Minggu, 16 April 2017

LAPORAN PRAKTIKUM SEGITIGA API DAN PEMINDAHAN PANAS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Api merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan. Api terbentuk karena adanya interaksi antara sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketiga unsur bahan baku proses pembakaran tersebut dikenal denga segitiga api. Apabila ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi, maka tidak dapat terjadi pembakaran. Selama ini hal yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi hutan diantaranya adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh api (Purbowaseso 2004). Maka dari itu perlunya mempelajari komponen pembentukan api untuk mencegah kebakaran hutan.
Api menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari. Panas tersebut dapat dimanfaatkan karena memiliki sifat berpindah dari tempat bersuhu tinggi ke tempat yang bersuhu lebih rendah. Panas berpindah dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas sering juga dijumpai dalam kegiatan sehari-hari antara lain: api unggun, memasak air, menjemur pakaian, dan lain-lain. Praktikum pemindahan panas ini juga dimaksudkan untuk mengetahui macam-macam pemindahan panas.

1.2  Tujuan praktikum
1.      Konsep Segitiga api
Untuk membuktikan bahwa untuk terjadinya proses pembakaran harus tersedia ketiga unsur bahan baku proses pembakaran yaitu bahan bakar, sumber panas, dan oksigen.
2.      Pemindahan panas
Untuk menentukan macam-macam cara pemindahan panas pada suatu proses pembakaran.


BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1  Bahan dan alat
1.      Konsep segitiga api
a.       Lilin
b.      Gelas ukur 200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml
c.       Korek api
d.      Alat pengukur waktu


2.      Pemindahan panas
a.       Lampu teplok
b.      Korek api
c.       Alat pengukur waktu

2.2  Metode Praktikum
1.      Konsep Segitiga api
a.       Menyiapkan alat dan bahan.
b.      Mengukur sumbu pada lilin sepanjang 0,5 cm- 1cm.
c.       Menyalakan lilin dengan menggunakan korek api (diamkan sampai nyala api stabil).
d.      Menutup lilin dengan gelas ukur dalam berbagai ukuran yang telah disediakan, secara bergantian.
d.      Menghitung lamanya waktu penyalaan lilin dari lilin ditutup sampai nyala apinya padam.
e.       Melakukan percobaan sebanyak tiga kali pengulangan untuk masing-masing ukuran gelas.
f.        Sebelum di lakukan pengulangan, kondisi gelas harus dalam keadaan dingin.

2.      Pemindahan panas
a.       Menyediakan lampu templok yang telah terisi minyak tanah.
b.      Menyalakan lampu templok tersebut dengan korek api (tunggu sampai nyalal api maksimal sebelum ditutup).
c.       Menempelkan tangan di sekitar lampu templok dengan 3 titik berbeda (bagian atas, bawah, tengah).
d.      Merasakan panas yang terjadi dan identifikasi termasuk  perpindahan jenis apa dari panas tersebut (konduksi, konveksi, radiasi).



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan volume gelas dan lama penyalaan
Volume gelas (ml)
Lama Api Menyala (detik)
Rata-rata detik
(detik)
Percobaan 1
Percobaan 2
Percobaan 3
200
5,86
4,82
3,83
4,83
300
7,53
7,39
6,81
7,24
500
10,76
9,68
8,87
9,77
1000
15,3
13,32
12,64
13,70

Grafik 1. Hubungan antara volume gelas dengan lamanya nyala api

Tabel 2. Hasil pengamatan pemindahan panas pada lampu teplok
Titik Pengamatan
Jenis Pemindahan Panas
Keterangan
A (Ujung Bawah)
Konduksi
Tidak panas
A-B (Antara Ujung Atas – Ujung Bawah)
Konduksi dan Konveksi
Sangat panas
C (Ujung atas)
Radiasi
Panas

