. Itu baru kasus yang berkaitan dengan alam, belum lagi akhir-akhir
ini banyak terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan
terkait alih fungsi lahan hutan ini. Konflik yang terjadi kebanyakan
mengorbankan masyarakat kecil, bukan hanya harta bahkan nyawa pun terkorbankan.
Alih fungsi kawasan hutan memang diperbolehkan
Undang-Undang. Hanya ada aturannya. Pasal 19 ayat (1), UU No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, menyatakan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan
ditetapkan oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu.
Namun, alih fungsi hutan tentu tidak boleh dilakukan secara sembarang. Jika
alih fungsi hutan ini berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai
strategis, maka harus ditetapkan oleh pemerintah dan dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Yang dimaksud dengan berdampak penting dan cakupan
yang luas serta bernilai strategis ini adalah adanya perubahan yang sangat
berpengaruh terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan
gangguan tata air serta adanya dampak sosial masyarakat bagi kehidupan generasi
sekarang dan yang akan datang.
Hingga saat ini pemerintah telah memberikan solusi
akan masalah alih fungsi lahan ini, seperti menerapkan denda untuk penebangan
hutan dan hukum pidana. Ketentuan pidana yang di atur dalam Pasal 50 dan sanksi
pidananya dalam Pasal 78 UU No. 41 / 1999, merupakan salah satu dari upaya
perlindungan hutan dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari.
Maksud dan tujuan dari pemberian sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang
yang melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek
jera bagi pelanggar hukum di bidang kehutanan (penjelasan umum paragraph ke 18
UU No. 41 / 1999). Efek jera yang dimaksud bukan hanya kepada pelaku yang telah
melakukan tindak pidana kehutanan, akan tetapi kepada orang lain yang mempunyai
kegiatan dalam bidang kehutanan menjadi
berpikir kembali untuk melakukan perbuatan melanggar hukum karena sanksi
pidananya berat. (Fathur Rahman).
Posted in: Kehutanan
April 16, 2017