3.2  Pembahasan
Dalam teori segitiga api, api terjadi karena akibat bergabungnya tiga unsur utama pembentuk api yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen yang apabila ketiga unsur tersebut bergabung akan menyebabkan terjadinya api. Pada saat terjadi pembakaran harus terdapat bahan bakar untuk di bakar, terdapat udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen, dan ada panas untuk memulai dan melanjutkan pembakaran. Namun, apabila salah satu dari ketiga unsur diatas ditiadakan maka api tidak akan timbul (Suratmo 1974).
Api berkaitan erat terhadap kebakaran hutan, apabila segitiga api tersedia dihutan maka akan tercipta kebakaran hutan yang dapat merusak hutan beserta isinya. Kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena global yang juga bahkan terjadi di hutan tropis lembab seperti di Indonesia (Solichin 2007).
Praktikum kali ini, dilakukan pengamatan terhadap lamanya nyala api yang dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang terdapat di dalam gelas ukur sebagai variabel bebasnya. Gelas ukur yang digunakan berukuran  200ml, 300ml, 500 ml, dan 1000 ml. Masing-masing gelas dilakukan percobaan dengan 3 kali pengulangan. Setelah melakukan percobaan, diketahui bahwa rata-rata lilin yang ditutup gelas berukuran 200mL nyala apinya bertahan selama 4,83 detik, gelas berukuran 300mL nyala apinya bertahan selama 7,24 detik, gelas berukuran 500mL nyala apinya bertahan selama 9,77 detik, dan gelas berukuran 1000mL nyala apinya bertahan selama 13,70 detik. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa api yang menyala paling lama adalah lilin yang ditutup dengan menggunakan gelas ukur 1000ml. Sedangkan nyala api paling sebentar adalah lilin yang ditutup dengan menggunakan gelas ukur 200ml. Hal ini diduga karena oksigen dalam  gelas yang bervolume besar lebih banyak di banding dengan volume gelas yang kecil. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suratmo (1974) tentang syarat terjadinya nyala api yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Jika salah satunya tidak ada maka api akan padam. Segitiga api sangat penting untuk diketahui karena dapat memberi tahu kita tentang bagaimana memadamkan api melalui ketiga unsur tersebut. Kita dapat meredam panas dengan menyemprotkan air ke atas api, memutuskan oksigen, atau dengan melemparkan lumpur atau tanah di atas api tersebut.
Menurut Giancoli (1998), perpindahan suatu kalor atau panas dari suatu tempat atau benda ke tempat atau benda lain dapat terjadi melalui tiga cara yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi yaitu hasil tumbukan molekul molekul dimana saat salah satu ujung benda dipanaskan, molekul molekul ditempat tersebut bergerak lebih cepat sehingga bertumbukan dengan molekul lain yang bergerak lebih lambat, terjadilah transfer energi antar molekul, yang pada akhirnya terjadi hantaran panas. Konveksi melibatkan zat cair dan gas dalam perpindahan panas, contohnya pada pemansan air dalam panci, terjadi sirkulasi panas didalam zat cair, udara panas naik ke atas. Radiasi melibatkan gelombang elektromagnetik dalam perpindahan panasnya, namun tidak memerlukan medium untu perpindahan panasnya.
Pada praktikum pemindahan panas, diamati setiap perpindahan panas yang terjadi pada semprong lampu teplok. Perpindahan panas diamati pada tiga titik di semprong tersebut, yaitu titik A (ujung bawah semprong), B (antara ujung atas – ujung bawah semprong) dan C (di atas bagian atas semprong). Pada pengamatan didapatkan hasil bahwa pada titik A terjadi proses konduksi, pada titik B terjadi proses konduksi dan konveksi, sedangkan pada titik C terjadi proses radiasi. Titik A mengalami proses konduksi karena perpindahan panas berpindah melalui permukaan kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain itu, berdasarkan Giancoli (1998), hal ini benar adanya karena disebabkan oleh perpindahan panas dari ujung kaca semprong yang merambat ke atas sebagai akibat terjadi perpindahan molekul pada kaca tersebut.
Pada titik B, terjadi proses konduksi dan konveksi. Titik B mengalami konduksi karena perpindahan panas terjadi dari titik A diteruskan sampai ke titik B melalui perpindahan molekul-molekul kaca semprong juga terjadi melalui perpindahan panas dari kaca ke tangan melalui sentuhan. Selain itu titik ini mengalami konveksi, karena terjadi perpindahan panas yang terjadi melalui udara di dalam kaca semprong. Akibatnya udara panas itu bergerak ke atas dan dapat memanaskan bagian di sekitar titik B. Pada titik C terjadi radiasi, dimana panas dari sumber langsung dipancarkan sampai ke tangan tanpa melalui suatu perantara. Pada dasanya radiasi juga terjadi pada titik A dan B. Hal ini terjadi karena panas dari sumber langsung dipancarkan ke kaca tanpa melalui suatu perantara. Namun, karena yang paling dominan adalah proses yang terjadi seperti yang disajikan di data, maka pada titik A hanya disebutkan mengalami konduksi serta titik B mengalami konduksi dan konveksi.



BAB IV
KESIMPULAN
Hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa nyala api pada lilin yang ditutup gelas kaca yang lebih besar memiliki waktu meyala lebih lama dikarenakan pasokan Oksigen yang lebih banyak. Hubungan antara volume gelas dan lama penyalaan adalah berbanding lurus. Semakin besar volume gelas, maka lama penyalaan api akan semakin lama. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan oksigen dapat mempengaruhi dalam proses pembakaran. Sesuai dengan syarat-syarat terjadinya nyala yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Jika salah satu unsur tidak ada maka api akan padam. Pada suatu proses pembakaran terjadi proses pemindahan panas. Panas berpindah dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. Perpindahan panas yang terjadi pada semprong lampu teplok pada titik A (ujung bawah semprong) adalah konduksi, titik B (antara ujung atas – ujung bawah semprong) adalah konduksi dan konveksi, serta titik C (di atas bagian atas semprong) adalah radiasi.


DAFTAR PUSTAKA
Giancoli D C. 1998. Fisika edisi kelima.  Jakarta (ID) : Erlangga.
Purbawaseso B.2004.Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
Suratmo F G.1974. Perlindungan Hutan. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Solichin. 2007. Ringkasan Laporan Hasil Pencapaian Kegiatan Sistem Informasi Kebakaran. Jakarta (ID): Departemen Kehutanan RI.





PKM-M Butternut Squash

“PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT”

PRESS RELEASE FOCCUS GROUP DISCUSSION DAN PELATIHAN PENANAMAN BUDIDAYA BUTTERNUT SQUASH

 
Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam mefasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya diperkuliahan kepada masyarakat luas. PKM memiliki tujuh sub program, yaitu Program PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Karsa Cipta (PKM-KC), PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT), dan PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI). Finalis dari masing-masing PKM akan dilombakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Mahasiswa yang memiliki ide dan gagasan terhadap jenis PKM tersebut difasilitasi untuk mengirimkan proposal kegiatannya untuk mendapatkan pendanaan pelaksanaan program ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Proposal yang dinilai layak untuk dilaksanakan akan mendapat pendanaan.

Salah satu PKM yang didanai pada tahun 2017 Institut Pertanian Bogor adalah PKM-Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul “Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga dengan Budidaya Butternut Squash di Lahan Pekarangan” kerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) “SALUYU” Kelurahan Mulyaharja Kecamatan Bogor Selatan, yang diketuai oleh Fathur Rahman (MNH angkatan 51 IPB), dengan 4 orang anggotanya yaitu, Dedi Saputra Jaya (ITP angkatan 51 IPB), Adiwiguna Praktika (MNH 51 IPB), Anggit Babarrajab Cahyadi (MNH angkatan 51 IPB), dan Tanti Rahmayanti (DHH angkatan 53 IPB). Kelompok PKM ini didampingi oleh Dosen Pendamping Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si.

Penyerahan Butternut Squash Oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut.M.Si kepada PPL Kota Bogor
Butternut Squash merupakan tanaman sejenis labu dengan bentuk seperti kacang. Tanaman ini banyak dibudidayakan diluar negeri seperti Australia, Eropa, Afrika Selatan, dan Selandia Baru. Butternut Squash memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan, memiliki kadar vitamin A yang tinggi, kalsium, asam folat, dan rasa yang lebih manis dari labu lain, serta tekstur daging yang lebih pulen. Kini Butternut Squash mulai menjadi trend alternatif pangan dibeberapa kota besar di Indonesia, dan dijual di supermarket dengan harga yang cukup tinggi. Konsepan pelaksanaan PKM ini dengan mebudidayakan Butternut Squash dilahan pekarangan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga yang dapat dijadikan polybag untuk budidiya Butternut Squash. Tujuan dari program ini adalah menjadikan lahan pekarangan sebagai sarana meningkatan perekonomian rumah tangga, mensosialisasikan program pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan  produktif pertanian, menerapkan penggunaan limbah rumah tangga untuk mendukung penanaman Butternut Squash, dan mensosialisasikan manfaat dari tanaman Butternut Squash langkah diversifikasi pangan.



Suasana FGD di KWT SALUYU
Pada hari Senin, 3 April 2017 telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan penanaman budidaya Butternut Squash yang merupakan rangakain pelaksanaan kegiatan PKM kepada anggota KWT “SALUYU” di kediaman Ibu Imas Syarah selaku Ketua KWT “SALUYU”. Acara ini dihadiri oleh 13 orang anggota KWT “SALUYU”, dan tamu undangan yaitu Lurah Mulyaharja Bapak Suburudin, Sekretaris Lurah Mulyaharja, Penyuluh Pertanian Lapang Dinas Pertanian Kota Bogor Bapak Imam, dan Dosen pendamping PKM Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si. Acara ini menghadirkan pembicara Bapak Reza Ali Akbar yang merupakan Ketua Forum Petani Butternut Squash Indonesia (FPBSI) dengan materi pengenalan Butternut Squash dan teknik penanaman, dan Bapak Eka Supriatin dengan materi pengolahan tanah, pemupukan dan perawatan. Dalam sambutannya, Lurah Mulyaharja sangat mengapresiasi program ini, beliau mengatakan, “ini merupakan inovasi  yang betul-betul hebat karena potensi dari Butternut Squash ini sangat besar, dipasaran belum banyak ditemukan”. Harapannya program ini dapat berjalan sampai berhasil. 

Pelatihan Pengolahan Tanah
Pelatihan Penanaman Butternut Squash
PPL Kota Bogor Bapak Imam mengungkapkan dalam sambutannya ucapan terima kasih karena program ini dilaksanakan dengan kerjasama KWT “SALUYU”, harapannya program ini nantinya dapat menjadi contoh bagi KWT-KWT atau Kelompok Tani di Kota Bogor. Sambutan dari Dosen Pendamping oleh Bapak Handian Purwawangsa, S.Hut, M.Si mengatakan bahwa budidaya Butternut Squash ini sangat sangat menjanjikan untuk meningkatkan ekonomi, pangsa pasar yang cukup tinggi dan permintaan yang sangat banyak. Khususnya diwilayah Jabodetabek membutuhkan kurang lebih 12 ton Butternut Squash perbulannya, sementara yang membudidayakan Butternut Squash ini baru sedikit.


Hasil Pelatihan Penanaman Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga

Makan Bersama Ibu-Ibu KWT Saluyu

Foto Bersama Seluruh TIM PKM, Ibu-Ibu KWT Saluyu dan PPL KWT Saluyu

Kontak Fathur Rahman



Nama : Fathur Rahman
Alamat Asal : Sungai panji-Panji, Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir,                        Provinsi Riau Indonesia
Alamat Sekarang : Dramaga Regency, Blok D-20, Kelurahan Bogor Barat, Kota Bogor
Institusi : Mahasiswa Manajemen Hutan IPB angkatan 51 (2014)
Alamat Email : Fathur30rahman@yahoo.com / Fathur30rahman@gmail.com
Alamat Ig, Fb, dan Twitter : @acik_fathur, Acik_fathur, dan @fathur_30
Motto Hidup : "Mencari Sesuatu yang Bisa Bermanfaat Bagi Banyak Orang"
          DPM Fahutan IPB "Dewan Integrasi 2017"

Jumat, 13 Mei 2016

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia

Potensi Artikel Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia




Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan terluas di dunia. Data statistik tahun 1993 mencatat luas hutan Indonesia sekitar 141,8 juta hektar. Data lainnya menyebutkan luas hutan Indonesia menempati urutan ke – 9 terluas di dunia setelah Australia dan Argentina dengan luasan 884.950 Km2. Keanekaragaman hayati yang di kandung oleh hutan Indonesia sangatlah melimpah. Dari hasil survei IBSAP ( Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) pada tahun 2003 diketahui bahwa di Indonesia terdapat 515 jenis mamalia (36% endemik, peringkat pertama dunia), 35 jenis primate (25% endemik), 511 jenis reptil, 1.531 jenis burung (sebagian jenis endemik), 270 jenis amfibi, dan 212 jenis kupu-kupu (44% endemik). Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia juga memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, mulai dari potensi hutan yang bersifat kayu, maupun potensi hutan bukan kayu. Pada tahun 1997, sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar dolar untuk devisa negara. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total. Melihat potensi hasil hutan bukan kayu, potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan mengingat keanekaragaman jenis tanaman hutan Indonesia yang sangat banyak manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak langsung (intangible).
Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), hasil hutan bukan kayu adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Defenisi lainnya menyebutkan segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain.  Di Indonesia sampai saat ini budidaya tanaman HHBK belum banyak dilaksanakan, sebagian besar produk HHBK masih diambil dari dalam hutan sehingga produksi HHBK yang berkesinambungan tidak lagi terjamin. Akibatnya sumberdaya HHBK menjadi hancur bahkan beberapa jenis masuk kategori langka, seperti gaharu, damar rasak, jelutung, kapur barus, jermang, ketiau, balau dan lain-lain sudah masuk ke dalam daftar Appendix II CITES (Sumadiwangsa dan Mas’ud, 1999).
Sesuai dengan dengan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan No. P.21/Menhut-II, 2009. jenis komoditi HHBK digolongkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu HHBK Nabati dan HHBK Hewani. HHBK Nabati meliputi kelompok resin (damar, gaharu, kemenyan, getah tusam), kelompok minyak atsiri (cendana, kulit manis, kayu putih, kenanga), kelompok minyak lemak, pati, dan buah – buahan (buah merah, rebung bambu, durian, kemiri, pala, vanili), kelompok tannin, bahan pewarna, dan getah (kayu kuning, jelutung, perca, pinang, gambir), kelompok tumbuhan obat – obatan dan tanaman hias (akar wangi, brotowali, anggrek hutan), kelompok palma dan bambu (rotan manau, rotan tahiti), kelompok alkaloid (kina), dan kelompok (nipah, pandan, purun). HHBK Hewani meliputi kelompok kelas hewan buru (babi hutan, kelinci, kancil, rusa, buaya), kelompok hewan hasil penangkaran (arwana, kupu – kupu, rusa, buaya), kelompok hasil hewan (sarang burung walet, kutu lak, lilin lebah, ulat
sutera, lebah madu).

Hasil hutan bukan kayu sangat berpotensi sebagai komoditas kehutanan. Hasil hutan bukan kayu dapat menyelamatkan eksploitasi terhadap sektor kehutanan ketika potensi hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dengan baik. Hasil hutan non kayu ini bisa dibilang sangat menguntungkan, karena dari satu jenis saja kita bisa memanfaatkan bagian bagian dari suatu jenis tumbuhan tersebut. Apakah daunya, akarnya, maupun buahnya. Penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari pemenuhan kebutuhan, sebagai barang-barang penghias bahkan sebagai obat-obatan. Berikut adalah beberapa contoh hasil hutan non kayu beserta potensi yang dimilikinya.

1.      Potensi rotan
Luas kawasan hutan yang merupakan habitat alam rotan seluas 2.215.625 ha.  Di Indonesia terdapat kurang lebih 306 spesies rotan telah teridentifikasi dan menyebar di semua pulau di Indonesia. Dari keseluruhan yang teridentifikasi, rotan yang sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 128 jenis. Sementara itu rotan yang sudah umum diusahakan/ diperdagangkan dengan harga tinggi untuk berbagai keperluan baru mencapai 28 jenis saja (Baharuddin dan Taskirawati, 2009). Rotan dapat digunakan untuk membuat keranjang, tikar, mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, penangkap ikan, perangkap binatang, tirai, kurungan burung, ikatan pada rumah, pagar, jembatan, perahu dan untuk hampir semua tujuan lain apapun yang menuntut kekuatan dan kelenturan yang digabungkan dengan keringanan.

2.      Sagu
Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha (diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional 14.000 ha). Menurut Prof. Bintoro, untuk menghasilkan 30 juta ton beras per tahun diperlukan lahan seluas 12 juta hektare, sedangkan untuk menghasilkan 30 juta ton sagu hanya diperlukan lahan seluas satu juta hektar. Sebagaimana kita ketahui bahwa sagu dapat menggantikan peran beras untuk kebutuhan pokok manusia.

3.      Nipah
Indonesai memiliki daerah tanaman nipah seluas 10% atau 700.000 ha dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha. Penyebarannya meliputi wilayah kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Populasi tanaman nipah diperkirakan sekitar 8.000 pohon/ha, sehingga dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5,6 miliar pohon. Dari jumlah tanaman yang ada per hektar, jumlah malai (tangai bunga) yang dapat dihasilkan sekitar 10% atau sekitar 800 tangkai bunga. Jika pemeliharaan dan perawatannya intensif, persentase jumlah malai meningkat sekitar 40% atau sebanyak 3.200 tangkai bunga. Tanaman nipah menghasilkan nira yang diperoleh dari hasil sadapan tangkai bunga (malai). Komposisi nira nipah menagndung kadar gula (Brix) 15-17%, sukrosa 13-15%, gule pereduksi 0,2-0,5%, dan abu 0,3-0,7%.  Nira tersebut dapat diolah emnajdi gula, baik  dinuat sebagai gual merah, gual semut, gula pasir, maupun sirup. Di Malaysia dan Filipina nira nipah selain diolah  menjadi gula juga diolah menjadi vinegar, cuka dan alkohol.

4.    Biji Kepuh (Sterculia foetida)
Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan sebagai bahan konsumsi  seperti halnya minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga mampu tumbuh dengan mudah  di lahan kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di seluruh Nusantara (Heyne, 1987).

5.    Biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour)
Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.







   

Minggu, 27 Maret 2016

Dampak Alih Fungsi Lahan

Dampak Alih Fungsi Lahan Hutan 

Indonesia dikenal dengan julukan negara agraris. Berbagai macam jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat ditemukan di Indonesia.  Luas lahan pertanian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2014 adalah 41,5 juta hektar. Terdiri dari 567 ribu hektar tanaman hortikultura, 19 juta hektar tanaman pangan, dan 22 juta hektar tanaman perkebunan. Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan penduduk terpadat ke empat di dunia. Berdasarkan data CIA World Factbook tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia 225.993.674 jiwa atau sekitar 3,5% dari keseluruhan jumlah penduduk Dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Mulai dari minyak bumi, batu bara, emas, timah dan lain sebagainya yang berada di bawah bumi, sampai spesies-spesies yang langka dan tanaman perkebunan yang dapat ditemukan di permukaan buminya. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 47% mengungguli Malaysia di tempat ke 2 dengan 39%. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
Fakta diatas menunjukkan betapa kayanya Indonesia. Kalau melihat lebih dekat lagi dari mana kebutuhan lahan yang dapat menampung itu semua? Dengan desakan kepadatan penduduk yang kian tahun kian meningkat untuk areal pemukiman, dengan kebutuhan perekonomian yang menghidupi ratusan juta rakyat Indonesia, dengan tuntutan pembangunan infrastruktur yang menjadi ikon kemajuan suatu daerah, dengan berbagai alasan mengundang investor untuk berinvestasi demi kemajuan daerah. Sementara kita ketahui bahwa seiring meningkatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diiringi dengan pertambahan lahan untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Lantas bagaimana cara pemenuhan kebutuhan tersebut? Ya, cara yang paling ampuh adalah cara mengalihfungsikan lahan. Baik mengalihkanfungsikan lahan hutan menjadi areal pertanian, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal pertambangan, mengalihfungsikan lahan hutan menjadi areal perkebunan, dan mengalihfungsikan lahan hutan atau lahan pertanian menjadi areal pemukiman. Dari kasus ini yang paling banyak dialihfungsikan adalah areal hutan.
Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia. Menurut buku tersebut, Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola setiap jamnya. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun. Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar (Sumber : Kompas.com).
  Deforestasi (penebangan hutan) menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal, 80 persen keanekaragaman hayati terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman pemanasan global. Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia menyangkut berbagai permasalahan yang saling terkait, termasuk perampasan dan penguasaan hutan, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan hasil hutan ilegal, dan kemiskinan. Pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen secara mandiri dan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2020. Pemerintah Indonesia menegaskan kembali janji tersebut minggu ini dalam sebuah pertemuan antara pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta perwakilan dari lembaga internasional.
Sebagaimana kita ketahui bahwa hutan berfungsi sebagai penyeimbang fungsi ekosistem. Peranan hutan sangat penting dalam sistem penyangga kehidupan. Hutan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air yang baik, sebagai habitat bagi flora dan fauna, mengurangi polusi pencemaran udara, sebagai penyubur tanah, sebagai paru-paru dunia dengan menyuplai oksigen untuk kehidupan, sebagai penahan erosi dan lain sebagainya. Ada anekdot mengatakan bahwa forest is the mother of agriculture, artinya hutan sebagai penyeimbang fungsi pertanian dengan menyuplai air untuk pertanian tersebut. Namun bisa dibayangkan dengan kondisi hutan kita sekarang yang maraknya dialihfungsikan ke bentuk lain akan menyebabkan fungsi hutan terganggu. Boleh kita lihat bencana alam dimana-mana, seperti banjir, erosi, tanah longsor, pemanasan global yang banyak diisukan oleh dunia internasional. Berapa banyak kerugian negara akan kasus ini?. Itu baru kasus yang berkaitan dengan alam, belum lagi akhir-akhir ini banyak terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan terkait alih fungsi lahan hutan ini. Konflik yang terjadi kebanyakan mengorbankan masyarakat kecil, bukan hanya harta bahkan nyawa pun terkorbankan.
Alih fungsi kawasan hutan memang diperbolehkan Undang-Undang. Hanya ada aturannya. Pasal 19 ayat (1), UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyatakan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. Namun, alih fungsi hutan tentu tidak boleh dilakukan secara sembarang. Jika alih fungsi hutan ini berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, maka harus ditetapkan oleh pemerintah dan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Yang dimaksud dengan berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis ini adalah adanya perubahan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan gangguan tata air serta adanya dampak sosial masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang. 

Hingga saat ini pemerintah telah memberikan solusi akan masalah alih fungsi lahan ini, seperti menerapkan denda untuk penebangan hutan dan hukum pidana. Ketentuan pidana yang di atur dalam Pasal 50 dan sanksi pidananya dalam Pasal 78 UU No. 41 / 1999, merupakan salah satu dari upaya perlindungan hutan dalam rangka mempertahankan fungsi hutan secara lestari. Maksud dan tujuan dari pemberian sanksi pidana yang berat terhadap setiap orang yang melanggar hukum di bidang kehutanan ini adalah agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar hukum di bidang kehutanan (penjelasan umum paragraph ke 18 UU No. 41 / 1999). Efek jera yang dimaksud bukan hanya kepada pelaku yang telah melakukan tindak pidana kehutanan, akan tetapi kepada orang lain yang mempunyai kegiatan dalam  bidang kehutanan menjadi berpikir kembali untuk melakukan perbuatan melanggar hukum karena sanksi pidananya berat. (Fathur Rahman).

Selasa, 10 Juni 2014

Kenangan Selama sekolah di SMAN 1 Bangko



CATATAN PENGALAMAN SEWAKTU SMA


            Ujian nasional selesai sudah,hasil kelulusan pun sudah diketehui,kami angkatan 2010/2011 dinyatakan lulus semua oleh Kemendikbud melalui kepala sekolah,ungkapan rasa syukur,haru dan tagis bahagiapun menyertai hasil perjuangan yang telah kami perjuangkan selama 3 tahun di SMPN 1 ATAP Sungai Panji-Panji Kecamatan Kubu ( sekarang sudah menjadi Kecamatan Kubu Babussalam).

            Dengan berjumlah 26 siswa/i yang lulus,kami semua bertekad untuk melanjutkan ketingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu ke jenjang SMA/SMK.dengan latar belakang keluarga yang berbeda dan selera yang berbeda kamipun  akhirnya berpisah,ada yang memilih sekolah yang ada di kecamatan Kubu dan Kubu Babussalam,ada yang memilih untuk melanjutkan ke daerah Sumatra Utara sana,ada yang memilih di sekolah di Bagansiapiapi,Balam dll.

            Setelah mempertimbangkan berbagai keputusan dan arahan dari orang tua,keluarga,sanak saudara dan teman teman akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMAN 1 Bangko Bagansiapiapi.Alasan saya ingin sekolah disana karena anjuran orang tua saya dan selain itu sekolah SMAN 1 bangko katanya adalah sekolah favorit di Bagansiapiapi,rasa penasaran akan sekolah itu semakin dalam apalagi saya belum pernah sama sekali melihat dan mengenal keadan sekolah itu. Atas dasar itu saya pun berangan angan seandainya saya tidak diterima disekolah itu maka saya akan melanjutkan ke Madrasah Aliyah Rantau Panjang Kiri Kecamatan Kubu Babussalam untuk menimba ilmu agama.
            Penerimaan murid baru di SMAN 1 Bangko sudah dimulai,selang beberapa hari dari itu,kakak saya Rida Laila mendaftarkan saya kesekolah itu dengan membawa persyaratan yang dibutuhkan dan saya tidak ikut pada waktu itu. Pendaftaran  sudah selesai dan menunggu hasilnya beberapa hari kemudian,menjelang pengumuman hasil pendaftaran tersebut,saya pun mempersiapkan mental dan diri untuk berpisah dengan orang tua dan keluarga. Saya menyadari ini adalah pengalaman pertama untuk merantau kenegeri orang,saya tidak mengenal sekolah tersebut,saya tidak mengenal Bagansiapiapi,pergi kesanapun hanya beberapa kali. Dengan rasa bimbang saya memtuskan harus siap.
            Hari yang ditunggu tunggu telah tiba, hari itu adalah hari pengumuman diterima atau tidaknya siswa/i yang mendaftar di sekolah itu. Dari kubu saya bersama abang sepupu namanya Muammar pergi ke Bagansiapiapi menggunakan sepeda motor untuk melihat hasil pengumuman itu. Setelah sampai disana,kami langsung menuju ke SMAN 1 Bangko,dalam hati saya berkata,,(wwaahh sungguh megah sekolah ini,dengan gedung depannya berlantai 3 dan memakai kubah,tak sia sia kalu bisa masuk kesini) maklum baru pernah lihat sekolahnya,hehehe,,,kamipun sibuk mencari nama saya di daftar nama pengumuman itu,setelah sekian lama mencari dan tidak ketemu  timbullah rasa curiga bahwa saya tidak diterima disekolah itu,rasa kecewa mulai datang ( dalam hati bersyukur,,yess akhirnya ngak pisah dengan orang tua = D ),namun nasib berkata lain,setelah dicek lagi nama saya ada di daftar pengumuman yang ada di bagian belakang halaman sekolah dan dinyatakan diterima,,,jjjrreeenggggg  perjuangan dimmmulaiiii,,,,dengan membaca ketentuan syarat daftar ulang hatipun semakin kacau balau,mulai hari itu dan hari hari berikutnya Proses MOS ( masa orientasi siswa.red ) dan proses pemblajaran dimulai,,,

            Saya beranggapan dengan melihat pengumuman itu saya masih punya kesempatan untuk pulang ke Kubu ( sekarang Kubu Babussalam ) untuk membawa perlengkapan sekolah dan perlengkapan lainnya serta berpamitan dengan keluarga dan teman teman. Namun anggapan saya percuma,anggapan saya ditepis oleh jadwal yang padat untuk kegiatan MOS. Sejak awal berangkat dari Kubu saya hanya membawa baju di badan dan berkas persyaratan pendaftaran, saya tidak ada membawa peralatan lainnya…

            Setelah mendengar arahan dari abang sepupu “Hur,elok usah balik kau lai,tanggung betuul kau nak balik,bialah aku suang balik ke Kubu,isuk bia dikiim perlengkapan sekolah kau” dengan rasa ingin menangis,perasaan hati bimbang,perlengkapan  untuk disini belum ada,pamit sama orang tua dan teman teman belum juga,,aaaaaa kejadian yang tidak disangka sangka.

           Pendek ceritanya saya pun menginap dirumah Kakak sepupu saya namanya Nurjannah,kakak sepupu saya ini sudah berkeluarga nama suaminya Heri Sutrisno mereka tinggal di jalan bawal Bagansiapiapi, setelah 6 bulan disana mereka pindah dijalan Madarasah Gg Cahaya. Mereka sangat berjasa dalam masa masa pendidikan saya karena selama sekolah disana saya tinggal bersama mereka selain itu dalam urusan urusan sekolah mereka sangat banyak membantu,termasuk untuk memasukkan saya di sekolah itu. Terima kasih Kak,Mas atas kebaikannya,,

Masa MOS dimulai,saya menyadari saya tidak mengenal seorang pun disekolah itu,teman tak punya,saya kelihatan seperti orang bodoh yang memberanikan diri ( sebenarnya saya orangnya pandai,hahaha ). Proses adaptasi dimulai,saya duduk sendirian di pot bunga yang ada di tepi halaman sekolah sambil kebingungan. Terlintas dipikiranku untuk pulang ke Kubu,rasanya sudah tak tahan lagi,apalagi proses penyusuaian itu butuh proses lama,,,,setelah duduk sekian lama di pot bunga tersebut,akhirnya nama saya dipanggil untuk pembagian lokal MOS,,disana saya mulai memperkenalkan diri kepada yang lainnya dengan menyalaminya satu persatu orang yang ada disana,” kenalkan saya Fathur Rahman”.diproses MOS saya bertemu dengan teman yang sangat akrab sampai sekarang,namanya Anggi Pratama.

Setelah proses MOS berakhir dilanjutkan dengan TKD ( Tes Kemampuan Dasar.red ) sebagai kriteria masuk kesekolah itu dan hasilnya saya tidak lulus di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan akhirnya saya dituntut untuk mengikuti les selama 3 bulan disekolah itu,dan dites kembali Alhamdulillah saya lulus. 

Tahap pembagian kelas pun dimulai,saya menduduki kelas X.8 ( wali kelasnya Ibu YENI DESVITA.S.Si,M.Pd ). Setahun berikutnya saya naik kekelas XI IPA 3 ( wali kelasnya Ibu LENI NELINAWATI S.Pd ) dan  setahun berikutnya lagi saya naik kekelas XII IPA 3 ( wali kelasnya Ibu Afrida Afdalnahri S.Pd )

Dikelas X.8 proses pengenalan kepada guru guru dan teman teman semakin berkembang pesat,dan saya mempunyai inisiatif untuk mengikuti berbagai macam Ekstarkulikuler hal ini saya lakukan untuk menambah pengetahuan dan mengoleksi banyak teman,saya berprinsip harus mencari banyak teman,apalagi kita jauh dari kelurga,jadi teman sangat membantu untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Dengan memiliki sifat itu,akhirnya Saya terpilih menjadi ketua kelas selama setengah semester menggantikan Tri Mukhti Puja kesuma,,hehehe. Kelas X.8 wali kelas kami adalah Ibu YENI DESVITA.S.Si,M.Pd guru mata pelajaran Biologi,Bahasa Inggris dan Geografi

Oke,,saya lanjutkan ceritanya lagi,,setahun bersama dikelas X.8 akhirnya kebersamaan itu dipisahkan oleh waktu yang tanpa pandang bulu memberikan jatah waktunya kepada manusia. Kami pun berpencar mencari jatah masing masing kursi berdasarkan criteria nilai yang diproleh selama kelas X serta bakat dan minat untuk menduduki kursi dari XI IPA 1 – XI IPA 4 dan XI IPS 1 – XI IPS 5. Dan akhirnya Saya  menduduki kelas XII IPA 3. 

Ada  rasa aneh dikelas itu,proses adaptasi dengan lingkungan juga masih dibutuhkan disini,biasanya setiap belajar pagi,sayai melihat muka teman teman yang sudah biasa di lihat, tapi kali ini pemandangan itu berubah bagaikan pemandangan disore hari yang hilang ditelan oleh kegelapan malam. Suasana di dalam kelas berubah,masing masing orang hanya berkumpul dengan teman sekelas diwaktu kelas X nya. Melihat  keadaan itu saya pun tak mau kalah dengan teman yang lain,saya langsung mencari teman sekalas saya diwaktu kelas X,kalau tak salah ada 6 orang kami berasal dari X.8 hahahaha,,,seperti kompetisi aja.

Setelah wali kelas masuk kekelas,saya juga merasa aneh,karena guru ini juga tidak saya kenal karena tidak ada mengajar sewaktu kelas X lalu,tetapi saya hanya mengenal mukanya,bahwa guru ini adalah guru SMAN 1 Bangko. Ternyata guru itu bernama Ibu Leni Nelinawati S.Pd yang mengajar mata pelajaran Biologi,selain tegas ibu itu juga terkenal dengan disiplinnya yang tinggi,memang saya akui guru yang paling disiplin adalah guru Biologi,hal itu saya kenal mulai dari kelas X – XII.

Hari demi hari berlanjut,suasana keakraban mulai terlihat dan saling mengenal antara satu sama yang lain,kelihatanya sudah tidak ada kelompok kelompok yang meresahkan pemandangan kelas. Dikelas XI IPA 3 jumlah cowok awalnya berjumlah 9 orang,lama kelamaan jumlah itu berkurang perlahan lahan dan akhirnya menjadi 7 orang dan sisanya adalah cewek semua dari 33 orang. Nama nama cowoknya adalah ( Fathur Rahman,M.fiqron Nasywan,Agung Torto Nadi,Bakhtia Rokanda,Kurnia Ramadhan,Juwanda Hasbi dan Ridho Mulyo ) untuk yang ceweknya mohon maaf tidak bisa disebutkan satu persatu.

Banyak pengalaman yang rasakan dikelas itu,yang paling berkesan adalah saat ada event pertandingan PBB ( persatuan baris berbaris ) dan acara English Day. Diacara  tersebut rasa kekeluargaan sangat terlihat dengan kekompakan untuk menyukseskan acara tersebut. Semua ide yang ada dibenak kami,kami ajukan semua untuk mementapkan Persiapan acara tersebut. Tidak terduga acara itu secara bersamaan kami laksanakan dengan ketentuan pagi harinya kami melaksanakan English Day dan sore harinya kami mengikuti pertandingan PBB yang diadakan oleh Passus LMP. Alhamdulillah dengan persiapan yang mantap kedua acara tersebut dapat dilaksanakan dengan hasil yang sangat memuaskan, English Day berlangsung sukses dan pertandingan PBB kami menduduki Juara 3 se SMAN 1 Bangko.


 English Day kelas XI IPA3

 Pertandingan PBB Kelas XI

Lagi lagi masalah waktu,waktu terasa lebih cepat mengakhiri kebersamaan dikelas XI IPA 3. Memang itulah tugas waktu yang mempertemukan dan memisahkan,,Tak terasa kamipun sampai di ujung masa masa SMA yaitu sampai dikelas XII IPA 3,tapi tenang,,jangan panik,,,proses adaptasi tidak dibutuhkan lagi,karena memang sudah peraturannya kalau sudah memilih jurusan maka selanjutnya akan tetap dijurusan itu,artinya tidak dipisahkan lagi dengan teman satu lokal.

Memang benar kata kakak kakak kelas terdahulu,masa sulit di SMA ada dikelas XII dan masa yang menyenangkan itu ada dikelas X dan kelas XI. Dikelas XII tugas sangat banyak,mulai dari tugas individu sampai tugas kelompok,seakan kepala ini mau pecah akibat kebanyakan memikirkan tugas,tugas dan tugas belum lagi proses belajar sampai sore hari karena untuk mempersiapkan Ujian Nasional.

Dan kami sangat beruntung memiliki guru guru yang sangat peduli kepada kami sehingga dalam pengerjaan tugas tersebut dapat berjalan dengan lancar,terlebih lagi kami mendapatkan wali kelas yang sangat cantik dan baik hati yaitu Ibu Afrida Afdalnahri S.Pd yang mengajar bidang studi Bahasa Indonesia,seluruh perhatiannya ia tumpahkan kepada kami yang sedang dilanda kegalauan menghadapi Ujian Nasional. Adanya perhatian tersebut seakan menjadi angin segar kepada kami untuk tetap bersemangat  menghadapi ujian nasional dengan cara memberikan motivasi dan kedekatan kepada murid muridnya. Terima kasih Bapak dan Ibu guruku atas jasamu….


 Keakraban Wali Kelas bersama kami

Meskipun kegiatan belajar terbilang padat namun kami masih sempat melaksanakan English Day yang memang pada saat itu adalah jadwal kelas XII IPA 3 untuk melaksanakannya. Dengan mempersiapkan diri sematang mungkin dan semangat yang berapiapi kami rela sampai larut malam memikirkan ide ide cemerlang untuk acara ini,tak peduli hari mau hujan,perut lapar dan sebagainya kami terus mempersiapkan diri dengan bimbingan Ibu Afrida Afdalnahri S.Pd. kami tau ini adalah penampilan kami yang terakhir disekolah ini, oleh karena itu kami ingin memberikan penampilan terbaik kami yang berkesan untuk adik adik kelas dan para Bapak Ibu guru. Namun sayang dengan tidak menyalahkan takdir kami harus rela terhenti pada pertengahan acara karena ada kendala yang tak terduga yaitu laptop operator tiba tiba rusak,,suasana hiruk pikuk dari teman kelas lain dan adik kelas terus menggesa kami untuk menentaskan pertunjukan itu,memang banyak yang menilai acara kami itu memang sangat bagus,,,tapi apalah daya,pertunjukan itu harus terhenti sampai disitu, rasa sedih dan kecewa menyelimuti hati kami bahkan ada yang mencucurkan air mata,saling berpelukan diantara teman teman cewek.,rasa ini tak habis fikir dengan pengorbanan yang panjang ternyata harus terhenti dengan laptop yang rusak,,,ingin rasa menangis melihat suasana itu tetapi dengan kesabaran dan ketabahan kami hal itu dapat juga berlalu dan menjadi kenangan yang indah untuk diingat.

  
Acara English Day
 
Tak menyerah sampai disitu,pada acara ulang tahun emas SMAN 1 Bangko yang ke 50, kelas kami diajak oleh wali kelas untuk mengisi acara Drama Kabaret sejarah SMAN 1 Bangko yang rayakan setiap setahun sekali itu,dengan dibantu dengan beberapa teman kelas yang lainnya. Persiapan juga dilakukan dengan matang bahkan untuk mempersiapkan itu semua kami rela tidur jam 5 subuh,,,tetapi pada akhirnya juga tidak berjalan dengan baik,pertunjukan kami baru bisa dimulai setelah orang sudah hampir bubar semua dikerenakan hujan lebat. Namun itulah nasib kelas kami yang hampir selalu gagal,mudah mudahan menjadi pembelajaran yang bermakna dikemudian hari.

Ditengah tengah kesibukan untuk mempersiapkan segala sesuatu menghadapi ujian nasional dengan tiba tiba “sudden death” rasa ini menyukai tingkah laku seseorang yang ada dikelas itu,awalnya tidak memiliki rasa apa apa,tetapi setelah berkenalan dekat dengannya rasa ini makin bergelora,,tambahan semangat itu datang lagi,dengan melihatnya dari kejauhan seakan membakar rasa malas yang ada di tubuh ini,sungguh indahnya masa masa itu,,,,,,

Ujian Nasional semakin dekat berbagai persiapan telah dilakukan mulai dari trobosan,belajar malam,menghompak batu balak 6 di warung heci hahahaha,,semuanya telah dilakukan dan pada akhirnya waktu itu pun tiba tanpa bisa dielakkan lagi dan Alhamdulillah puji syukur kepada Allah kami siswa/siswi SMAN 1 Bangko tahun ajaran 2013/2014 lulus 100%. Hal ini tidak terlepas dari bimbingan Bapak / Ibu guru dan kepala sekolah dalam mendidik kami semua,,terima kasih Bapak/Ibu guru,sungguh mulia tugas kalian….

Selama menempuh masa pendidikan di SMAN 1 Bangko khususnya kelas X dan XI saya aktif berorganisasi diantara Organisasi yang pernah saya ikuti adalah PASSUS LMP ( pasukan Khusus Laskar merah Putih ) yang dilatih oleh Kakak Endos Sosavira dan Kakak Maisyarah Nasroen,selain itu saya juga aktif di PMR WIRA di Organisasi ini saya terpilih menjadi ketuanya tahun pelajaran 2012/2013 dibawah pembinaan Ibu Rita Oktora S.Ag dan Bapak Luhut Parlindungan S.Pd,saya juga mengikuti kegiatan  Pramuka DKR Bangko,PIK R dan RESAPHAN ( Remaja Sehat Peduli HIV/AIDS dan Anti Narkoba ) dibawah naungan KPA dan BNK kabupaten Rokan Hilir.

Dengan diketahuinya hasil kelulusan itu maka berakhirlah masa pendidikan saya selama di SMAN 1 Bangko dan berakhir juga tinggal berasama Kak Iyun dan Bang Heri serta Kak Ijum yang selalu mensupport saya untuk melakukan hal yang baik. Ucapan beribu ribu terima kasih kepada mereka yang berperan dalam masa pendidikan saya terlebih lagi kepada orang tua dan keluarga,,,terima kasih semuanya jasa kalian akan aku ingat selalu…….Aku akan merindukan masa masa indah bersama kalian teman teman,,canda tawa,suka duka,menyontek bersama,PR selalu tak siap,kekantin saat jam pelajaran dan masih banyak lagi hal hal yang indah yang kita ukir bersama,,,,,,TAMAT
Kubu Babussalam 10 Juni 2014
FATHUR RAHMAN.
                                                                                           

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification
Downloaded from Free Templates